Perbaikan Perahu Jadi Pilihan Warga Lamsel Selama Pandemi Covid-19

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Usaha perbaikan dan pembuatan perahu baru jadi pilihan warga di Lampung Selatan di tengah Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), ditambah gelombang tinggi dan abu vulkanik usai erupsi Gunung Anak Krakatau.

Hendra, nelayan di pantai Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan perbaikan perahu dilakukan sebab nelayan tidak bisa melaut. Usai erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Jumat (10/4) hingga Sabtu (11/4) nelayan memilih istirahat karena gelombang tinggi dan abu vulkanik menganggu pernapasan dan membuat mata pedih.

“Saya kerap mendapat pekerjaan untuk perbaikan perahu dengan sistem borongan hingga selesai dengan upah ratusan ribu sesuai kesepakatan,” terang Hendra saat ditemui Cendana News, Selasa (14/4/2020).

Berprofesi sebagai nelayan sekaligus tukang perbaikan perahu Hendra menyebut semakin besar jenis perahu yang digunakan tukang perbaikan (reparasi) perahu banyak diperlukan. Satu perahu bagan congkel dibutuhkan hingga sepuluh tenaga kerja.

Proses perbaikan perahu menurutnya dilakukan dengan menggunakan kayu dan bambu. Pemilik kerap akan menyediakan bahan bahan tersebut sehingga tukang akan lebih mudah bekerja. Selama masa pandemi Covid-19 tugas memperbaiki perahu menurutnya bisa memberinya sumber penghasilan.

“Sebagai tukang untuk perbaikan perahu hasil yang diperoleh cukup lumayan untuk sumber penghasilan,” terangnya.

Toni Setiawan, pemilik bagan apung menyebut ia memilih mengupahkan perbaikan alat tangkap miliknya kepada sejumlah pekerja. Pekerja tersebut akan diupah secara borongan untuk tugas perbaikan bagian blong apung, kayu dan bambu. Rata rata perbaikan bagan apung untuk kerusakan skala besar membutuhkan biaya sekitar Rp4 juta.

“Pekerja kerap mencapai delapan orang dan bisa diselesaikan dalam waktu sepekan,” cetusnya.

Masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung di Indonesia sejak awal Maret juga dimanfaatkan warga di Desa Rangai Tritunggal. Udin, salah satu warga di desa tersebut mengaku semula bekerja pada pabrik. Namun imbas Covid-19 ia terpaksa dirumahkan dan sudah sepekan ikut bekerja membuat perahu.

“Saat ini pembuatan perahu masuk tahap penyambungan bagian lambung, sebagian membuat bagian haluan,” cetusnya.

Pekerja pembuatan perahu menurutnya mencapai sepuluh orang. Setiap pekerja memiliki tugas dipimpin oleh kepala tukang. Dengan sistem borongan ia menyebut rata rata bisa mendapat upah sekitar Rp75.000 perhari.

“Hasil itu cukup menjanjikan dibandingkan tidak ada pekerjaan lain,” tambahnya.

Meski bekerja dengan sejumlah rekan lain ia mengaku jaga jarak tetap dilakukan. Sebab sebelumnya usaha pembuatan perahu telah diimbau tetap mematuhi protokol kesehatan termasuk memakai masker selama bekerja.

Lihat juga...