INDEF: Anggaran Kesehatan Itu Investasi, Bukan Beban Biaya
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Pendiri Institut for Development of Economics and Finance (INDEF), Didin S. Damanhuri mengakatan, alokasi anggaran kesehatan merupakan strategi pemulihan ekonomi yang bisa dilakukan pemerintah di tengah maraknya pandemi corona atau Covid-19.
“Kesehatan itu adalah human investment bukan sekedar biaya. Jadi alokasi anggaran kesehatan dari negara itu merupakan investasi, bukan beban biaya,” kata Didin dalam kuliah umum online Lembaga Kajian Ekonomi Nusantara (LKEN) INDEF bertajuk ‘Covid-19: Menyongsong Format Baru Pembangunan Global dan Nasional’ melalui aplikasi Zoom, di Jakarta, Senin (13/4/2020).
Dia menyampaikan, sejak awal tahun 1990-an, ada hadiah Nobel untuk tesis yang ditulisnya tentang human investment. Semula banyak diskusinya tentang pendidikan, tapi seiring perkembangan sekarang baru diketahui bahwa kesehatan adalah human investment, bukan semata biaya.
Maka itu, kata Didin, alokasi anggaran kesehatan seharusnya bisa terus ditingkatkan di tengah penanganan Covid-19, seperti saat ini.
Dia menilai pengalokasian anggaran kesehatan akan menjadi strategi pemulihan ekonomi yang lebih baik karena akan menjaga rakyatnya demi masa depan lebih baik.
Dalam hitungan model matematik Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dampak Covid-19 agak mengerikan. “Karena yang akan jadi korban itu di Indonesia bisa melebihi korban flu Spanyol yang mencapai 1,5 juta jiwa,” ujarnya.
Pada kuliah online ini, Didin S Damanhiri yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, juga menyinggung strategi human investment di Indonesia yang seharusnya bisa lebih fokus untuk melindungi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Terlebih, kata dia, UMKM mendominasi struktur dunia usaha di Tanah Air yang jumlahnya mencapai 99,9 persen.
“Ya, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Kita tahu ada UMKM produksi Alat Pelindung Diri (APD), ventilator, dan masker,” ujarnya.
Kegiatan UMKM tersebut menurutnya, yang mereka inisiasi sendiri di tengah wabah pandemi ini. “Ini jadi strategi pemulihan yang bersifat human investment dalam kebangkitan UMKM,” tukasnya.
Didin juga mengapresiasi pemerintah telah menambah belanja dan pembiayaan di Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp405,1 triliun.
Anggaran ini untuk memenuhi kebutuhan dalam penanganan pandemi virus corona atau Covid-19. Rinciannya sebanyak Rp75 triliun untuk anggaran bidang kesehatan, dan sebesar Rp110 triliun untuk perlindungan sosial.
Kemudian Rp75,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat (KUR), serta Rp150 triliun untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional.