Sampah jadi Berkah Bumdes Bina Warga di Lamsel
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Memiliki pasar tradisional dengan tingkat produksi sampah memadai jadi berkah bagi Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel).
Sumali, Kepala Desa Pasuruan menyebut sampah pasar dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Bina Warga. Sejumlah sampah yang selama ini hanya dibuang percuma menjadi sumber pendapatan bagi warga dan Bumdes.

Memiliki workshop yang menjadi lokasi pengolahan sampah, Sumali menyebut Bumdes memiliki sejumlah kegiatan. Kegiatan yang dilakukan meliputi bank sampah, pembuatan kompos dan komposter, budidaya maggot, pembuatan paving blok sampah plastik dan tanaman hidroponik.
Volume sampah pasar yang bisa dimanfaatkan rata-rata 2 kuintal per hari menjadi peluang untuk berbagai jenis usaha.
Berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi pasar desa, Bumdes menjadi usaha pengelolaan pasar desa. Sebanyak sepuluh komposter yang telah dilengkapi dengan instalasi pengolahan sampah telah berproduksi.
Produksi yang dihasilkan menurut Sumali berupa pupuk organik cair (POC), pupuk padat. Jenis sampah yang dimasukkan dalam komposter dominan sayuran, buah dan sampah pasar yang mudah terurai.
“Petugas akan mengangkut sampah organik, nonorganik untuk dipilah pada lokasi yang sudah disiapkan sehingga bisa mengurangi volume sampah pada tempat pembuangan sementara di pasar dan akan diolah lebih lanjut,” terang Sumali saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (10/3/2020).
Dalam pengelolaan sampah Bumdes Bina Warga menurut Sumali menerapkan konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycle). Upaya reduce atau mengurangi sampah plastik dilakukan oleh Bumdes dengan mengambil sampah dari pasar.
Sebagian dengan cara membeli sampah dari warga dengan hasil penjualan akan ditabung pada bank sampah. Reuse atau penggunaan kembali sampah dilakukan dengan memakai botol untuk pot bunga dan sayuran.
Pengelolaan sampah oleh Bumdes dengan konsep Recycle (daur ulang) dilakukan untuk mendapatkan produk baru bermanfaat. Sejumlah produk yang dihasilkan di antaranya pupuk cair, kompos dari proses komposter.
Sebagai bagian pengelolaan sampah, Bumdes juga mengelola sampah plastik menjadi paving blok. Proses pencetakan dilakukan untuk membuat paving blok dari sampah plastik.
“Sampah plastik dari pasar, rumah warga dikumpulkan terlebih dahulu dalam jumlah banyak sebelum dilebur dan dicetak,” tutur Sumali.
Pembuatan paving blok sampah plastik menurutnya membutuhkan bahan baku yang cukup banyak. Sesuai perhitungan 2 kilogram sampah plastik akan menjadi satu keping paving blok dengan berat 1,4 ons.
Sesuai perhitungan ukuran paving blok yang dibuat satu meter berisi 36 keping. Sampah sebanyak 72 kilogram tanpa campuran disebutnya bisa dibuat menjadi sebanyak 1 meter paving blok.
Hasil usaha pembuatan pupuk organik cair, pupuk padat bisa digunakan oleh warga. Keberadaan Bumdes pengolahan sampah sekaligus bisa menjadi pemantik bagi warga bisa memisahkan sampah yang dihasilkan rumah tangga.
Sejumlah titik pada rumah warga yang ditata dalam dasa wisma telah diberi tempat sampah dari drum. Sampah plastik dan sampah organik bisa menjadi bahan baku sejumlah produk Bumdes.
Nasrulah, ketua Bumdes Bina Warga menyebut pemanfaatan sampah selama ini belum dikelola dengan maksimal. Bumdes membuat workshop untuk pembuatan sejumlah produk hasil olahan sampah pasar.

Konsep 3R dalam pengelolaan sampah menurutnya sekaligus bisa menjadi sumber pendapatan bagi Bumdes.
“Selama ini sampah diambil dari pasar untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir di Kalianda, kini bisa dimanfaatkan Bumdes,” tuturnya.
Melalui bank sampah, warga bisa menjual sampah sebagai tabungan. Hasil penjualan sampah akan dicatat sebagai saldo yang bisa diambil untuk sejumlah kebutuhan.
Pembuatan kompos dari sejumlah sampah sayuran menurut Nasrulah dilakukan melalui proses penguraian. Penguraian memakai maggot menghasilkan pupuk bersamaan dengan pembuatan pupuk memakai alat komposter.
Produksi maggot atau larva lalat jenis black soldier fly (BSF) bisa dijual untuk sejumlah kebutuhan. Sebab peternak unggas, ikan bisa memanfaatkan maggot sebagai pakan alternatif.
Penggunaan maggot menurut Nasrulah bisa mempercepat penguraian sampah jenis sayuran dan buah. Sampah yang tidak terurai oleh maggot bisa dimasukkan dalam komposter yang telah diberi cairan EM4 mempercepat pembusukan.
“Siklus pengelolaan sampah akan menghasilkan produk yang bisa dijual menjadi income bagi Bumdes,” tutur Nasrulah.
Pemanfaatan sampah pasar menjadi barang yang bernilai ekonomi diakui Nasrulah terus dimaksimalkan. Sebab selama ini sampah pasar juga dimanfaatkan oleh warga.
Beberapa sampah digunakan untuk pakan ikan, pupuk tanaman. Kebutuhan bahan baku untuk komposter, sampah plastik untuk paving blok akan ditingkatkan dengan mendorong warga mengumpulkan sampah yang akan dimanfaatkan oleh Bumdes.