Warga Tampung Hujan untuk Penuhi Kebutuhan Air Baku
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Sejumlah warga di kawasan pesisir pantai Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) mulai menampung hujan untuk dapat memenuhi kebutuhan air baku.
Eko Prapto, warga Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni menyebutkan, tinggal di kawasan pesisir pantai membuat ia mengalami kesulitan air baku, khususnya air tawar. Salah satu pilihan dengan memanfaatkan air hujan melalui proses penampungan dan penyaringan.
Eko Prapto menyebutkan, instalasi penampungan air hujan yang turun sejak Rabu (1/1/2020) dilakukan dengan membuat talang tersambung dengan pipa pvc, saringan dan jerigen.
Sebelumnya, warga memanfaatkan mata air dari bukit Pematang Malang yang dialirkan menggunakan selang dan bak penampungan. Namun selama kemarau debit air menyusut sehingga warga harus mengantre untuk mendapatkan air. Bahkan masyarakat setempat memilih mengambil air bersih dari dusun lain yang memiliki sumur gali atau membeli dengan jerigen.
“Warga yang memiliki sumur gali mendapatkan air payau sehingga hanya digunakan untuk mandi, mencuci sementara kebutuhan minum dan memasak harus memakai air tawar. Air hujan yang ditampung bisa dipakai untuk toilet dan mencuci,” ungkap Eko Prapto saat ditemui Cendana News, Kamis (2/1/2020)
Pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan memasak, minum menurut Eko Prapto bisa dilakukan, namun harus melewati proses penyaringan terlebih dahulu. Air hujan yang memiliki kadar asam tinggi akan diendapkan pada tandon khusus setelah sebelumnya ditampung pada jerigen.
“Tandon penampungan khusus memanfaatkan batu kali, arang kayu, arang batok kelapa, pasir, ijuk aren dan serabut kelapa,” sebutnya.
Setelah melalui proses penyaringan, air baru dapat dimanfaatkan untuk memasak.
Selama hujan mulai turun ia memaksimalkan tandon berkapasitas 2000 liter. Sebagian air digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang datang di objek wisata pantai Tanjung Tuha Pasir Putih.
“Kebutuhan air meningkat karena lokasi objek wisata membutuhkan tempat bilas dan toilet bagi wisatawan,” bebernya.

Penampungan hujan bisa menghemat pengeluaran. Sebab air bersih ukuran 1.000 liter dibeli dengan harga Rp75.000. Sebaliknya air dalam jerigen berkapasitas masing masing 10 liter dibeli dengan harga Rp20.000. Pedagang air bersih umumnya akan mengirim saat ada pesanan.
Penampungan hujan juga dilakukan secara komunal oleh warga Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi. Artha, kepala dusun setempat mengungkapkan, bantuan fasilitas bak penampungan digunakan untuk menampung air hujan.
“Selama ini warga mengandalkan air bersih bantuan dari relawan dan sebagian membeli,” papar Artha.