Pemuda Pariaman Olah Daun Serai Jadi Minyak Serai

Editor: Makmun Hidayat

PARIAMAN — Ada hal yang menarik dilakukan oleh seorang pemuda asal Desa Batang Tajungkek, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Dengan memanfaatkan tanaman serai yang ada di kawasan rumah, telah mampu menghasilkan minyak yang bermanfaat. 

Pemuda itu Ryan Hidayat (30 tahun), kreatif mengelola serai telah mengantarkannya menjadi seorang pengusaha muda. Kini ia menargetkan produk minyak serainya itu bisa menempuh pasar ekspor.

“Minyak serai ini baru saya mulai belum lama ini, setelah tamat dari pendidikan analisis kimia. Alhamdulillah saya dapat melahirkan produk, yang saya beri Tunas Wangi,” katanya, Selasa (25/2/2020).

Dari pengalaman dan ilmu pendidikannya itu, Ryan berhasil mengembangkan minyak serai dengan kandungan citronella 44,30 persen tanpa bahan kimia tambahan. Dari kreativitasnya itu, telah melahirkan per botol 10 cc dengan harga Rp25 ribu.

Ia menjelaskan, dalam melakukan pengembangan tersebut, modal yang digunakan mencapai Rp40 juta. Modal sebanyak itu, Ryan memilih untuk sewa lahan dan perakitan peralatan penyulingan, yang terbuat dari drum.

“Alat yang saya gunakan ini, dibuat dari drum bekas dan komponen lainnya. Memang masih terlibat tradisional, tapi sebagai langkah awal, saya rasa cukuplah. Namun apabila nanti sudah banyak bahan, saya berencana untuk melakukan ekspor,” sebutnya.

Ryan mengaku, dalam melakukan ekspor, banyak hal yang perlu dilakukan, seperti peralatan harus sesuai standar, ada sebuah pabrik, dan memiliki pekerja, yang intinyo sesuai ISO. Untuk itu, secara perlahan ia akan mencoba terus menambah produksi minyak serai.

“Jadi pengembangan tersebut masih berkisar satu tahun saya lakukan. Ternyata hasilnya memuaskan, makanya saya bercita-cita untuk membuat usaha ini lebih besar lagi,” ungkapnya.

Kini dari produk turunannya, Ryan bisa menghasilkan di antaranya sabun, pembersih lantai, dan cairan pengusir nyamuk. Hal ini dikarenakan, minyak serai ini yaitu di antaranya anti nyeri, anti nyamuk, aroma terapi.

“Soal pemasarannya saya masih lakukan dengan cara menghantarkan. Ke depan saya akan melakukan kerja sama dengan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag),” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Batang Tajungkek, Riko Herianto, mengaku dengan hadirnya usaha minyak serai itu, dapat menambah perekonomian masyarakat. Apalagi yang melahirkan usaha itu seorang anak muda, diharapkan dapat memotivasi pemuda-pemuda lainnya.

“Saya melihat minyak serai ini  menjadikan sebuah produk yang lahir dari daerah Pariaman. Serta juga bisa sebagai penghasil minyak serai melalui BUMDes, karena memiliki potensi yang besar,” jelasnya.

Dikatakannya, jika pabrik penyulingan minyak serai berdiri maka setiap rumah di daerah itu akan menanam serai di lingkungannya karena bernilai ekonomis. Apalagi serai tidak perlu perawatan yang intensif, sekali tanam dan panen enam bulan kemudian.

“Serai ini peremajaannya hanya dalam waktu 10 tahun. Dan usaha ini berpotensi besar untuk kita kembangkan lagi,” tegasnya.

Lihat juga...