Indonesia-Belanda Sepakat Perkuat Kerja Sama Tiga Sektor
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Kerajaan Belanda, Sigrid Kaag. Dari pertemuan itu, kedua negara sepakat untuk perkuat kerjasama di sektor perdagangan, investasi dan pariwisata.
“Saya berharap dengan kunjungan bilateral yang dipimpin oleh yang mulia Raja Belanda, kita dapat memperoleh hasil untuk meningkatkan kerjasama bilateral, khususnya sektor ekonomi, perdagangan dan investasi. Saya yakin masih ada potensi yang dapat dieksplorasi meskipun ada tantangan global yang kita hadapi,” terang Airlangga, sebagaimana rilis yang diterima Cendana News, Selasa (10/3/2020).
Airlangga juga menyampaikan kepada Sigrid, bahwa Indonesia tengah melakukan reformasi regulasi, yang diwujudkan dalam penciptaan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) dan Perpajakan.
“Kalau RUU tersebut sudah disahkan menjadi UU oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), diharapkan akan mengurangi hambatan dalam masuknya investasi ke dalam negeri untuk penciptaan lapangan kerja baru,” ujarnya.
Bak dayung bersambut, Sigrid mengungkapkan, Belanda sangat terbuka atas berbagai peluang kerja sama dengan Indonesia, terutama di sektor maritim, logistik, ketahanan pangan, dan pendidikan.
Saat ini, kata Sigrid, Belanda telah makin mengembangkan jangkauan dari universitas-universitas terbaiknya untuk meraih “pasar” mahasiswa internasional.
“Kami membuka diri apabila Indonesia memberikan kesempatan berinvestasi di dunia pendidikan, baik untuk pendidikan tinggi maupun pelatihan vokasi. Termasuk membuka kesempatan seluasnya bagi mahasiswa Indonesia belajar ke sana melalui beasiswa Nuffic-Neso, serta menyediakan sistem pembelajaran online menggunakan teknologi terkini,” tandas Sigrid.
Belanda juga akan terus menjalin hubungan ekonomi yang baik dengan Indonesia, mengingat beberapa perusahaan multi nasional milik negara tersebut sudah beroperasi di Indonesia dalam jangka waktu sangat lama.
Mereka juga berharap proses berinvestasi untuk ekspansi usaha perusahaan-perusahaan tersebut akan semakin mudah dengan adanya reformasi regulasi di Indonesia.
“Usaha mereformasi regulasi adalah tugas yang cukup menantang. Maka dari itu, kami dukung usaha tersebut (untuk Indonesia),” tukas Sigrid.
Berdasarkan data Kemenko Perekonomian, Belanda merupakan mitra dagang terbesar ke-15 dan investor terbesar ke-9 bagi Indonesia. Perdagangan bilateral dengan negara kincir angin ini selalu menunjukkan surplus bagi Indonesia.
Pada tahun 2018 saja, nilai perdagangan bilateralnya mencapai US$ 5,14 miliar, di mana ekspor mencapai US$ 3,90 miliar dan impor senilai US$1,24 miliar. Sedangkan di 2019, nilai total perdagangan kedua negara sempat menurun 21,7 persen sehingga menjadi US$4,2 miliar.
Selain itu, Belanda juga merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-11 bagi Indonesia, dengan komoditas utama (berdasarkan HS4) antara lain: minyak sawit (19,16 persen), kopra (11,31 persen), asam lemak monokarboksilat (10,69 persen), asam monokarboksilat asiklik tak jenuh (5,97 persen), timah (5,41 persen).
Sementara itu, komoditas impor Indonesia dari Belanda, yaitu: distilasi coal tar (25,17 persen), kendaraan angkutan barang (7,10 persen), minyak bumi (4,39 persen), benang tow artifisial (2,64 persen), bahan makanan (2,12 persen).
Dari sisi pariwisata, jumlah wisatawan Belanda ke Indonesia pada 2019 sebanyak 215.287 orang, menempati urutan ke-4 terbesar dari Eropa dan ke-16 dari seluruh dunia. Tren peningkatan kunjungan rata-rata 4,88% per tahun sejak 2014.
Belanda merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi pasar pariwisata Indonesia dari Eropa dengan durasi kunjungan rata-rata lebih dari dua minggu, dengan perkiraan jumlah devisa asing yang didapatkan mencapai lebih dari US$200 juta per tahun.