Pohon Tuhan

CERPEN YUDHI HERWIBOWO

AKHIRNYA kisah tentang pohon itu didengar juga oleh Barabujjak, penguasa kota Ular. Seorang tukang cerita yang kebetulan singgah ke kotanya, menceritakan kisah itu dengan terperinci. Tentu dengan bumbu-bumbu seperti biasanya.

“Suatu hari, seorang pencari tanaman obat menemukannya begitu saja. Sebatang pohon yang seperti tercerabut dari akarnya, dan melayang beberapa tombak di atasnya. Semula ia menyangka kalau pohon itu tertarik dahan atau akar pohon lain yang ada di tepi-tepi jurang. Tapi tidak, pohon itu benar-benar benar-benar melayang begitu saja, bagai burung yang mengepakkan sayap pertamanya tepat di depan kita…”

Si tukang cerita berhenti sejenak, sengaja mendramatisasi jeda. Lanjutnya, “Orang-orang dari Desa Jarra dan sekitarnya, kemudian mulai berbondong-bondong datang. Awalnya mereka hanya ingin melihat saja, namun –entah siapa yang memulai– mereka mulai berdoa di bawah pohon. Beberapa orang bahkan mulai membawa sesaji. Saat aku datang dan melihat sendiri pohon itu, orang-orang sudah menyebutnya sebagai… Pohon Tuhan.”

Kedua mata Barabujjak berkilat. Ia tak menyebunyikan lagi ketertarikannya. Selama ini, ia telah memiliki apa pun. Hartanya ada dalam gudang yang begitu besar. Istri-istrinya yang berderet menantinya setiap malam, bahkan tak lagi bisa seluruhnya dihapal namanya.

Ia bayangkan, bila ia memiliki pohon itu, ia akan semakin ternama. Kotanya akan semakin ramai. Dan ia yakin, ia bisa mengeruk lebih banyak lagi uang dari pohon itu.

Barabujjak segera saja memerintahkan orang kepercayaannya untuk mendatangi Desa Jarra dan sekitarnya. Selain untuk melihat langsung, ia juga diberi wewenang untuk memberi tawaran pada penduduk desa.

“Katakan pada mereka, aku akan membangun lumbung yang berisi penuh padi bagi mereka semua selama 10 tahun,” serunya.

Tapi seminggu berselang, orang kepercayaan Barabujjak datang melaporkan hasilnya, “Tak ada satu pun desa yang tertarik dengan tawaran itu. Mereka nampaknya sudah cukup bahagia hanya dengan memiliki pohon itu bersama-sama.”

Barabujjak hanya mengangkat bahu. Ia tentu sudah menduga dengan penolakan itu. Nampaknya orang-orang desa itu tahu betul betapa berharganya pohon mereka. Maka Barabujjak pun langsung memerintahkan rencana keduanya.
***
DI Desa Jarra, tempat terdekat dari Jurang Jarra, semua orang berkumpul di balai desa dengan wajah tegang. Berita tentang iring-iringan orang bersenjata dan bertameng yang membawa puluhan kuda dan kerbau, sudah mereka dengar sejak sehari sebelumnya.

Mereka sudah bisa menebak kalau itu adalah iring-iringan yang diutus penguasa kota Ular yang beberapa waktu lalu ingin memiliki Pohon Tuhan mereka.

“Ia memang laki-laki serakah,” teriak kepala Desa Jarra. “Ia berniat memiliki pohon –yang merupakan harta kita satu-satunya di sini– untuk dirinya sendiri. Sungguh, terkutuklah dia!”

“Kita harus melawannya!” seru penduduk yang lain. Teriakan disambut penduduk lainnya. Seketika teriakan itu membahana ke seluruh penjuru desa.

Di salah satu sudut keramaian, seorang gadis kecil menatap mata ayahnya, “Ayah, apakah pohon kita akan diambil?” bisiknya dengan nada ragu.

Ayahnya hanya mengangguk, “Ya, Sayang. Ada orang serakah yang menginginkan pohon itu untuk dirinya sendiri.”

Gadis kecil itu berpikir sejenak, “Kalau pohon kita diambil, di mana kita akan berdoa nanti?”
Ayahnya hanya terdiam, tak bisa menjawab.

Para penduduk desa berniat menahan iring-iringan itu dengan segala cara. Mereka membuat barikade-barikade dari bambu yang dipotong ujungnya hingga tajam. Mereka juga membuat lubang-lubang berisi tanaman berduri.

Tentu, bagi Barabujjak itu hanyalah jebakan main-main. Yang ia bawa adalah 300 laki-laki yang terbiasa bertarung untuknya selama ini. Mereka membawa pedang, panah, belati dan tentu saja tameng.

Mereka terkenal sejak lama, karena kuat, kejam dan tanpa ampun. Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan mereka.

Beberapa penduduk desa yang ada di bagian paling depan, hanya bisa menelan ludah melihat iring-iringan itu. Baru saja pemimpin mereka memerintahkan seseorang untuk bicara baik-baik kepada pemimpin iring-iringan itu, ratusan panah sudah terlontar ke langit. Hanya butuh waktu sepembacaan satu doa, penduduk desa diselesaikan.

Kematian penghadang pertama itu segera membuat gempar seluruh desa di sekitar Jurang Jarra. Dengan kemarahan meluap, para laki-laki lainnya segera mengambil arit dan golok yang biasa dipakai untuk memotong rumput dan pohon.

Mereka bergerak maju. Menunggu di pohon-pohon yang ada di tepian setapak, siap menerjang bila iring-iringan itu lewat.

Tapi yang terjadi, sebelum iring-iringan utama lewat, orang-orang Barabujjak sudah datang lebih dahulu ke pohon-pohon itu, dan memanahi mereka satu demi satu. Sungguh, nasib penghadang kedua itu tak jauh berbeda seperti kawan-kawan mereka sebelumnya.

Kini, sepanjang jalan, mayat-mayat bergeletakan, tanpa satu pun korban dari pihak Barabujjak. Barabujjak yang melihat sendiri pemandangan ini, hanya menutup hidungnya dengan ibu jarinya.

“Kalau ini sampai terlihat orang lain,” ujarnya pada orang kepercayaannya, “Bisa hancur reputasiku yang baik hati ini. Selesaikanlah semuanya lebih dulu, seperti biasa!”

Orang kepercayaannya itu hanya mengangguk. Ia segera membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Yang satu bertugas membuang mayat-mayat itu ke tempat yang aman, dan yang satu lagi segera memisahkan diri dari iring-iringan untuk menuju ke arah desa-desa di sekitar jurang.

Hanya ada satu perintah saat itu: siapa pun yang terlihat oleh mereka, segera tebas tanpa ampun!
Kepanikan pun terjadi. Orang-orang yang tersisa –kebanyakan anak-anak, perempuan dan orang-orang tua– segera berlarian untuk menyelamatkan diri.

Satu-satunya yang terpikir oleh mereka adalah melarikan diri menuju jurang, di mana Pohon Tuhan berada.

Anak buah Barabujjak terus mengejar dengan pedang mereka yang telah bersimbah darah. Di dekat Pohon Tuhan, orang-orang desa itu segera berlutut dan berdoa dengan tangisan mereka.

“Pohon, selamatkanlah kamiiiii…”

“Selamatkan kamiii…”

Tapi Pohon Tuhan tak bergeming. Anak buah Barabujjak mulai mendekati mereka, lalu teriakan-teriakan kematian terdengar satu demi satu.
***
BARABUJJAK memimpin sendiri proses penarikan Pohon Tuhan dari Jurang Jarra. Strateginya sangat sederhana, ia memerintahkan orang-orangnya untuk mengikat pohon itu dengan tali terkuat, lalu puluhan kuda dan kerbau akan menariknya pelan-pelan.

Sudah dibayangkan pohon yang melayang itu akan mengikut tarikannya, seperti balon udara yang ditarik seorang bocah.

Tapi rupanya, kuda dan kerbau tak cukup kuat menarik pohon itu. Walau dipecut puluhan kali, pohon itu tetap tak bergeming. Barabujjak segera memerintahkan 300 anak buahnya untuk ikut menarik bersama.

Tali-tali pun kembali dipasang di seluruh bagian pohon itu. Kali ini, Barabujjak sendiri yang menghitung, “Satuuu… Duaaa… Tariiiik!!!”

Kali ini pohon itu nampak mulai bergerak. Barabujjak hampir saja menyambutnya dengan sorak gembira, tapi hanya sepengedipan mata kemudian, pohon itu tiba-tiba jatuh ke tanah begitu saja!

Suara pohon yang mengempas tanah terdengar memekakkan, getarannya yang kuat seperti akan meruntuhkan seluruh tebing jurang. Membuat kuda-kuda dan kerbau-kerbau begitu ketakutan, termasuk para anak buah Barabujjak.

Barabujjak sendiri hanya mengusap dahinya. Ia sempat berpikir kalau tebing di sekitar jurang ini akan roboh dan menimbun mereka semua di sini. Tapi ia lega itu hanya ketakutannya saja.

Ia segera memerintahkan orang-orangnya untuk kembali menarik pohon itu, diiringi tatapan ragu sebagian besar anak buahnya, termasuk orang kepercayaannya.

Barabujjak kemudian berkata, “Kalau kita bersalah telah mengambil Pohon Tuhan, kita pastilah sudah dihukum dengan tertimbun di jurang ini! Tapi ternyata Tuhan tak memberi hukuman apa-apa. Itu artinya: yang kita lakukan bukanlah sebuah kesalahan. Jadi bawalah pohon ini ke kota kita! Kita muliakan pohon ini lebih dari penduduk desa di sini memperlakukannya.“

Pada akhirnya, pohon itu tiba juga di Kota Ular. Barabujjak segera memerintahkan untuk membangun 4 pilar besar yang mampu mengikat pohon itu sehingga ia nampak melayang di udara. Lalu ia mulai memerintahkan orang-orang di kotanya untuk berdoa pada pohon itu.

Di hari pertama pohon itu dibuka untuk umum, Barabujjak sendiri yang memimpin doa bersama. “Ini adalah Pohon Tuhan yang telah lelah. Terus berdoalah di sini, agar ia kembali dapat melayang seperti sedia kala,” ujarnya dengan suara paling khusuk.

Tapi berapa lama pohon yang tercerabut dari akarnya bisa bertahan? Beberapa bulan saja, pohon itu sudah membusuk. Ia menguarkan bau busuk yang menyengat ke seluruh sudut kota, terutama ke kediaman mewah Barabujjak.

Barabujjak pun segera memerintahkan anak buahnya untuk membuang pohon itu jauh-jauh. Anehnya, walau pohon itu sudah dibuang jauh, bau busuk tetap tercium.

Barabujjak hanya bisa berteriak pada orang kepercayaannya, “Guoblok sekali kalian yang membuang pohon itu begitu saja! Kalian harus menguburnya, Toloool!!! Apa kalian tak pernah tahu, kalau mayat yang dibiarkan tak dikubur juga akan menguarkan bau busuk?! Dasar guoblok!!!”

Orang kepercayaan itu hanya bisa menunduk. Ia hampir saja membantah, “Waktu itu, Tuan hanya memerintahkan membuangnya jauh-jauh! Sama sekali tak menyuruh kami menguburnya!”

Tapi ia hanya berlalu sambil membawa kembali orang-orangnya ke tempat membuang pohon itu. Di situ ia mengubur pohon itu dalam-dalam.

Tapi walau sudah dikubur begitu dalam, bau busuk itu tak juga hilang di Kota Ular. Bau busuk itu seakan telah menyatu dengan udara di seluruh kota untuk selama-lamanya.

***

JAUH dari Kota Ular, seorang gadis muda diam-diam datang ke Jurang Jarra. Ia adalah satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian beberapa tahun lalu di desanya. Awalnya ia hanya berniat berdoa untuk ayah dan seluruh penduduk desa yang tewas di hari itu.

Tapi ia tertegun saat tiba di mana Pohon Tuhan dulu berada. Di situ dilihatnya pohon-pohon kecil –yang nampak tumbuh dari biji– melayang memenuhi hampir seluruh jurang ini. Jumlahnya ratusan, bahkan mungkin ribuan. Seketika gadis itu teringat kembali dengan pertanyaan lugunya pada ayahnya dulu…

“Kalau pohon kita diambil, di mana kita akan berdoa nanti?” ***

Yudhi Herwibowo, menulis cerpen dan novel. Salah satu novel karyanya Sang Penggesek Biola, Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman (Penerbit: Imania).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media mana pun, baik cetak, online atau buku. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi redaksi. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...