Sebulan Diperbaiki Kerusakan Jalinsum Kembali Terjadi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kerusakan sejumlah titik jalan di ruas Bakauheni-Kalianda kembali terjadi usai dilakukan perbaikan. Terakhir perbaikan dengan pengupasan aspal dan penambalan dilakukan Selasa (14/1/2020) silam. Imbas hujan deras, tonase kendaraan berlebih berimbas jalan berlubang, bergelombang. Sejumlah kerusakan jalan di ruas Desa Pasuruan hingga Desa Kelau menghambat pelaku usaha ekspedisi.Jal

Hambatan akibat kerusakan jalan yang terjadi tersebut diakui Yus Sondakh, Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gapasdap Bakauheni. Sebagai Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan, faktor kerusakan jalan ikut menghambat jasa pelayaran. Sebab kerusakan jalan mengakibatkan waktu tempuh kendaraan lebih lama.

Yus Sondakh, Sekretaris DPC Gabungan Penguasaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan saat ditemui di kantornya, Sabtu (8/2/2020). -Foto: Henk Widi

Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang menerapkan alat weight in motion (WIM) berimbas kendaraan memilih melintas di jalan nasional. Namun akibat jalan nasional yang kembali rusak berimbas waktu perjalanan bisa dua jam dari kota Bandar Lampung bisa mencapai tiga jam. Keterlambatan tersebut ikut mempengaruhi isi muatan kapal yang masuk ke jadwal pelayanan.

“Saat kapal sandar sementara kendaraan ekspedisi belum tiba di pelabuhan tentunya berdampak pada muatan,karena jadwal pelayanan akan menyesuaikan waktu tiba kendaraan,” terang Yus Sondakh saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (8/2/2020).

Kerusakan jalan menurut Yus Sondakh seperti yang dikeluhkan pelaku usaha ekspedisi berimbas biaya yang dikeluarkan meningkat. Sejumlah kendaraan yang pecah ban,rusak as di lokasi jalan rusak menambah operasional. Larangan kendaraan over dimension and over loading (ODOL) belum diberlakukan di lintas pelabuhan penyeberangan membuat pengendara memilih mengangkut muatan berlebih.

Kerusakan jalan yang diakibatkan kendaraan kelebihan muatan disebut Yus Sondakh ditambah faktor cuaca. Hujan yang melanda wilayah Lampung berimbas sejumlah titik di ruas Jalinsum cepat rusak. Kerusakan disebutnya didominasi terkelupasnya aspal,amblas dan berlubang. Saat digenangi air kala hujan kerusakan jalan semakin bertambah parah.

“Kendaraan ekpedisi yang lancar tiba di Pelabuhan Bakauheni tentunya akan berdampak positif, tapi imbas jalan rusak kerap terlambat,” bebernya.

Kendaraan ekspedisi melintas di Jalan Tol Trans Sumatera KM 15 Desa Tetaan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan menuju pelabuhan penyeberangan Bakauheni,Lampung Selatan, Sabtu (8/2/2020). -Foto: Henk Widi

Zaelani, pengurus truk (Petruk) kendaraan ekspedisi menyebut pilihan menggunakan jalan tol kerap diurungkan sejak ada alat WIM. Sebab sensor pendeteksi ukuran dan timbangan digital di depan loket tiket tol sudah ada di gerbang tol Bakauheni Selatan. Kendaraan dari arah Bandar Lampung yang melintas di tol juga harus melewati alat WIM di gerbang tol Lematang.

“Pilihan yang dipakai tetap di jalan lintas Sumatera agar muatan dan ukuran tidak terdeteksi,” beber Zaelani.

Ia menyebut pemilik usaha ekspedisi enggan disalahkan terkait kerusakan jalan. Sebab kondisi jalan nasional di sejumlah titik memiliki kualitas yang bagus. Namun pada sejumlah titik diantaranya ruas Ketibung, Penengahan sejumlah jalan bergelombang. Ia berharap sejumlah ruas jalan yang rusak dengan konstruksi aspal bisa diganti dengan rigid beton meminimalisir kerusakan yang cepat terjadi.

Perbaikan sejumlah titik jalan rusak sebulan sebelumnya telah dilakukan oleh instansi terkait. Agustian, pengawas dari Dinas Pekerjaan Umum sebelumnya menyebut perbaikan hanya dilakukan pada sejumlah titik. Titik yang rusak ditambal setelah ada laporan seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas di Desa Pasuruan. Proses penambalan dengan aspal dilakukan menutup sejumlah lubang agar tidak bergelombang.

Kerusakan jalan nasional menurutnya dipengaruhi faktor melintasnya kendaraan dengan muatan berlebih. Larangan kendaraan ODOL melintas di ruas jalan tol, jalan nasional disebutnya masih belum cukup efektif. Sebab meski telah dilakukan tindakan namun pemilik kendaraan masih memilih melintas di jalan nasional. Imbasnya meski perbaikan telah dilakukan berulang kali kerusakan berpotensi terjadi.

Lihat juga...