KKP: Banyaknya Stok Ikan di TPI Harus Dimanfaatkan UMKM
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
JAKARTA — Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai, banyaknya pasokan ikan yang berada di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) akibat sulitnya transportasi, harus dapat dimanfaatkan maksimal oleh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
“Saat ini banyak ikan-ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang sulit untuk dijual karena keterbatasan transportasi. Hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh UMKM untuk mengolah ikan-ikan menjadi surimi dan produk perikanan lainnya sehingga menjadi lebih tahan lama,” sebut Sjarief Widjaja Kepala BRSDM KKP, Kamis (23/4/2020).
Guna membantu UMKM, pihaknya memberi Pelatihan diversifikasi olahan hasil perikanan di Balai Pelatihan dan Penyuluhan (BPPP) Medan. Hal tersebut guna membangkitkan industri rumah sebagai alternatif kegiatan ekonomi masyarakat perikanan ditengah wabah Covid-19.
“Dalam situasi seperti ini, banyak sekali usaha, terutama usaha harian yang mengalami tantangan. Pembatasan interaksi sangat dibutuhkan. Namun di balik itu, pendapatan masyarakat juga diperlukan,” ujarnya.
Dia berharap pelatihan yang diberikan bisa memberikan pengetahuan bagi para peserta untuk bisa membuka usaha sendiri di tengah situasi ekonomi yang sulit akibat wabah Corona.
“KKP memberikan pelatihan supaya teman-teman bisa mendapatkan pengetahuan sederhana sehingga bisa membuka usaha sendiri,” lanjut Sjarief.
Guna mendukung hal tersebut, KKP juga menyerahkan bantuan berupa peralatan-peralatan pengolahan sederhana yang bisa digunakan sebagai modal awal para peserta untuk memulai usaha di rumah.
Namun demikian ia tetap mengingatkan pengemasan cukup seadanya. Karena produk akan dipasarkan ke tetangga-tetangga ataupun masyarakat, di tengah banyak restoran dan rumah makan yang tengah tutup sehingga persaingan usaha pun berkurang.
Sejalan hal tersebut, Sjarief berharap agar peluang ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menghasilkan pendapatan tambahan.
“Peluangnya sangat besar. Dengan begitu, ibu-ibu bisa membantu para suami untuk mendapatkan penghasilan tambahan,” tutur Sjarief.
Sementara Kepala BPPP Medan, Mathius Tiku mengakui, pelatihan yang dilaksanakan adalah pertama kali dilakukan melalui sistem campuran yakni offline dan online. Hal itu dilakukan karena wilayah Medan , Sumatera Utara, sudah masuk dalam zona merah.
Selama dua hari para peserta dibekali pengetahuan untuk membuat surimi ikan, mengolah berbagai macam produk perikanan (bakso, nugget, pempek, siomay, kaki naga, dan mi ikan), serta pengetahuan tentang sanitasi dan higienitas produk perikanan.
Peserta merupakan masyarakat pelaku usaha di bidang pengolahan perikanan, pelatihan dilakukan dengan tetap memperhatikan aturan untuk menjaga physical distancing.