Omzet Pedagang Anggrek di TAIP Jakarta, Anjlok
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Suasana pameran anggrek dan tamanan hias di area parkir Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP), Jakarta Timur, terlihat sepi pengunjung, Senin (23/3/2020). Pedagang pun mengeluhkan penurunan omzet dibandingkan kondisi sebelum maraknya wabah Covid-19.
Rendy, salah satu pelayan stand Centra Anggrek yang mengikuti pameran mengatakan, merebaknya virus Corona dan adanya larangan masyarakat untuk tidak keluar rumah sangat berdampak buruk bagi para petani anggrek yang memasarkan anggrek di pameran ini.
“Omzet turun hingga 30 persen, hari ini saja belum ada pembeli. Hari Sabtu saja cuma ada satu pembeli hingga sore. Hari Minggu juga sepi, ini dampak dari virus Corona,” kata Rendy, kepada Cendana News, saat ditemui di area pameran di TAIP, Jakarta, Senin (23/3/2020).
Padahal, menurutnya, setiap pameran di TAIP ini tidak pernah sepi pengunjung. Selalu ramai dengan omzet berlimpah. Namun tahun ini penurunannya sangat drastis.
“Normalnya bulan Maret-April itu kalau pameran omzet, bagus. Tapi tahun ini di bulan yang sama, sepi. Sabtu-Minggu tahun lalu itu, omzet bisa mencapai di atas Rp2 juta. Hari biasa juga lumayan,” ujarnya.
Rendy berharap, wabah Covid-19 segera teratas, sehingga kondisi perekonomian bisa kembali pulih. Karena meskipun sekarang ini ragam jenis anggrek dipamerkan dengan harga relatif murah di kisaran Rp65 ribu hingga Rp150 ribu, tetap saja masyarakat jarang membeli.
“Harapan saya, ya wabah virus Corona cepat teratasi, biar ekonomi Indonesia kembali pulih,” katanya.
Endin, pedagang lainnya juga mengeluhkan hal senada. Dia mengatakan, biasanya ia bisa menghasilkan puluhan juta rupiah ketika pameran di TAIP ini. Namun omzetnya untuk bulan ini justru menurun.
“Penjualan turun 50 persen ini akibat wabah Corona. Tahun lalu, omzet saya bagus mencapai jutaan per haria. Ditotal pas akhir pameran masih tinggi kisaran Rp100 jutaan,” ujar Endin.
Menurutnya, omzet penjualan turun disebabkan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Mereka membatasi diri di dalam rumahnya dan hanya keluar, jika membutuhkan yang sangat penting saja.
“Ya bagus sih intruksi pemerintah, agar masyarakat jangan keluar rumah untuk mencegah penularan virus Corana. Tapi dampaknya bagi kami terasa banget, omzet menurun dratis,” keluhnya.
Begitu juga dengan Dika, pedagang tamanan hias yang mengaku setiap tahun ikut pameran ini. Dia mengatakan, imbas dari virus Corona menjadikan penurunan omzet yang cukup tinggi.
“Omzet 50 persen turun, biasanya nggak pernah begini. Tapi., ya mau ngeluh sama siapa? Kondisi ekonomi carut-marut semua dampak virus Corona,” ujarnya.
Dia berharap, penularan virus Corona dapat segera direda sehingga tidak banyak berjatuhan korban. Dan, pastinya keadaan ekonomi Indonesia kembali normal.