Kerja di Rumah Hasilkan Pakaian dan Masker Kain
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Imbauan kerja di rumah (Work from Home) tidak lantas membuat produktivitas menurun.
Ahmad Fauzi, salah satu penjahit di Desa Wai Sidomukti, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut tetap melayani pesanan pembuatan pakaian. Bersama Atun sang istri dan satu karyawan ia mengerjakan pesanan sejumlah seragam kerja, baju gamis dan berbagai jenis pakaian.
Masa tanggap darurat Coronavirus Disease (Covid-19) menurutnya tidak mengurangi jumlah pesanan. Pesanan terbanyak diakuinya berupa pakaian gamis, baju batik bagi siswa sekolah SMA untuk acara perpisahan.
Meski demikian pada masa pandemi Covid-19 sejumlah acara pernikahan yang dibatalkan membuat ia mendapat pembatalan pesanan.
Beruntung selama masa wabah Covid-19 ia mendapatkan pesanan pembuatan masker kain. Pesanan masker kain menurut Ahmad Fauzi berasal dari warga untuk pelindung wajah dan pernapasan cegah terpapar virus.
Pesanan juga berasal dari relawan yang membeli masker kain untuk dibagikan kepada warga yang kesulitan membeli alat pelindung pernapasan tersebut.

“Pesanan pakaian masih tertap saya terima karena sebagian akan digunakan satu hingga dua bulan ke depan, sebagian acara yang dibatalkan membuat pemesan memberi kelonggaran agar pesanan pakaian tidak harus cepat dibuat. Jadi waktu dialihkan membuat masker,” terang Ahmad Fauzi saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (5/4/2020).
Ahmad Fauzi menyebut imbauan tetap berada di rumah (stay at home), bekerja dari rumah (work from home), ibadah di rumah tetap dilakukan olehnya.
Tetap menjaga jarak aman antar keluarga atau physical distancing menurutnya tetap bisa dilakukan. Sebab selama melakukan kegiatan menjahit pakaian, masker kain pesanan meja jahit diatur jarak. Hand sanitizer serta tempat cuci tangan lengkap dengan sabun disediakan.
Meski tetap menerima sejumlah pesanan, Ahmad Fauzi mengaku terkendala sejumlah bahan baku. Sejumlah toko grosir bahan baku kain, benang, karet dan perlengkapan pembuatan pakaian membuat ia menggunakan stok yang ada.
Sejumlah tempat penjualan peralatan menjahit yang dihubungi via telepon menurutnya sementara tutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.
“Stok kain jenis tertentu masih ada namun ada bahan kain yang harus dipesan. Tapi tokonya tutup seperti di pasar Tanah Abang dan Bandar Lampung,” cetusnya.
Sebagai alternatif ia mengerjakan pesanan pembuatan masker kain. Rata-rata dalam sehari dibantu dua pekerja ia bisa membuat masker hingga 100 buah. Dari satu relawan saja ia memastikan mendapat pesanan sekitar 600 masker kain.
Sisanya pesanan masker kain diperoleh dari warga setempat yang tidak bisa membeli masker N95, masker kesehatan di sejumlah apotek selama pandemi Covid-19 berlangsung.
Pada pembuatan pakaian ia kerap mendapat upah dari jasa sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per stel. Namun dari pembuatan masker kain yang dipesan oleh relawan berbahan kain katun per lembar masker dijual Rp8.000.
Masker kain tersebut menurutnya dibuat ukuran anak-anak, dewasa laki-laki dan wanita yang memakai kerudung.
“Pesanan sesuai permintaan, meski ukuran kecil namun pembuatan masker cukup rumit sehingga harga sudah standar,” cetusnya.
Tetap produktif pada masa darurat Covid-19 menurutnya menjadi cara menghasilkan uang. Sebab selama masa tanggap darurat ia juga tidak bisa melakukan kegiatan di luar daerah.
Biasanya ia mempergunakan waktu untuk berbelanja barang kebutuhan menjahit di Pasar Tanah Abang. Kini ia menunda melakukan perjalanan jauh dan memilih menerima pesanan menjahit pakaian, masker kain.
Linawati dan Hermasrianti, relawan yang memesan masker kain menyebut ia tetap bisa melakukan hal positif bagi sesama. Bekerjasama dengan rekannya bernama Rumi yang menjadi tenaga kerja di Hong Kong ia melakukan langkah menyumbangkan masker kain.

Sebanyak 600 kain dan 4 liter disinfektan disumbangkan ke Desa Kemukus dalam upaya pencegahan Covid-19.
“Kepedulian rekan di luar negeri bagi warga di desanya ikut memberdayakan tenaga penjahit sehingga masih mendapatkan order,” cetus Linawati.
Linawati menyebut langkah konkret dalam upaya pencegahan Covid-19 bisa melahirkan solidaritas. Sebab dengan kepedulian para donatur untuk membuat masker kain ikut mencegah paparan virus.
Meski terbuat dari kain ia memastikan jenis yang digunakan berupa katun dan tessa efektif melindungi pernapasan.
Sebanyak 4 penjahit bahkan bisa mendapat penghasilan berkat order masker sehingga tetap produktif.