Minim Pasokan, Penjualan Pisang Matang Untungkan Pedagang
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Minimnya pasokan pisang usai hama layu fusarium berimbas pedagang pisang matang mendapat keuntungan.
Zaenab, pedagang pisang matang di Jalan Raden Intan II Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut stok pisang masih sulit diperoleh dari pemasok. Sejumlah tanaman pisang yang memasuki tahap pemulihan imbas jamur fusarium oxysporum belum berproduksi.
Sebagian pisang matang yang dijual berasal dari kebun yang ada di kaki Gunung Rajabasa. Jenis pisang tersebut meliputi kepok, janten, tanduk, ambon, sereh dan muli. Berbagai jenis pisang tersebut pada sejumlah wilayah di Lamsel mulai sulit diperoleh. Sebab selain hama layu fusarium, perombakan tanaman untuk lahan jagung menurunkan jumlah produksi.

Tanaman pisang di kaki Gunung Rajabasa, menurut Zaenab, merupakan tanaman polikultur. Sebab tanaman tersebut dibudidayakan bersama dengan tanaman kakao, pisang dan komoditas pertanian lain. Menanam pisang sebagai salah satu jenis hasil perkebunan menjadi investasi jangka menengah yang dipanen setiap pekan. Pencegahan hama layu fusarium dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun.
“Dalam waktu hampir lima bulan terakhir sulit mendapatkan pisang matang karena tanaman banyak yang diremajakan sehingga produksi buah belum maksimal,” ungkap Zaenab saat ditemui Cendana News,Jumat (7/2/2020).
Zaenab menyebut dominan menjual pisang matang untuk konsumsi buah segar dan diolah menjadi kue. Pelanggan tetap berasal dari pedagang kolak pisang, pisang goreng, martabak pisang. Selain pedagang kuliner pisang matang kerap dibeli oleh ibu rumah tangga untuk membuat kue naga sari, simpok pisang untuk acara keluarga. Sejumlah penghobi burung kicau kerap membeli pisang untuk stok pakan.
Minimnya stok membuat ia menjual pisang matang dengan kenaikan Rp2.000 hingga Rp5.000 pergandeng. Pada saat pasokan pisang minim ia menjual pergandeng berisi dua sisir pisang Rp10.000 hingga Rp15.000. Jenis pisang kepok pergandeng dijual seharga Rp10.000, pisang sereh Rp15.000, pisang ambon Rp15.000 dan pisang tanduk Rp15.000 pergandeng.
“Harga pisang menyesuaikan jenisnya dan jika pembeli akan memakai pisang untuk dijual lagi menjadi bahan kuliner akan diberi diskon,” tuturnya.
Musim penghujan yang mulai rutin mengguyur Lamsel diakuinya akan memberi dampak positif bagi petani pisang. Sebab sebagian tanaman pisang yang sebelumnya layu mulai tumbuh dengan tunas yang baru. Petani disebut Zaenab memilih menanam pohon pisang jenis tanduk, muli, kepok, ambon dan janten yang disukai masyarakat. Sebab kebutuhan pisang akan semakin meningkat mendekati bulan Ramadan.
Dina, warga Desa Pisang Kecamatan Penengahan menyebut membeli buah pisang untuk dibuat kolak. Ia mulai sulit mendapatkan pisang matang untuk bahan baku kuliner. Harga yang dibeli untuk berbagai jenis pisang matang menurutnya mulai mengalami kenaikan. Ia memilih membeli pisang untuk dibuat menjadi kolak yang akan dinikmati dalam kondisi panas.
“Saat ini musim dingin, keluarga suka mengonsumsi kolak yang disajikan dalam kondisi hangat,” ungkap Dina.

Dina menyebut sempat berkeliling mencari pisang di sejumlah warung sayuran. Namun jenis pisang yang dijual merupakan pisang muli yang tidak bisa diolah menjadi kolak. Jenis pisang muli menurutnya hanya cocok digunakan sebagai buah segar atau pencuci mulut. Ia mendapat pisang matang di Desa Banjarmasin berjarak sekitar lima kilometer dari desanya.
Minimnya stok pisang diakui Surahman, salah satu pengepul yang mencari ke sejumlah desa. Meski memperoleh pisang dari sejumlah petani harga yang ditawarkan sudah naik. Sebelumnya satu tandan pisang kepok dibeli hanya Rp25.000 naik menjadi Rp30.000. Pisang tanduk semula Rp20.000 naik menjadi Rp25.000. Beberapa jenis pisang lain rata rata mengalami kenaikan Rp5.000 hingga Rp10.000 pertandan.
“Kualitas buah lebih baik namun produksi buah belum maksimal karena sebagian tanaman belum pulih usai kemarau dan hama fusarium,” beber Surahman.
Permintaan buah pisang dalam kondisi mentah untuk kebutuhan pembuatan keripik pisang menurutnya masih belum stabil. Sejumlah produsen keripik pisang bahkan memilih berhenti produksi. Ia menyebut memilih menjual pisang dalam kondisi matang pada sejumlah pedagang pisang goreng dan kuliner lain. Nilai jual yang lebih tinggi menjadi pilihan baginya menjual pisang dalam kondisi matang.