Dampak Virus Corona Menambah Suram Ekonomi Indonesia
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Direktur Eksekutif nstitute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Tauhid, menilai dampak virus Corona menambah suram perekonomian Indonesia di 2020. Utamanya dalam peran besar struktur ekspor impor.
Karena, menurutnya ketika permintaan dari Cina melambat, otomatis mempengaruhi ekspor produk Indonesia. “Kita mau tidak mau, saat permintaan Cina melambat berdampada ekspor kita,” ujarnya, pada konferensi ‘100 Hari tanpa Akselerasi Ekonomi: Respons Atas Kinerja Ekonomi Triwulan IV 2019’ di Jakarta, Kamis (6/2/2020).
Dampak lainnya, yaitu investasi Cina. Porposi Indonesia di Cina pada 2018 hampir 16 persen. Ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, karena dengan situasi virus Corona dan kondisi global, maka investor Cina akan memprioritaskan perbaikan ekonomi domestiknya, ketimbang investasi ke negara lain, termasuk ke Indonesia.
“Karena Cina butuh recovery, infrastuktur yang saat ini rusak atau ekonomi yang tidak berjalan. Mereka harus memenuhi kebutuhan domestik sebelum investasi, terutama Foreign Direct Investment (FDI) yang dibutuhkan oleh negara-negara lain,” ujarnya.
Ahmad menjelaskan, kedua hal tersebut yang menyebabkan situasi virus Corona akan berdampak cukup besar di Indonesia.
“Dampak virus Corona itu menambah suram perekonomian kita di 2020,” tegasnya.
Sementara, Abdul Manap Pulungan, Center of Macroeconomics and Finance INDEF, menambahkan virus Corona di Cina berdampak pada ekonomi global, terutama dari lalulintas wisatawan.
“Karena Cina ini sebagai negara berkembang dengan pendapatan meningkat, sehingga masyarakatnya sangat suka pelesir,” ujarnya.
Ke dua, yakni mempengaruhi terhadap perdagangan. Karena Cina menjadi pusat produksi dunia. Sehingga, pada saat nanti penerbangan terhenti, akan berpengaruh terhadap ekonomi secara keseluruhan.
“Untuk Indonesia, porsi ekspor ke hina itu 15 persen, sedangkan impor 30 persen. Jadi, kalau Cina ekonominya lambat, tentu akan terpengaruh,” ujarnya.
Terkait investasi Cina yang mulai meningkat perannya terhadap Indonesia, Abdul menyayangkan ada masalah dari Cina-nya. Yakni, pada saat negara itu investasi ke Indonesia, terbiasa membawa tenaga kerja sendiri untuk dipekerjakan di proyek yang diinvestasikan. Sehingga tidak ada kontribusi besar terhadap sektor tenaga kerja Indonesia.
Pada saat ini, jelas dia lagi, pertumbuhan ekspor Cina dengan kontribusi 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Hal ini tentu akan menyeret seluruh ekonomi dunia ke angka yang lebih rendah.
“Lalu, bagaimana pertumbuhan ekonomi direalisasi negara lain yang berkembang?” katanya.
Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,1 persen di triwulan IV 2019, di kuartal 1 skitar 2,3. Cina 6,1 persen. Sementara peluang AS masuk fase krisis itu makin tinggi, baik dari politik dan indikator lainnya.