Manis dan Gurih, Jenang Tabur Wijen Cocok untuk Takjil

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Saat berbuka puasa, kita dianjurkan untuk minum dan makan yang manis untuk mengembalikan stamina tubuh. Karenanya jenang wijen banyak dibuat oleh masyarakat Banyumas sebagai pilihan hidangan takjil berbuka puasa.

Rasa manis berpadu dengan gurih, membuat jenang ini banyak digemari masyarakat. Ukurannya yang mini juga pas untuk camilan.

Jenang tabur wijen merupakan salah satu makanan khas Banyumas. Produk yang terkenal adalah jenang jaket, yang banyak di jual di Kelurahan Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur. Namun, di luar kawasan pusat jenang jaket tersebut, masyarakat juga banyak yang menjual, bahkan dengan harga yang lebih murah.

Jenang wijen ini juga banyak dijual di Pasar Wage Purwokerto, tentu namanya bukan jenang jaket, tetapi orang lebih sering menyebutnya jenang wijen.

Sumiyati, penjual jenang wijen di pintu masuk Pasar Wage Purwokerto, Sabtu (25/4/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Salah satu penjual jenang wijen di pintu masuk Pasar Wage, Sumiyati mengatakan, ia menjual dua jenis jenang wijen, yaitu rasa gula jawa yang berwarna coklat dan rasa pandan yang berwarna hijau. Biasanya, memasuki bulan puasa penjualan jenang wijen meningkat. Namun, dalam situasi pandemi Covid-19 ini, penjualannya masih sepi, bahkan cenderung turun.

“Biasanya produksi sehari sampai 5-8 kilogram dan saat masuk bulan puasa, bisa meningkat dua kali lipat. Tetapi sekarang justru sangat sepi,” kata Sumiyati, Sabtu (25/4/2020).

Selain untuk dikonsumsi sendiri, jenang wijen juga sering dijadikan oleh-oleh atau hantaran untuk saudara. Sebab, jenang ini tahan lama, bisa bertahan kurang-lebih sampai satu minggu.

Pembuatan jenang wijen sebenarnya mudah, hanya membutuhkan waktu lama untuk merendam beras ketan, yaitu sekitar 8 jam. Sehingga proses pembuatannya dimulai sejak malam hari.

Sumiyati bertutur, bahan pembuatan jenang wijen terdiri dari beras ketan, santan, gula jawa atau daun pandan untuk rasa pandan, kemudian biji wijen yang disangrai terlebih dahulu.

“Beras ketan direndam dahulu semalaman, kemudian dihaluskan bersama santan dan baru dimasak. Kalau adonan mulai mengental, baru dimasukan gula jawa dan sebagainya. Setelah masak, baru biji wijennya dicampurkan,” tuturnya.

Salah satu pembeli, Anjarwati mengatakan, ia sangat suka jenang wijen, karena manis-gurih dan tanpa bahan pengawet. Ia mengaku lebih memilih makanan tradisional untuk takjil buka puasa.

“Lebih suka makanan tradisional untuk berbuka, sehat dan tanpa bahan pengawet. Makanan tradisional ini juga mengingatkan saya waktu masih anak-anak, jaman kita dulu kan jajannya tradisional semua,” katanya.

Lihat juga...