Sejumlah Sub-DAS di Pegunungan Muria Dalam Kondisi Kritis

Banjir di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu akibat meluapnya Sungai Piji – Foto Ant

KUDUS – Sebanyak tujuh dari 52 sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan Pegunungan Muria dalam kondisi kritis. DAS tersebut berada di tiga kabupaten, di eks-Keresidenan Pati, Jawa Tengah.

Diperlukan penanganan segera, agar kondisinya tidak menimbulkan permasalahan lingkungan yang semakin parah. “Ketujuh sub-DAS tersebut yakni, Srep, Piji, Sani, Gungwedi, Tayu, Gelis, dan Mayong,” kata Ketua Forum DAS Muria, Hendy Hendro, di Kudus, Senin (2/3/2020).

Untuk sub-DAS Srep dan Piji, berada di Kabupaten Kudus. Sedangkan sub-DAS Sani, Gungwedi, dan Tayu ada di Kabupaten Pati. Sub-DAS Gelis serta Mayong ada di Kabupaten Jepara.

Dari analisa yang dilakukan, kondisinya diyakini akan berdampak terhadap penurunan daya dukung dan fungsi lingkungan dari sub-DAS tersebut. Kondisi tersebut, teridentifikasi dengan seringnya terjadi banjir, erosi, sedimentasi, tanah longsor, defisit air, dan berkurangnya debit sungai ketika musim kemarau.

Hal tersebut terjadi karena tingginya kebutuhan lahan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Dampaknya terjadi konversi atau alih fungsi lahan, dari hutan menjadi pertanian dan lahan terbangun.

Faktor lainnya, masih minimnya pemahaman masyarakat serta kurangnya informasi edukatif, dalam pengelolaaan sumber daya lahan dan pelestarian lingkungan. Yang pada akhirnya  berdampak pada kerusakan lingkungan, di tujuh daerah sub-DAS tersebut. “Kemiringan lereng di wilayah hulu yang cukup terjal juga ikut menjadi faktor penyebab kritisnya sub-DAS tersebut,” tandasnya.

Contohnya seperti di Desa Rahtawu, sebagai daerah hulu aliran Sungai Gelis. Di kawasan tersebut  ada kegiatan yang tidak mengindahkan kaidah konservasi, karena warga di daerah tersebut lebih memilih menanam tanaman semusim yang tidak bisa menampung banyak air.

Selain itu, batu-batu besar yang ada di sungai sekarang sudah mulai berkurang. “Banjir yang ada di hilir merupakan dampak kekritisan sub-DAS Sret. Di sana banyak tanaman semusim. Batu-batu besar yang ada di sungai juga banyak yang diambil. Padahal, itu fungsinya menahan arus agar tidak langsung ke hilir,” ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi kritis tersebut, perlu upaya membentuk fisik hingga sosial ekonomi. Upaya fisik yang bisa dilakukan dengan membuat teras di lereng yang terjal dengan berbagai bentuk. Upaya vegetasi dengan cara reboisasi di wilayah hulu. Sedangkan untuk sosial ekonomi, salah satunya dengan mengubah pola pikir masyarakat dari merusak menjadi menjaga lingkungan. (Ant)

Lihat juga...