Padepokan Pencak Silat TMII, Dedikasi Ibu Tien Soeharto Lestarikan Budaya
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Dedikasi Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto dalam pengembangan dan pelestarian budaya bangsa sangat tinggi. Terbukti dalam pelestarian pencak silat sebagai seni beladiri tradisional asli budaya Indonesia, Ibu Tien Soeharto memprakarsai dibangunnya Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Manager Penginapan Padepokan Pencak Silat TMII, Erwin Soemarsono mengatakan, padepokan ini dibangun sebagai sarana khusus untuk pemusatan atau sentralisasi seluruh perguruan pencak silat se-Indonesia maupun warga pencak silat dunia.
“Padepokan Pencak Silat ini dibangun atas ide jenius Ibu Tien Soeharto, dan diresmikan oleh Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada tanggal 20 April 1997,” kata Erwin kepada Cendana News saat ditemui di area Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Menurutnya, Ibu Tien Soeharto dalam membangun padepokan ini berpikir sangat jauh ke depan. Tidak hanya dalam upaya pelestarian budaya warisan leluhur, tapi juga kelengkapan sarana penunjang kegiatan beladiri pencak silat.
Semua fasilitas yang ditampilkan bertujuan untuk pengembangan pencak silat. Diantaranya, Pendopo Utama sebagai kawah candradimuka pembentukan dan pematangan tehnik pencat silat dengan program pelatihan. Yang selalu dipantau oleh pengurus perguruan masing-masing dan pengurus wilayah yang berada di bawah naungan Pengurus Besar Pencak Silat Indonesia (PB IPSI).
Kemudian Pondok Gedeh, sebagai gelangang pertandingan pesilat dalam meraih prestasi. Fasilitas ini dilengkapi dengan tribun kapasitas 3.000 tempat duduk permanen, dua set kursi panggung VIP, sistem pengolahan suara dan lampu penerangan, serta toilet. Kesemuanya itu disesuaikan dengan standar international.
Di depan Pondok Gedeh ini terdapat monumen persembahan warga pencak silat sedunia untuk mengenang Ibu Tien Soeharto, yang begitu besar sumbangsih beliau bagi negara Indonesia dalam mengembangkan dan pelestarian pencak silat.
Dalam monumen itu tertulis ‘Di hari suci kau tinggalkan kami, dengan segala kemuliaan dan keagunganmu, bimbingan dan sumbanganmu tiada tara. Ikrar kami mengabdikan cita dan citramu dalam karsa dan karya pesilat Indonesia’.
“Itu ungkapan hati segenap pesilat Indonesia untuk Ibu Tien Soeharto. Hati mengikrarkan lestarikan pencak silat budaya bangsa sesuai amanah beliau,” ujar Erwin.
Fasilitas lainnya, tambah dia, Pondok Pustaka yang berada di sisi kanan pintu masuk utama padepokan adalah perpustakaan dan museum.
Fasilitas ini menyimpan sejarah perkembangan pencak silat di Indonesia, dan seluruh dunia. Tersimpan juga berbagai senjata khas pencak silat, beragam buku pencak silat dan koleksi buku-buku umum lainnya.
Selain itu, ada Pondok Serbaguna. Fasilitas ini digunakan untuk berbagai acara, seperti diskusi organisasi dan lainnya.

Ruangan ini berkapasitas 200 orang dan dilengkapi sistem pendingin, kamar rias, dapur, dan toilet. Juga tersedia meja tamu dan kursi, serta penataan suara dan pencahayaan berstandar international.
Padepokan ini juga dilengkapi Pondok Penginapan. Sehingga jika acara digelar lebih satu hari, maka pengunjung bisa menginap di Pondok Penginapan, yang dilengkapi dengan restoran.
Fasilitas Pondok Serbaguna dan Pondok Penginapan dikelola oleh manajemen padepokan sebagai sektor pendayagunaan bersifat komersil.
Seperti acara resepsi pernikahan dan diskusi-diskusi dengan menyewa Pondok Serbaguna. Untuk penginapan, pengunjung atau tamu bisa bermalam di Pondok Penginapan.
“Pondok Serbaguna dan Pondok Penginapan disewakan untuk umum. Hanya saja ada batasnya, kalau ada kegiatan pencak silat. Maka, kami mengutamakan pesilat, seperti pada Asian Games 2018, lalu. Seluruh panitia menginap di sini,” jelasnya.
Kegiatan pemusatan latihan daerah (Pilatda) pencak silat DKI Jakarta juga rutin dilakukan di Padepokan Pencak Silat TMII, ini. Bahkan pemusatan latihan tim pencak silat nasional juga dilakukan di Padepokan. Mereka juga menginap di Pondok Penginapan milik padepokan. Selain itu, perguruan-perguruan pencak silat yang berada di sekitar padepokan, juga kerap berlatih di sini.
Menurutnya, antusias generasi muda untuk belajar pencak silat terus menggeliat dibandingkan belasan tahun sebelumnya. “Dulu berlatih pencak silat itu masih malu. Sekarang kan pencak silat jadi ajang olahraga beladiri bergengsi berskala nasional dan mendunia. Di Asia saja sudah banyak peminatnya,” ujar Erwin.
Bahkan, kata dia, banyak warga luar negeri yang sengaja datang ke Indonesia untuk belajar pencak silat. “Ada beberapa orang dari negara lain ingin berlatih privat cari guru silat dari Indonesia. Mereka latihan silat di padepokan ini, dan juga menginap,” ujarnya.
Kembali Erwin menegaskan, bahwa pemikiran Ibu Tien Soeharto sangat jauh ke depan dengan membangun Padepokan Pencak Silat di atas lahan seluas 4,5 hektar.

Menurutnya, tidak ada cabang yang mempunyai fasilitas lengkap, mulai tempat latihan, area tanding, penginapan, ruang diskusi atau rapat, dan lokasinya juga sangat strategis berada di Jalan Raya TMII 1, Jakarta Timur.
“Ibu Tien Soeharto sangat mendukung sampai semua fasilitas tersedia. Beliau sudah memikirkan pencak silat kedepannya bagaimana. Tinggal kita menjaga dan melestarikannya,” ujar pria kelahiran 1971, ini.
Erwin merasa bangga bisa menjadi bagian dari Padepokan Pencak Silat TMII. Rasa bangga itu juga dihaturkan kepada Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto yang telah mengabdi melestarikan budaya bangsa, ditengah kesibukannya sebagai pemimpin negara.
Hingga kini, Erwin mengaku masih mengingat pesan Pak Harto yang disampaikan saat Beliau meresmikan Padepokan Pencak Silat TMII.
“Saya bertemu Pak Harto pas peresmian padepokan ini. Beliau berpesan agar kami melestarikan pencak silat ini dan menjaganya. Padepokan ini memberikan warna tersendiri untuk pelestarian budaya dari seorang Ibu Tien Soeharto,” ujar Erwin.
Dia berharap pengelola Padepokan Pencak Silat TMII dapat menjalankan program-program yang telah dicanangkan.
Sehingga kedepan menurutnya, seluruh warga pencak silat nusantara dapat lebih memanfaatkan fasilitas ini. Dalam upaya pengembangan dan pelestarian pencak silat budaya asli Indonesia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.