Permintaan Gentong Tanah Liat di Lamsel, Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masyarakat di Lampung Selatan memilih menggunakan gentong dari tanah liat sebagai tempat air untuk cuci tangan, yang saat ini digencarkan untuk mencegah penularan Covid-19. Alhasil, perajin dan pedagang gentong tanah liat pun mengalami peningkatan permintaan.  

Ponidah, pembuat wadah gentong tanah di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, menyebut permintaan meningkat untuk tempat cuci tangan. Penggunaan gentong tanah liat menjadi pilihan agar ramah lingkungan.

Menurut Ponidah, pesanan gentong tanah liat diminati oleh sejumlah desa untuk menyiapkan tempat cuci tangan. Sejak Coronavirus Disease (Covid-19) melanda, pesanan gentong naik dua kali lipat dibanding hari biasa.

Semula pesanan gentong tanah liat hanya 30 buah per bulan. Sejak Covid-19 melanda, pesanan gentong bisa mencapai 100 buah per bulan.

Gentong tanah liat atau padasan digunakan untuk tempat cuci tangan di setiap rumah yang ada di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, dalam upaya program perilaku hidup bersih dan sehat, Rabu (29/4/2020). -Foto: Henk Widi

Pesanan gentong tanah liat atau padasan digunakan untuk tempat wudhu, kini juga  dipakai untuk tempat cuci tangan. Penggunaan gentong tanah liat, menurutnya banyak diminati karena tidak mengandung unsur plastik.

Meski terkesan kuno, namun wadah gentong tanah liat kembali dilirik oleh sebagian orang.

“Sebagian pemesan merupakan warga perorangan yang ingin menggunakan gentong tanah liat untuk tempat cuci tangan yang terjaga kebersihannya, dengan tetap memiliki tutup yang bersih,” terang Ponidah, saat ditemui Cendana News, Selasa (29/4/2020).

Cuci tangan dengan gentong, menurutnya juga lebih efesien dibandingkan menggunakan botol plastik. Gentong tanah liat buatannya memiliki kapasitas sekitar 15 liter.

Selain permintaan gentong, sejumlah peralatan yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga meliputi cowek, piring, kuwali, mpluk-mpluk. Bahan kebutuhan rumah tangga tersebut dibuat dengan proses pencetakan dan pembakaran.

Pembuat gerabah tanah liat lainnya, Robingah, menyebut gentong tanah liat kembali digemari. Penggunaan alat yang ramah lingkungan sebagai pengganti kemasan plastik memiliki nilai estetika yang unik.

Selain bermotif polos, sebagian gentong yang dibuat oleh pemesan kerap diberi hiasan motif hiasan bunga serta ukiran yang menarik.

Satu gentong tanah liat ukuran kecil, dijual mulai Rp30.000. Gentong ukuran besar Rp120.000 per buah, kerap dipergunakan untuk menampung air hujan. Di sejumlah wilayah yang sulit memperoleh air bersih, penampungan air hujan menjadi pilihan setelah proses pengendapan.

“Saat musim penghujan, gentong ukuran besar dimanfaatkan untuk mengendapkan air bersih, hasilnya lebih jernih,” bebernya.

Penggunaan gentong tanah liat digencarkan oleh Desa Pasuruan sebagai pengganti wadah plastik. Sumali, Kepala Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku menggunakan gentong tanah liat untuk wadah cuci tangan. Pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) diterapkan dengan menyiapkan tempat cuci tangan memakai gentong tanah liat.

Gentong tanah liat yang berfungsi sebagai alat cuci tangan sebagian telah ditempatkan di sejumlah rumah. Penempatan gentong tanah liat, menurutnya menjadi cara untuk melaksanakan perilaku hidup sehat dengan rutin melalukan cuci tangan.

Pada masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), cuci tangan menjadi kegiatan yang digencarkan.

“Penambahan gentong tanah liat akan digencarkan, saat ini pemerintah desa telah menambah sekitar ratusan gentong lagi untuk dibagikan kepada warga,” terang Sumali.

Penggunaan gentong tanah liat untuk cuci tangan atau padasan, menurutnya sekaligus bak penampungan air. Selain bisa dipergunakan untuk mencuci tangan, gentong tanah liat bisa dimanfaatkan untuk menampung air untuk menyiram bunga.

Gentong tanah liat yang ditempatkan pada sejumlah halaman warga, sekaligus sebagai penambah estetika rumah.

Lihat juga...