PADANG — Pedagang sepatu dan sendal yang menggunakan bahan dari karet mengalami kekurangan pasokan barang di sejumlah pasar di Kota Padang, Sumatera Barat. Akibatnya, pedagang mengalami penurunan penjualan.
Ikal, pedagang di Pasar Raya Padang mengatakan, kekurangan pasokan barang terjadi sejak Cina dilanda wabah Covid-19. Hal ini dikarenakan bahan karet yang digunakan dalam membuat sepatu dan sendal berasal dari Negara Tirai Bambu tersebut.
“Semua barang karet ini dari Cina, sampai sekarang masih menutup kegiatan ekspor impor nya karena virus Covid-19. Akibatnya pasokan barang ini tidak ada yang model baru yang masuk,” katanya, Selasa (17/3/2020).
Ia mengaku bahwa setiap penjual eceran yang membeli sepatu dan sendal karet di tokonya itu, menanyakan model barang baru. Namun, dikarenakan pasokan tidak masuk lagi, dan barang yang ada kini pun agak kurang laku.
“Untuk yang terlihat sekarang memang banyak, dan barang yang tersisa ini barang yang kurang laku. Mau tidak mau mau, usaha kami seperti ini tetap bertahan,” ujarnya.
Menurutnya, biasanya jelang Ramadan dan lebaran, banyak penjual eceran mencari barang model baru. Artinya, barang model lama yang tersisa ini, tidak begitu diminati.
Ikal menjelaskan, untuk harga sepatu dan sendal dari karet ini bervariasi, mulai dari Rp10.000 untuk sendal dan tertinggi itu Rp35.000. Lalu untuk sepatu, mulai dari Rp25.000 hingga Rp45.000. Meski kini pasokan tidak ada lagi yang masuk, soal harga sejauh ini normal dan tidak mengalami kenaikan serupiahpun.
“Bagi kami pedagang barang sepatu dan sendal karet ini memilih bertahan, hingga situasi virus Covid-19 ini normal,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Zirma Yusri, mengakui, bahwa situasi virus Covid-19 turut dirasakan dampaknya oleh pelaku UMKM. Karena ada pelaku UMKM yang bahannya itu datang langsung dari luar negeri, seperti halnya dari Cina.
“Saya berharap pedagang tetap bertahan, dan memiliki inovasi dalam berdagang. Dari pada barang lama itu menumpuk di gudang, cobalah dilakukan upaya penjualan diskon atau sejenis inovasi lainnya,” jelasnya.
Selain itu, Zirma menyarankan, jika di sisi penjualan dimana pembeli datang ke toko langsung sepi, dicoba untuk melakukan promosi dan penjualan barang secara online.
“Saya sebenarnya prihatin juga dengan situasi seperti ini. Jangankan untuk pedagang sepatu dan sendal karet itu, mungkin UMKM kita lainnya yang selama mengekspor produk ke berbagai negara, juga merasakan dampak,” sebutnya.
Sebut saja ekspor produk Manggis, rendang, dan produk lainnya yang turut merasakan dampaknya. Namun mereka dinilai telah melakukan upaya lainnya, yakni dengan penjualan secara domestik, dan menghentikan sementara ekspor.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah menutup ekspor dan impor barang ke berbagai negara menyikapi kondisi Covid-19 yang telah menyebar ke seluruh negara. Demi mengantisipasi penyebaran virus Covid-19, pemerintah mau tidak mau harus menepikan persoalan dampak ekonomi, seperti yang dirasakan oleh pelaku UMKM.