Dewan Ingatkan Dana Siaga Covid-19 di Bekasi Tepat Sasaran
Editor: Koko Triarko
BEKASI – Penggunaan anggaran Dana Kesiapsiagaan Penanggulangan Covid-19 di Kota Bekasi, harus efisien, tepat sasaran dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan ke depannya.
Demikian disampaikan Chairuman J Putro, Ketua DPRD Kota Bekasi, menyusul permintaan penambahan anggaran untuk melengkapi kebutuhan alat medis dalam rangka kesiapsiagaan penanggulangan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.
“Rumah sakit yang menerima penggunaan dana bantuan tak terduga (BTT) harus menghindari penggunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan pengajuan,” ujar Choiruman, dalam rapat kerja antara Komisi IV, Dinas Kesehatan, BPJS Cabang Bekasi dan RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi, Selasa (17/3/2020).
Dikatakan, bahwa dana penanggulangan Covid-19 sesuai permintaan RSUD Kota Bekasi senilai Rp6,1 miliar. Chairuman, berharap dana tersebut dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit yang ditunjuk pemerintah dengan semaksimal mungkin dalam memanfaatkan BTT, begitu pun dalam laporan hasil penggunaan anggarannya.
Dalam rapat yang berlangsung terbuka di lantai 3 Gedung DPRD Kota Bekasi tersebut, Direktur Utama RSUD dr. Chasbullah Abdulmajid, Kusnanto, mengaku pihaknya membutuhkan fasilitas tambahan, seperti Kit PCR yang digunakan untuk mendeteksi orang yang positif terkena gejala Covid-19.
“Kit PCR untuk tersebut untuk alat pemeriksaan laboratorium supaya cepat mendeteksi orang yang positif Corona dengan akurasi 80 persen,” tandasnya.
Menurutnya, alat tersebut di luar peralatan medis yang telah teralokasi dalam belanja BTT, dengan uraian belanja yang telah dilaksanakan pihak Rumah Sakit, di antaranya meliputi bahan habis pakai, seperti masker, handspone, baju APD, aprone, kantong jenazah tersendiri, hand sanitizer, alat pengukur suhu ruangan.
“Biaya Rp6,1 miliar tersebut akan men-cover kebutuhan rumah sakit selama empat bulan. Itu pun jika tidak terjadi peristiwa luar biasa,” paparnya, mengaku jika landai bisa digunakan 4 bulan.
Tapi, imbuhnya, melihat kondisi wabah Covid-19 sekarang meski diirit-irit saja maksimal hanya dua bulan. Namun demikian, dia mengatakan tergantung dari fasilitas kesehatan lainnya, merujuk empat tahapan yang ditetapkan dalam pengecekan kasus Corona.
Hal tersebut bentuk upaya antisipasi, maka diperlukan alat canggih untuk memberi kepastian jika ada pasien memiliki gejala yang datang.
“Jangan nanti belum apa-apa pasien diagnosa sudah suspect corona,” tandasnya.
Kusnanto mengaku, bahwa saat ini rumah sakit mengalami kesulitan dalam memperoleh kebutuhan belanja alat kesehatan dalam jumlah maksimal untuk kasus Covid-19 yang habis pakai.
Dia menyebut, jika terjadi monopoli usaha oleh pedagang, maka pihaknya hanya akan memperoleh kuantitas yang lebih sedikit.
“Kesulitan membelanjakan uang Rp6,1 miliar untuk kebutuhan Corona. Saat ini kita hanya bisa membeli seperti harga umum atau satuan. Situasinya sekarang sulit untuk belanja bahan yang dibutuhkan, karena semua rebutan,” jelasnya.
Sehingga, lanjutnya, rumah sakit saat ini masih memakai harga satuan dalam kondisi normal dalam memenuhi kebutuha antisipasi Corona di Kota Bekasi.
“Jadi kalau pedagang spekulasi harganya 2x lipat, mungkin bisa pakai dengan volume lebih sedikit, dan bisa satu bulan setengah dana tersebut terserap,” pungkasnya.