Kursi dari Botol Plastik Wanita ini Hasilkan Rp10 juta per Bulan
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
MAUMERE — Banyaknya botol plastik air mineral berukuran 1,5 liter yang dibuang masyarakat diolah dan dijadikan sebagai karajinan tangan yang bernilai jual tinggi seorang pengrajin di Sikka, Nusa Tenggara Timur. Selain untuk mengurangi sampah plastik dengan mendaur ulangnya, juga dapat mencegah berbagai penyakit termasuk Demam Berdarah Dengue.
“Melihat banyak botol dibuang maka saya ingin memanfaatkannya menjadi barang yang bisa dijual untuk menambah penghasilan,” sebut Maria Angelina Deya, pengrajin kursi dan meja dari botol plastik asal desa Nelle Urung kabupaten Sikka provinsi NTT, Selasa (10/2/2020).
Maria mengaku, dirinya belajar cara membuat meja dan kursi dari bahan botol plastik setelah melihatnya di media sosial dan mencobanya berulangkali, hingga menghasilkan karya yang disukai pembeli.
Satu setnya terdiri dari 4 buah kursi dan sebuah meja yang dilapisi kaca sesuai permintaan dijual dengan harga Rp1,5 juta. Pembelinya bukan hanya datang dari kabupaten Sikka saja tetapi kabupaten lainnya di pulau Flores.
“Pembelinya bukan saja dari kabupaten Sikka saja tetapi ada yang dari kabupaten Ende, Flores Timur dan Lembata,” sebutnya.
Botol-botol plastik bekas air mineral tersebut, jelas Maria, dipilih di pinggir jalan serta dibeli dari pemulung yang ada di kota Maumere, dimana 3 buah botol dibeli dengan harga seribu rupiah.
Bila bahan bakunya banyak dalam sebulan minimal bisa menghasilkan delapan set meja dan kursi, dimana lapisan luarnya dari karpet imitasi dengan warna sesuai dengan permintaan dari pembeli.
“Keuntungannya lumayan, sebab satu setnya saya bisa untung Rp1 juta. Saya juga senang berusaha sehingga terus mencoba membuat produk lainnya yang disukai pembeli dengan bahan dari botol plastik,” terangnya.
Untuk satu set meja dan kursi sebut Maria, dibutuhkan 113 botol, dimana satu kursi membutuhkan 19 botol sementara untuk meja dipergunakan 37 botol yang semuanya disatukan baru ditutupi tripleks dan karpet imitasi.
Penutup meja maupun kursi, tambahnya, warnanya disesuaikan dengan permintaan konsumen, termasuk bila diminta untuk melapisinya dengan kain tenun serta anyaman dari daun lontar.
“Saya membuat sendiri saja dan kadang dibantu anak perempuan tetangga. Lumayan dalam sebulan saya bisa untung bersih Rp10 juta, sehingga bisa menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Direktur Bank Sampah Flores Wenefrida Efodia Susilawati mengaku senang bila melihat anak-anak muda memanfaatkan botol plastik bekas dan sampah plastik lainnya sehingga lingkungan rumah dan sekitarnya jadi bersih.
Selain itu saran Susi, sapaannya, bisa juga menggunakan bahan lainnya namun tentu semuanya itu membutuhkan waktu untuk berkembang dan produk yang dihasilkan disukai pembeli.
“Bagus sekali sebab ini juga memberikan penambahan pendapatan kepada warga sekitar, dengan bekerja di tempat usahanya. Perlu ada banyak anak muda lainnya agar mengurangi sampah plastik yang sangat banyak di kota Maumere,” ujarnya.