Rumah Warga Desa Pasuruan Pasca Kena DBD Di-fogging
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Pasca dua warganya terkena penyakit demam berdarah dengue (DBD) dirawat selama tiga hari di RSUD Bob Bazaar Kalianda, dan dinyatakan sembuh, Pemerintah Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) berkoordinasi dengan Puskesmas melakukan sejumlah langkah pencegahan.
“Penyelidikan epidemologi, fogging dilakukan di sekitar rumah warga yang terkena penyakit DBD agar tidak terjadi penularan,” ujar Sumali, Kepala Desa Pasuruan saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (14/2/2020).
Upaya pencegahan penyakit DBD dilakukan dengan membagikan bubuk abate. Bubuk ini menjadi cara pengendalian vektor penyakit demam berdarah secara kimia. Kandungan kimia yang ada di dalam bubuk abate berupa Temephos bisa membunuh jentik nyamuk sebelum mencapai fase dewasa dan menyebarkan penyakit DBD.
Selain pemberian bubuk abate gratis pada sejumlah warga, pemerintah desa setempat juga bekerja sama dengan Puskesmas Rawat Inap melakukan pengasapan atau fogging. Pengasapan dilakukan pada radius sekitar 100 meter dari tempat penderita DBD.
Bidan Indah Suprihatin dari UPT Puskesmas Rawat Inap Penengahan menyebut fogging dilakukan oleh petugas. Pengasapan di Dusun Pasuruan Bawah menurutnya dilakukan setelah dua warga terkena DBD.
“Setelah dilakukan penyelidikan epidemologi, petugas melakukan fogging dan membagikan abate agar DBD bisa diminimalisir,” tutur Indah Suprihatin.
Fogging menjadi langkah terakhir membasmi nyamuk dewasa. Meski demikian PHBS dan upaya menjaga kebersihan lingkungan oleh masyarakat penting dilakukan. Selama musim penghujan warga yang memiliki bak penampungan air harus rutin melakukan pengurasan. Sebab upaya PSN bisa dilakukan dengan 3 M meliputi menguras, menutup, mengubur barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga penting dilakukan untuk mencegah warga terkena penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Sumali, Kepala Desa Pasuruan, menyebut pembersihan lingkungan gencar dilakukan di desanya. Pengelolaan sampah dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) digencarkan melalui kegiatan Jumat Bersih.
Melalui kegiatan PSN dan PHBS masyarakat akan terhindar dari penyakit DBD. Pengurangan potensi sarang nyamuk berupa genangan air, kaleng, bambu dilakukan oleh warga secara swadaya dan gotong royong.
Menurut Sumali, salah satu upaya PHBS dilakukan dengan peduli terhadap kebersihan lingkungan di dalam maupun di luar rumah. Sebab virus dengue dibawa melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty.
Berkoordinasi dengan UPT Puskesmas rawat inap Penengahan, Sumali menyebut promosi kesehatan gencar dilakukan. Penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat bahaya penyakit DBD dilakukan dengan adanya juru pematau jentik (Jumantik). Para kader jumantik di desa memiliki tugas melakukan pemeriksaan setiap rumah dan pembagian abate.
“Angka bebas jentik bisa ditingkatkan melalui peran aktif kader Jumantik terutama musim penghujan potensi genangan semakin tinggi, kesadaran warga menjaga kebersihan lingkungan sangat diperlukan,” terang Sumali.
Selain menjaga kebersihan lingkungan melalui PHBS, Desa Pasuruan juga mengaktifkan peran kader Posyandu. Kader Posyandu memiliki peran penting untuk menerapkan PHBS dari lingkungan keluarga.
Selain menjaga kesehatan masyarakat juga diimbau mengonsumsi makanan yang mengandung asupan gizi lengkap dan seimbang. Pemberian vitamin bagi anak anak di Posyandu juga menjadi langkah meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Sebelumnya saat dikonfirmasi dr. Diah Anjarini, M.Epid, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Lamsel menyebutkan DBD rentan saat penghujan.
Ia mengatakan hingga pertengahan Februari Dinkes Lamsel mencatat sebanyak 86 kasus DBD dilaporkan. Sejumlah kasus tersebut berasal dari kecamatan yang ada di Lamsel sebagian di rawat di Puskesmas, klinik kesehatan dan dirujuk ke RSUD Bob Bazaar.
“Temuan kasus DBD yang ada sebagian sudah sembuh karena sebagian hanya suspect dan mulai pulih,” beber dr. Diah Anjarini.
Peran masyarakat dalam pencegahan DBD, menurutnya sangat penting. Saat meninjau UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang ia menyebut ada sebanyak 20 kasus DBD dan 9 dinyatakan positif. Langkah Puskesmas menurutnya harus gencar melakukan PHBS dan PSN.
Komitmen dengan sejumlah desa penting dilakukan melalui pembentukan kader Jumantik. Para kader ikut berperan mengurangi angka jentik nyamuk di setiap rumah mencegah DBD.