Kartini Masa Kini di Lamsel Lestarikan Kerajinan Gerabah

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kerajinan gerabah terbuat dari tanah liat menjadi sumber usaha bagi sejumlah wanita di Sidomulyo, Lampung Selatan (Lamsel). Salah satu Kartini masa kini yang tetap menjaga tradisi pembuatan kerajinan gerabah, yakni Ponidah.

Keahlian membuat kerajinan gerabah pada diri perempuan berasal dari Kasongan, Yogyakarta tersebut mengalir dalam darahnya hingga kini. Selain Ponidah, rekan wanita di desa tersebut memanfaatkan waktu menekuni kerajinan pengolahan tanah liat.

Membuat gerabah bagi sejumlah wanita di desa tersebut merupakan cara mencetak uang dari tanah liat. Tanah liat yang diperoleh dari wilayah kecamatan lain diantaranya Candipuro dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan peralatan rumah tangga.

Jenis jenis peralatan rumah tangga yang dibuat menurut Ponidah cukup beragam. Ia membuat pesanan kendil, cobek, wajan atau kreweng, padasan, gentong, goci, anglo, kuwali, mplok mplok dan asbak. Semua peralatan terbuat dari tanah liat menyesuaikan permintaan dari pelanggan. Ia memiliki dua jenis pelanggan meliputi konsumen langsung serta sejumlah pedagang keliling.

“Lancarnya pembuatan gerabah terbuat dari tanah liat karena sebagian masyarakat di pedesaan masih menggunakan peralatan tersebut untuk memasak terutama yang masih mempergunakan kayu bakar,” terang Ponidah saat ditemui Cendana News, Selasa (21/4/2020).

Proses pembuatan berbagai peralatan gerabah tersebut menurutnya dikerjakan secara manual. Tanah liat yang telah dihaluskan memakai alat molen menjadi bahan baku sejumlah peralatan. Pesanan paling dominan pembuatan gerabah menurut Ponidah dominan berupa cobek atau cowek. Alat yang menyerupai piring tersebut merupakan pesanan sejumlah pemilik usaha kuliner.

Pengerjaan berbagai jenis gerabah menurut Robingah dikerjakan di bagian belakang rumah. Lokasi dapur yang disulap menjadi tempat workhsop terhubung dengan longkangan atau halaman. Halaman tersebut menjadi tempat penjemuran memanfaatkan sinar matahari. Selanjutnya saat semua gerabah pesanan selesai dikerjakan lokasi tersebut bisa menjadi tempat pembakaran.

“Pengrajin gerabah didominasi oleh kaum wanita yang memanfaatkan waktu di rumah namun tetap produktif,” cetusnya.

Robingah, salah pembuat gerabah membentuk tanah liat menjadi kuwali sebelum pengeringan di rumahnya Desa Sidorejo Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan, Selasa (21/4/2020). -Foto Henk Widi

Robingah menyebut pada masa pandemi corona atau Covid-19 ia justru kebanjiran order. Order paling banyak menurutnya dalam pembuatan padasan atau tempat cuci tangan. Padasan yang sebelumnya kerap digunakan oleh sejumlah rumah di pedesaan itu semakin banyak diminta oleh sejumlah desa. Sebab upaya menjaga kesehatan melalaui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) digencarkan.

Sejak pertengahan Maret, Robingah menyebut menerima pesanan sekitar 100 padasan untuk satu desa. Dibantu sang suami bernama Sunaryo dan sejumlah wanita di desa tersebut pesanan diselesaikan. Satu hari sejak pagi ia menyebut bisa membuat sebanyak 10 padasan. Semakin banyak wanita yang membantu pembuatan padasan penyelesaian bisa dipercepat.

“Permintaan padasan meningkat ikut memberdayakan wanita di desa kami yang bisa bekerja agar pesanan cepat selesai,” tuturnya.

Sebanyak 100 padasan yang dijual Rp30.000 perbuah ia bisa mendapatkan hasil Rp3juta. Pembuat gerabah akan mendapatkan hasil yang cukup menjanjikan ketika ekonomi sedang sulit. Robingah juga menyebut dengan sistem bagi hasil untuk pembuatan gerabah ia bisa memberi sumber penghasilan bagi wanita yang ada di desa tersebut.

Wanita lain bernama Ponidah menyebut membantu proses pembuatan gerabah. Berasal juga dari Kasongan dan menetap di Sidomulyo ia tetap melestarikan pembuatan gerabah. Pekerjaan tersebut menurutnya didominasi oleh kaum wanita di desa tersebut. Ada sekitar lima wanita yang saat ini masih menekuni usaha pembuatan gerabah. Selain sebagai sumber penghasilan meski tetap kerja di rumah.

“Saat ini kami disuruh kerja dari rumah atau work from home tapi sejumlah wanita tetap produktif membuat gerabah,” tegasnya.

Berbagai jenis gerabah buatan Ponidah dijual dengan harga bervariasi. Harga jenis kendil dijual Rp15.000, cowek Rp3.500, kereweng Rp12.500, padasan Rp35.000, gentong Rp150.000, goci Rp100.000, anglo Rp20.000, kuwali Rp15.000,mplok mplok Rp5.000. Pesanan berbagai jenis gerabah itu sebagian rutin dipenuhi untuk memasok sejumlah warung.

Sebagai Kartini masa kini yang ikut menjadi tulang punggung keluarga, Robingah dan Ponidah mengaku tetap bertahan. Regenerasi pemuda yang tidak berkeinginan menjadi pengrajin gerabah membuat ia tetap bertahan. Sebagian wanita yang kini berusia sekitar 50 hingga 60 tahun bahkan masih bertahan menjadi pengrajin gerabah.

Sunaryo, suami Robingah mengaku ia sudah istirahat membuat gerabah. Namun ia tetap membantu istrinya menjemur gerabah yang selesai dibentuk, mencari jerami untuk membakar dan melakukan proses pembakaran. Sebelumnya sejak tahun 1990 ia kerap berkeliling menjual gerabah dengan cara dipikul. Kini pelanggan kerap datang langsung ke rumahnya untuk menjual gerabah ke konsumen.

“Pesanan gerabah yang banyak membuat saya mencari jerami yang banyak agar pembakaran bisa cepat,” tuturnya.

Sugeng Hariyono, salah satu pembeli padasan dari Desa Sidorejo mengaku ia sulit mencari gerabah di Lamsel. Namun ia beruntung masih ada desa yang sebagian wanita yang membuat gerabah. Hasil kerajinan dari tanah liat menurutnya masih sangat dibutuhkan. Padasan yang akan digunakan untuk tempat cuci tangan menurutnya dipergunakan untuk kegiatan PHBS.

Eksistensi para Kartini masa kini menurutnya sangat penting. Sebab dalam masa pandemi Covid-19 memesan gerabah sekaligus bisa memberi sumber penghasilan. Selama masa kerja dari rumah sejumlah wanita tetap bisa menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga. Sugeng Hariyono mengaku memesan 100 padasan tanah liat sebagai bagian upaya mengurangi penggunaan plastik.

Lihat juga...