Banyak Banjir dan Longsor, Stok Bronjong BPBD Cilacap Kosong
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
CILACAP – Selama bulan Februari 2020, terjadi 17 peristiwa longsor dan banjir pada tiga kecamatan. Akibatnya, sisa bronjong yang ada di gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap habis disalurkan untuk perbaikan tanggul ataupun memperkuat talud yang longsor.
“Bronjong sisa stok pengadaan tahun 2019 sudah habis dan untuk tahun 2020 ini, pengajuan pengadaan bronjong sebanyak 800 buah, tetapi masih dalam proses, sehingga stok bronjong di BPBD saat ini kosong,” kata Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy Wijayanto, Rabu (11/3/2020).
Bronjong ini berfungsi untuk memperkuat tebing tanah, baik pada lereng sungai ataupun tanggul. Sehingga setiap kali terjadi banjir atau longsor, maka bentuk penanganan daruratnya adalah menggunakan bronjong.
Dari data BPBD Cilacap tercatat, longsor terjadi mulai tanggal 2 Februari di Desa Tayem Timur, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap.
Kemudian pada 3 Februari terjadi banjir di Desa Tarisi, Kecamatan Wanareja. Pada hari yang sama juga terjadi tanah longsor di Desa Tayem Timur Kecamatan Karangpucung dan Desa Madusari Kecamatan Wanareja.
Hujan deras juga menyebabkan longsor di Desa Sidangbarang Kecamatan Karangpucung dan Desa Datar Kecamatan Bantarsari, menyusul kemudian longsor di Desa Panulisan Timur Kecamatan Dayeuhluhur dan di Desa Padangjaya Kecamatan Majenang terjadi longsor dan banjir.
Tri Komara mengatakan, banyaknya banjir dan longsor saat curah hujan mulai tinggi di bulan Februari lalu, menyebabkan total kerugian hingga Rp 1.799.215.000.
Ia mengimbau agar warga tidak hanya mengandalkan bantuan bronjong untuk mengatasi banjir dan longsor. Namun, lanjutnya, langkah antisipasi yang lebih penting untuk dilakukan.
“Antisipasi banjir dan longsor bisa kita lakukan, misalnya dengan menjaga kawasan sungai, menanami dengan pohon, tidak membuang sampah di sungai dan sebagainya.
Menanam pohon, memang tidak bisa langsung kita rasakan manfaatnya sekarang, tetapi 2-3 tahun ke depan, kita akan terhindar dari banjir dan longsor,” terangnya.
Sementara itu, Kepala UPT BPBD Majenang, Edi Sapto Priyono, mengatakan, sampai saat ini pihaknya tidak mempunyai stok bronjong, padahal banyak desa yang mengajukan bantuan bronjong.
“Desa-desa yang terkena bencana longsor ataupun banjir, mengajukan bantuan bronjong, tetapi belum bisa kita penuhi, karena stok bronjong sekarang kosong,” katanya.