Sejumlah Usaha Kuliner di Pelabuhan Bakauheni Tutup
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Sejumlah pemilik kuliner di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) memilih menutup usahanya karena sepi konsumen dimana arus perjalanan penumpang dan armada asal Sumatera tujuan Jawa dan sebaliknya makin sepi.
Aminah, salah satu pemilik usaha penjualan oleh-oleh dan warung nasi di terminal antarmoda Pelabuhan Bakauheni bahkan telah menutup usahanya sejak sebulan silam.
Sepinya jumlah penumpang asal Sumatera tujuan Jawa dan sebaliknya membuat konsumen berkurang. Berkurangnya jumlah pelanggan diakuinya faktor pengurangan armada bus, travel, angkutan pedesaan. Sebab pengemudi dan kru kendaraan merupakan pelanggan tetap pada warung makan miliknya.
Memasuki awal puasa Ramadan berbarengan dengan larangan mudik berimbas usahanya sepi. Ia memilih menutup usahanya karena biaya operasional cukup tinggi untuk sewa dan membayar karyawan. Kantin makan serba sepuluh ribu (Serbu) dan kantin penjualan kerupuk kemplang, kopi bubuk , makanan ringan dan minuman ringan pun ditutupnya.
“Awalnya penutupan usaha kuliner imbas dari masa pandemi corona jumlah penumpang berkurang, lalu ada larangan mudik berbarengan puasa Ramadan membuat usaha kuliner saya tidak ada pembeli,” terang Aminah saat ditemui Cendana News di Bakauheni, Sabtu (25/4/2020).
Aminah menyebut dalam kondisi normal ia masih bisa menjual sekitar 300 porsi nasi bungkus. Selama masa pandemi corona pada awal Maret ia bahkan mulai mengalami penurunan jumlah porsi hanya mencapai sekitar 100 porsi. Nasi bungkus dengan lauk ikan goreng,ayam goreng dan berbagai lauk kerap dibeli oleh pengemudi,pengurus jasa travel. Kini ia terpaksa menutup usahanya hingga batas waktu tidak ditentukan.

Pada kondisi normal tahun sebelumnya saat bulan Ramadan ia masih bisa menjual berbagai oleh-oleh. Jenis oleh-oleh yang dijual meliputi kerupuk kemplang,kopi,keripik hingga sekitar 300 bungkus perpekan. Semenjak penumpang sepi dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya tak satu pun konsumen membeli barang dagangannya.
“Konsumen yang biasanya banyak saat ini sama sekali tidak ada sehingga saya memilih tutup,” bebernya.
Pemilik kantin lain bernama Sidik menyebut mengaku telah menutup usahanya sejak dua pekan silam. Pada kondisi normal saat bulan puasa ia mengaku konsumen masih tetap stabil. Sebab sejumlah pengemudi travel, bus, pengurus jasa penyeberangan yang tidak menjalankan puasa tetap makan di kantin miliknya.
Sidik mengaku mengambil sejumlah alat masak untuk dibawa pulang. Sebab ia berniat tidak akan membuka kantin hingga hari raya Idul Fitri. Pandemi corona menurutnya mengakibatkan penumpang kapal dan kendaraan berkurang. Tetap berjualan tanpa ada konsumen yang membeli menurutnya hanya akan mengeluarkan biaya operasional.
“Lebih baik saya tutup hingga menunggu kondisi membaik agar saya bisa kembali membuka kantin,” bebernya.
Pengurangan jumlah penumpang juga mempengaruhi usaha penjualan isi ulang (top up) saldo. Maharani, salah satu petugas penjualan tiket menyebut sebelum diberlakukan tiket online 1 Mei 2020 mendatang ia tetap menjual tiket elektronik. Pada kondisi normal sebelum pemberlakuan larangan mudik ia mengumpulkan sekitar 200 struk pembelian tiket.
“Normalnya bisa mencapai 500 tiket per hari warga yang isi ulang saldo uang elektronik, kini hanya 20 orang perhari,” cetus Maharani.
Maharani menyebut warga enggan melakukan perjalanan jika tidak dalam kondisi penting. Meski adanya larangan mudik ia tetap melayani penjualan tiket elektronik yang selanjutnya dipakai konsumen membeli tiket online di-aplikasi. Sebagian warga yang tidak memiliki aplikasi harus membeli melalui aplikasi www.ferizy.com.
Penurunan pembelian tiket elektronik diakui Maharani sangat terasa semenjak Jumat (24/4/2020). Sejumlah penumpang pejalan kaki yang tetap menyeberang menurutnya dominan hanya akan ke Banten. Sebab sebagian besar warga yang akan membeli tiket harus menyertakan KTP elektronik. Ia menyebut penjualan saldo uang elektronik akan dihentikan pada 1 Mei mendatang karena pembelian harus online.