SATU
“Aku akan pergi menemui Kanjeng Sultan Hadi Wijaya.” Mendengar suaminya telah membulatkan tekad, istri Jaka Kaiman tak kuasa menahan gemuruh ombak di dadanya.
Gulungan ombak menggedor-gedor dinding rusuknya yang rawan lalu tangisnya pecah. Air matanya membuat galur anak sungai sebelum bertemu Serayu.
“Kau tahu, Sayang. Negeri yang disuburkan Gunung Slamet dan Lembah Serayu ini tak boleh terlalu lama tanpa pemimpin. Atau, sosok kamiyangga (sosok mistis yang dianggap menguasai lubuk sungai) dari lubuk Serayu akan bangkit dan berkuasa menghancurkan apa yang sudah diwariskan Kiai Banyak Sasra. Sudah ada tanda-tanda geliatnya, dan itu tak boleh dibiarkan,” ujar sang suami.
Dari matanya, wanita yang sangat mencintai Jaka Kaiman itu masih belum sepenuhnya mengerti jalan pikir suaminya yang merasa harus terpanggil, mengambil tanggung jawab maha besar dan berat itu.
Dia tahu persis, undangan Sultan Hadiwijaya sarat dengan misteri. Sebab, karena titahnya pulalah ayahnya mati terbunuh. Ia tak tak ingin kehilangan untuk kedua kali orang-orang yang ia cinta dan hormati.
“Aku harus ikut bersamamu.”
Jaka Kaiman menggelengkan kepala seanggun banyak (angsa) yang berenang, menampakkan senyumnya yang paling lembut, tapi keramat.
“Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di Pajang dalam perjalanan menuju dan darinya. Tinggallah dan jaga putraku.”
“Kamu hanya akan pergi dengan sebuah pegangan wewaler setu pahing (mitos yang berkaitan dengan larangan bepergian di hari Sabtu Pahing pada masyarakat Banyumas),” kata perempuan itu, melunak.
Pembicaraan pada malam itu diakhiri dengan adegan bercinta yang penuh khidmat, sementara langit terus menurunkan rintik-rintik hujan yang siangnya menguap dari Segara Kidul.
DUA
Siapa pun tahu, laskar Pangeran Diponegoro pernah mendesak tentara Mataram hingga ke Lembah Serayu yang dikenal subur itu.
Tapi, dari Lembah Serayu itu pula, pasukan Mataram berhasil memukul mundur Laskar Diponegoro hingga kemudian mereka terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil lalu bersembunyi ke hutan-hutan perawan.
Ya, di sanalah Mataram memiliki lumbung beras dan basis militer yang digunakan Kompeni Belanda untuk memukul mundur sang Pangeran Jawa.
Kiai Seca Mandra Wangsa adalah salah satu pemimpin disegani dalam laskar Pangeran Jawa itu. Ia bahkan disebut merupakan juru taktik dalam perang yang bertanggung jawab membobol kas VOC hingga bangkrut, selain perilaku korup pegawainya.
Sebagai orang kepercayaan Pangeran Diponegoro, Kiai Seca Mandra Wangsa menolak menyerah dari perjuangan melawan kompeni.
Ia bertanggung jawab atas banyak kejadian perampokan terhadap kapal-kapal dagang dan logistik di sepanjang lembah Serayu yang masuk dan keluar melalui muara di Segara Kidul.
Suatu ketika tak terlupakan, Kiai Seca Mandra Wangsa membunuh saudara kandungnya yang bermaksud mengajaknya bekerja sama dengan penguasa dengan menghentikan perjuangan karena pemimpin mereka, Pangeran Diponegoro, telah tertangkap dan dikabarkan mati.
Kiai Seca Mandra Wangsa bahkan dijanjikan menjadi bagian dari kekuasaan sebagai klausul. Kiai Seca Mandra Wangsa yang tersinggung mendidih darahnya hingga terlibat dalam pertarungan sengit dengan saudara kandungnya itu.
Hingga kemudian, Kiai Seca Mandra Wangsa membelah batok kepala saudaranya itu dan menampakkan isi kepalanya yang membutnya tak bisa menelan makanan hingga berhari-hari lamanya.
Sebagai bentuk penyesalannya, Kiai Seca Mandra Wangsa benar-benar menghentikan perjuangannya, secara fisik. Dia dan sisa-sisa laskar yang setia pada Pangeran Jawa dan dirinya pergi berjalan kaki menuju ke arah utara.
Di lereng Gunung Slamet mereka berhenti dan mendirikan padepokan. Di sanalah, ia kemudian melahirkan banyak santri.
TIGA
Sejak keberangkatan Jaka Kaiman ke Pajang, istrinya memilih berpuasa. Ia hanya makan dan minum apa saja yang tanpa rasa dan berbau. Tentu saja itu usahanya untuk meredam semua yang berkecamuk di dada dan pikirannya.
Setelah sekian malam, ia bermimpi melihat cahaya rembulan yang tembaga melumuri tubuh suaminya. Keesokan harinya, Jaka Kaiman benar-benar pulang.
“Tak benar apa yang sebelumnya kau takutkan akan menimpaku, kakak iparmu Sultan Hadi Wijaya, memperlakukan aku sedemikian baik.”
“Kesaktian apa yang kau punyai hingga padam amarah Sultan Hadi Wijaya?”
“Kau tampak tak bahagia dengan kepulanganku yang selamat ini?”
“Tentu saja aku bahagia…”
“Lantas…”
“Apa kau tak menolak saat Sultan Hadi Wijaya menghadiahkan padamu salah seorang selirnya.”
“Kau tahu jawabannya, Sayang,” terang Jaka Kaiman lembut. Ia menggamit kedua tangan istrinya lalu mencium dengan bibirnya yang hangat.
“Maafkan aku, Sayang,” sahut perempuan itu, luluh.
Sebelum bibir Jaka Kaiman sampai di kulit leher yang putih berkilat, istrinya mencegah. “Potong dulu kumis dan cambangmu.”
“Apa kau lupa, aku tak pernah menyentuh perempuan dan memotong rambut atau kuku di tubuhku jika bepergian.”
Istrinya tak akan mampu lagi berkata-kata karena gerakan tangkas Jaka Kaiman yang segera membuat napasnya putus-putus.
Di Lembah Serayu, Jaka Kaiman membabat hutan perawan. Di sanalah, ia mendapatkan ilham untuk mendirikan pusat pemerintahannya yang baru.
Atas persetujuan Sultan Hadi Wijaya, Jaka Kaiman membagi wilayah kekuasaanya menjadi empat, sedangkan ia memimpin salah satunya. Karena itulah, ia dijuluki Adipati Mrapat.
“Kenapa kau menangis?” ujar istrinya.
“Aku haru, bahagia. Semesta merestuiku. Kau tahu, seseorang telah melaporkan sebatang kayu emas yang hanyut dari hulu menepi di dekat Kejawar ini. Aku akan menjadikannya saka guru.”
“Jangan menangis, kau kini seorang Adipati!”
“Kau sendiri kenapa menangis, padahal kau anak dan istri Warga Utama.”
EMPAT
Pasar Kejawar yang ramai sejak kehadiran saudagar-saudagar berkulit kuning pucat yang tinggal di Pecinan dibuat cemas dengan syair-syair yang diperdengarkan seorang buta selama sebulan terakhir.
Penyair buta itu sangat identik dengan Pasar Kejawar. Semua orang pasar menganggapnya bagian dari Pasar Kejawar. Sejak kapan? Entahlah, tak terlalu penting dalam cerita ini.
Lelaki paruh baya itu bersyair untuk mendapat uang dan makan. Dia tak mau disamakan sebagai pengemis. Dia selalu mengatakan sebagai murid Kiai Seca Mandra Wangsa dari lereng Gunung Slamet.
Mungkin karena keangkeran nama gurunya itulah, tak seorang pun berani mengusiknya, betapa pun ada di antara orang-orang di Pasar Kejawar itu sesungguhnya meragukan pengakuannya. Tentu saja mereka tak ingin mengambil risiko.
“Tujuh hari berturut-turut, aku bermimpi melihat ikan benter memakan manggar (bunga kelapa) yang masih menempel di tangkainya. Ini adalah pertanda dari semesta, Saudaraku.”
Semua orang di Pasar Kejawar mungkin terlihat tak acuh dengan kehadirannya, tapi orang-orang itu sangat menyukai kemerduan suara dan keindahan syairnya. Untuk itulah, mereka rela hati memberinya uang atau makanan.
Seseorang yang dikenal berpengaruh di Pasar Kejawar menjadikan syairnya bahan berolok-olok, “Bagaimana kau bisa membedakan ikan dengan manggar, bukankah kau buta?”
Mendengar olokan itu, lelaki buta itu hanya tersenyum. Hingga pada hari yang berbeda saat orang yang mengolok-oloknya tak ada di sana, ia berkata, “Aku hanya menerima pemberian dari orang yang mempercayai syairku. Tidak dari yang lain.”
Suara bernada sumir lain meletup entah dari siapa, “Jika kau benar, seharusnya kau sampaikan itu pada bupati atau sekutu kompeninya. Mereka pasti akan ketakutan mendengar ramalan gilamu.”
Suara itu mengundang gelak tawa banyak orang yang mendengarnya, bukan tawa mengejek, tapi sebuah sindiran kepada keadaan diri mereka sendiri.
Seiring memasuki musim penghujan yang terasa lambat datang, lelaki buta dan syairnya menghilang dari Pasar Kejawar. Orang-orang di pasar diam-diam rindu pada lelaki buta bersuara merdu dan syairnya itu.
Sebelum kepergiannya, dia pernah berpesan lewat syairnya, “Suatu hari nanti, kalian akan menyusulku ke utara, mendekat ke pelukan Slamet yang senantiasa hangat. Datanglah dengan hati yang gembira, aku akan menyambut kalian dengan bahagia.”
Berjarak tiga purnama, Saka Guru Sipanji diboyong dari Banyumas ke Purwokerto yang berada di seberang utara Serayu.
Mendekat ke Slamet untuk sebuah pelukan yang hangat setelah direndam bah dari hulu Serayu. ***
Mufti Wibowo, penulis asal Purbalingga, Jawa Tengah. Karya-karya fiksinya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Ia aktif berkegiatan di Komunitas Bunga Pustaka.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.