Pemberlakuan PSBB di Kota Bekasi Mulai Efektif Hari ini
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
BEKASI — Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Bodebek, Jawa Barat, dimulai. Termasuk wilayah Kota Bekasi, berbagai titik perbatasan mulai dijaga ketat. Setiap kendaraan melintas diperiksa oleh petugas gabungan dari tiga pilar wilayah setempat.
Terpantau tiga pilar atau Forkopimda Kota Bekasi, meninjau langsung di pintu tol Bekasi Barat, sejak pukul 06.00 WIB. Terlihat Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol. Wijonarko dan Dandim 0507/Bks Kolonel Inf. Rama Pratama berjaga di gerbang tol exit Bekasi Barat 1 di jalan. A. Yani, kota Bekasi pada Rabu (15/04).
Bahkan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, turun langsung mengecek enam titik wilayah yang menjadi pemberlakuan PSBB. Meliputi, perbatasan Kecamatan Pondok Gede di Lubang Buaya (Cipayung, Jakarta Timur), perbatasan di Jl. Raya Jatiwaringin, Pintu toll masuk Jatiasih yang mengarah ke Jakarta, Perbatasan Jatisampurna – Depok di Jalan Pondok Ranggon, perbatasan pintu keluar toll jatiwarna dan terakhir di Exit Toll Bekasi Barat.
Sebelumnya telah disepakati penentuan titik perbatasan yang ada di Kota Bekasi yang menjadi penempatan lokasi PSBB yakni ada 32 titik di Kota Bekasi untuk proses 14 hari ke depan.
“Pemerintah sudah melakukan sosialisasi PSBB beberapa hari sebelum pemberlauan. Hari ini mulai efektif, saya harap masyarakat mematuhi aturan,” ungkap Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, Rabu (15/4/2020).
Dikatakan dalam penjagaan perbatasan melibatkan semua elemen seperti TNI POLRI, Satpol PP, Dinas Perhubungan serta Aparatur Sipil Negara (ASN) juga memonitoring di wilayah yang telah ditentukan.
Sementara, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat, Berli Hamdani Gelung Sakti menegaskan bahwa kunci keberhasilan PSBB di kawasan Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) adalah disiplin warga dan konsistensi rapid diagnostic test (RDT) masif.
Menurut Berli yang juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, RDT masif tetap akan dilakukan di kawasan Bodebek untuk memetakan penyebaran COVID-19.
“Untuk PSBB Bodebek, rapid test masif akan tetap dilanjutkan, bahkan mungkin dengan ekskalasi yang lebih besar, “ ujar Berli.
Berli menjelaskan, RDT masif dapat menunjang keberhasilan PSBB Bodebek karena tujuan kekarantinaan kesehatan tersebut adalah memutus rantai penularan, merawat dan mengobati penderita COVID-19.
Pemda Provinsi Jabar menyerahkan sepenuhnya teknis pelaksanaan RDT masif kepada pemda di kawasan Bodebek apakah tetap akan menggunakan sistem drive through atau dilakukan di puskesmas. Namun yang pasti, target sasaran tidak berubah yakni keluarga, orang dalam pemantauan (ODP), tenaga medis, serta kalangan yang profesinya rawan.

Sejauh ini Pemda Provinsi Jabar telah mendistribusikan sekitar 70 ribu alat rapid test ke 27 kabupaten/kota dan sekitar 1.000 sampel telah dipastikan melalui tes polymerase chain reaction (PCR) positif COVID-19.
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menargetkan 300 ribu tes rapid dilakukan atau 30 persen dari target RDT masif nasional yang mencapai 1 juta sampel. Berli menjamin Pemda tidak akan kekurangan alat RDT karena banyak menerima sumbangan dari komunitas, BUMN, dan swasta.
“Kita masih punya stok, karena masih ada bantuan seperti dari Buddha Tsu Chi sekitar 50.000 dan dari sumber lain,” sebut Berli.