Inilah Larva Pengurai Sampah Organik untuk Pakan Ternak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Sampah organik dan lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF), menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Betapa tidak, sampah organik menjadi media hidup sekaligus sumber makanan bagi maggot atau larva BSF.

Berbeda dengan larva lalat lainnya, larva BSF tidak menjadi medium penyakit. Justru mampu dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik, sekaligus larva BSF yang sudah cukup umur juga bisa digunakan sebagai pakan ternak, mulai dari bebek, ayam hingga ikan.

Manfaat lain, sampah organik bekas media tumbuh kembang maggot, juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Dengan begitu, tumpukan sampah organik benar-benar terkelola secara alami.

Hal tersebut ditunjukkan oleh tim mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), yang memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah organik, sekaligus sebagai sumber protein makanan utama, dalam upaya penggemukan bebek pedaging.

“Budi daya maggot memerlukan sampah organik yang banyak. Dari sejak berbentuk telur lalat, maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh selama 25 hari sampai siap dipanen,” papar perwakilan tim, Nur Laelati di kampus tersebut, Semarang, Rabu (22/4/2020).

Pemberian maggot pada bebek pedaging sangat bermanfaat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, antara bebek yang diberi makan maggot dan tidak, perbedaannya berat tubuhnya cukup signifikan.

Tidak hanya itu, dengan pemberian maggot ini, juga bisa dilakukan penghematan penggunaan pakan pelet sebesar 40%.

“Selain itu, pertumbuhan bebek pedaging, juga menjadi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan bebek tanpa mengkonsumsi maggot. Hal ini, karena bebek pedaging membutuhkan protein untuk pertumbuhannya, dan kebutuhan tersebut bisa terpenuhi dengan konsumsi maggot,” tandasnya.

Anggota tim lainnya, Iin Muntafiah, menjelaskan untuk menghasilkan maggot, bahan yang diperlukan di antaranya pur ayam 500 gram dan dedak halus 500 gram. Keduanya dicampur dengan ditambahkan air, sehingga membentuk adonan.

Selanjutnya, telur BSF di dalam wadah, diletakkan di dalam adonan, serta diberi taburan dedak di sekitarnya agar larva tidak dapat pergi.

“Telur akan menjadi maggot dalam 1-2 dua hari. Untuk pemeliharaan awal cukup dengan membasahi media dengan air. Setelah maggot berusia 6 hari dapat dipindahkan ke dalam wadah lain, dan diberi makan berupa sampah organik,” terangnya.

Maggot tersebut akan bertahan sekitar 21 hari, sebelum berubah menjadi prepupa dan menuju fase kepompong, untuk kemudian berubah menjadi lalat dewasa.

“Jadi maggot ini bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan dicampur pelet atau dedak dalam rentang 15 hari, dimulai dari umur 6 hari sebelum berubah menjadi prepupa,” tandasnya.

Di satu sisi, ketika menjadi lalat dewasa, peternak bisa memanfaatkannya sebagai indukan untuk menghasilkan telur baru yang digunakan dalam pembuatan maggot.

BSF rata-rata hidup selama 7-14 hari, pejantan akan mati setelah kawin, sementara betina akan mati setelah bertelur.

Lihat juga...