Astronom: Jakarta Tanpa Bayangan
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Tepat pukul 12.04.19 WIB, Matahari tepat berada di titik Zenith kota Jakarta. Artinya, seluruh bayangan benda tegak akan akan hilang. Karena bertumpuan dengan titik tempu benda.
Astronom Riser Fardian, M.Si menyatakan Jakarta Tanpa Bayangan adalah satu posisi dimana Matahari ada tepat di atas kepala di area Jakarta.
“Istilahnya, adalah di Meridien. Jadi Matahari itu tegak lurus menyinari tapi tidak menimbulkan bayangan,” kata Riser saat ditemui di acara Jakarta Tanpa Bayangan yang diselenggarakan di Planetarium dan Observatorium Jakarta, Cikini Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Ia menjelaskan kondisi tanpa bayangan ini dapat dirasakan selama beberapa detik pada daerah di sudut deklinasi yang sama dengan Jakarta.
“Pada menit yang sama, terjadi di area dengan sudut yang sama. Di Depok juga akan terjadi, tapi di menit atau detik yang berbeda. Karena Matahari itu kan bergerak terus. Sehingga waktunya tidak akan lama dalam satu daerah yang memiliki sudut deklinasi yang sama,” urainya.
Dalam satu tahun, di Jakarta atau secara astronomi yaitu pada LS 23 derajat (daerah tropik) akan terjadi dua kali dalam setahun.
“Di Jakarta, hari ini dengan 8 Oktober 2020. Yaitu pertama, hari ini, saat Matahari melewati titik Zenith Jakarta menuju ke khatulistiwa dan yang kedua, pada 8 Oktober itu, saat Matahari dari khatulistiwa menuju Garis Balik Selatan,” urainya lebih lanjut.
Kejadian ini, menurutnya, akan berlangsung secara rutin setiap tahunnya. Dan kalaupun ada pergeseran hanya akan berselisih satu hari saja.
Kepala Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukan dan Publik POJ Eko Wahyu Wibowo menyampaikan bahwa kegiatan Jakarta Tanpa Bayangan yang melibatkan Klub Astronomi di area Jabodetabek, Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), Alumni Olimpiade Sains Astronomi, Forum Scientist Teenager (FOSCA) dan Forum Guru Astronomi Provinsi DKI Jakarta adalah untuk menunjukkan kepada para siswa pecinta astronomi terkait pembuktian rumus penghitungan gerakan benda langit.

“Dengan kegiatan ini kita mengajak para siswa untuk melihat pada rumus dan melihat pada gerak Matahari secara langsung. Sehingga mereka tidak hanya mengetahui secara teori saja tapi juga untuk membuktikan secara praktik lapangan,” kata Eko.
Dengan kegiatan ini, siswa akan diajak untuk membuktikan cara penghitungan benda langit dan juga untuk belajar menentukan arah True North dan memperhitungkan diameter Matahari dengan teleskop lubang jarum.
“Kita undang mereka itu hanya sekitar seminggu yang lalu secara tertulis. Alhamdulillah, walaupun tidak lama masa pengundangannya tapi peminatnya cukup banyak,” ucapnya.
Harapannya, dengan mengikuti kegiatan ini, para peminat astronomi yang sudah memiliki motivasi untuk mempelajari astronomi ini akan semakin mendalami ilmu astronomi.