Menikmati Minuman Teh Kelor Mai Sai Maumere
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Di tengah merebaknya pandemi Corona Covid-19, masyarakat mulai mengonsumsi berbagai jenis makanan dan minuman yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga bisa terhindar dari penyakit Corona yang kian mewabah.
Kelor atau Marungga merupakan salah satu jenis sayuran yang mudah dijumpai di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk di pulau Flores, dan banyak terdapat di hampir setiap halaman rumah maupun kebun penduduk.
“Potensi kelor ini sangat besar di Flores sehingga kami berpikir untuk mengolah kelor tersebut menjadi teh agar bisa dikonsumsi masyarakat,” kata A. Dian Setiati, GM PT. Langit Laut Biru, Bengkel Misi Keuskupan Maumere, kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (4/4/2020).

Dian sapaan karibnya, menyebutkan untuk mengolah daun kelor menjadi teh prosesnya sangat mudah hanya memang membutuhkan waktu untuk memilah daunnya yang butuh waktu lama.
Setelah dipetik, daun kelor berukuran kecil tersebut jelasnya harus dipisahkan dari tulang daunnya sehingga hanya tersisa daun kelor yang akan diolah menjadi teh untuk dikonsumsi.
“Daun kelor tersebut lalu diletakkan di wadah dan dijemur di terik matahari hingga benar-benar kering. Biasanya butuh waktu dua hingga tiga hari dijemur hingga kering,” ujarnya.
Setelah kering, tutur Dian, daun kelor dimasukkan ke blender lalu digiling hingga halus dengan menambahkan sedikit air. Baru setelah itu diangkat dan cairan tersebut dijemur kembali hingga kering.
Sesudah kering, bubuk daun kelor tersebut lalu dimasukkan ke dalam kemasan sesuai dengan ukurannya agar bisa didistribusikan atau dijual kepada konsumen sesuai ukurannya.
“Kami bisa memproduksinya seperti teh celup hanya saja tidak memiliki mesin untuk itu. Maka kami memilih membuat bubuk baru dimasukkan ke dalam kemasan plastik sesuai ukuran,” jelasnya.
Tek kelor produksi Bengkel Misi tersebut ucap Dian, dikemas dengan merek Mai Sai yang dalam bahasa Sikka artinya mari sudah. Dijual dengan harga yang sangat murah agar bisa dikonsumsi masyarakat bawah.
Teh kelor bubuk yang dikemas dalam kemasan plastik berukuran 50 gram sebutnya, dijual dengan harga Rp.7 ribu sementara ukuran 100 gram Rp.15 ribu, namun banyak yang membeli ukuran 50 gram karena harganya murah.
“Teh kelor diyakini memberikan nutrisi untuk tubuh, mengandung antioksidan serta membantu menurunkan kadar gula darah. Selain itu bermanfaat untuk menurunkan kolesterol serta melindungi tubuh dari keracunan arsen,” jelasnya.
Teh kelor juga tambah Dian, bermanfaat untuk membantu mengatasi kanker, baik untuk daya ingat, jantung, mencegah anemia, berpotensi mengatasi infeksi bakteri, dipercaya baik untuk wanita menopause dan untuk anak yang malnutrisi.
Sementara itu, Yakob Dala, salah seorang warga kota Maumere, kabupaten Sikka, NTT mengaku selalu mengonsumsi teh kelor untuk menyehatkan tubuh mengingat umurnya sudah di atas 60 tahun.
Yakob mengatakan, dirinya sudah terbiasa mengonsumsi kelor sejak kecil. Sebab sayur kelor mudah sekali didapat karena selalu ditanam di halaman rumah. Hampir setiap hari dimakan terlebih saat musim hujan.
“Kalau musim hujan sayur kelor hampir setiap hari kami konsumsi karena hanya sayuran itu yang mudah didapat dan tidak perlu biaya. Saat musim kemarau juga selalu ada apalagi musim hujan pohon kelor tumbuh subur,” pungkasnya.