Organda Bakauheni: Tindak Bus Eksekutif Biarkan Penumpang Berdiri
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Keluhan sejumlah penumpang dari terminal eksekutif Bakauheni ke terminal Rajabasa yang dibiarkan berdiri tanpa tempat duduk langsung direspon.
Ivan Rizal, ketua dewan pimpinan cabang Organda khusus Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) sudah menyampaikan keluhan penumpang kepada pemilik perusahaan bus eksekutif dan akan memberi sanksi tegas kepada para kru.

Pelayanan bus eksekutif yang mulai dioperasikan sejak angkutan lebaran Idul Fitri 2019 silam menjadi solusi kurangnya bus. Selain itu pelayanan bagi penumpang kapal eksekutif asal pulau Jawa yang akan menuju ke terminal Rajabasa telah disiapkan bus khusus.
Sesuai komitmen awal sejumlah perusahaan otobus (PO) dengan 18 armada bus melayani rute terminal eksekutif.
Keluhan dari konsumen disebutnya menjadi informasi untuk pembenahan lebih lanjut. Sebab mindset yang dibangun oleh DPC Organda khusus Bakauheni bertujuan untuk pelayanan eksekutif.
Komitmen dengan pengusaha diantaranya saat ada penumpang meski sedikit, wajib diberangkatkan. Sebab bus eksekutif menggunakan akses jalan tol Trans Sumatera (JTTS).
“Kesepakatan awal saat jadwal sandar kapal dan ada penumpang maka harus diberangkatkan sesuai jadwal kapal eksekutif, dan wajib melintas melalui jalan tol karena waktu tempuh hanya satu jam,” ungkap Ivan Rizal saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (4/1/2020).
Ia menyebut kru bus dilarang menaikkan penumpang tidak sesuai dengan tempat duduk. Sebab sejumlah bus memiliki tempat duduk (seat) rata rata 30 kursi. Sesuai dengan pelayanan bus eksekutif ia melarang adanya kursi tambahan.
Bagi sejumlah bus eksekutif yang melanggar komitmen awal ia memastikan akan memberikan tindakan tegas. Sebab penumpang berdiri akan merusak citra bus eksekutif yang selama ini dibangun.
Fungsi petugas kontrol yang dimiliki oleh setiap perusahaan oto bus disebutnya harus dimaksimalkan. Sebab rute bus eksekutif memiliki tempat kontrol berada di dekat kampus Institut Tekhnologi Sumatera (Itera).
Petugas kontrol seharusnya memeriksa jumlah penumpang dan wajib menurunkan saat ada penumpang berdiri. Sebab penumpang berdiri berhubungan dengan aspek keselamatan selama di jalan tol.
“Selama ini antara awak bus dan petugas kontrol bisa disebut kucing-kucingan atau main mata sehingga sampai ada penumpang berdiri,” papar Ivan Rizal.
Adanya temuan tersebut sekaligus menjadi evaluasi dan masukan positif bagi DPC Organda khusus Bakauheni. Selanjutnya Ivan Rizal menyebut akan membuat kotak pengaduan, saran dengan menyediakan pusat panggilan (call center).
Call center disebutnya akan menjadi tempat mencari informasi jadwal keberangkatan bus eksekutif, kapal eksekutif sekaligus keluhan dan saran penumpang.
Tindakan tegas bagi operator bus diakuinya agar menjadi contoh bagi pengusaha bus yang lain. Cara tersebut dilakukan untuk mendukung langkah pemerintah dalam mendorong penggunaan moda transportasi massal.
Meski demikian moda transportasi massal yang disediakan harus sesuai selera salah satunya eksekutif.
“Mindset moda transportasi eksekutif juga harus diimbangi bagi para kru jangan sampai ada penumpang berdiri, bangku rusak dan kru tidak ramah,” papar Ivan Rizal.
Ia juga menyebut perlu adanya kontrol dari sejumlah pihak. Terlebih pada era keterbukaan banyak pengguna jasa yang memiliki media sosial.
Ia berharap dengan adanya pembenahan tidak akan ditemukan pengguna jasa yang kecewa dan mengunggah ke media sosial terutama pengguna jasa bus eksekutif. Masukan positif diakuinya akan menjadi pil pahit sekaligus obat untuk berbenah.
Sebelumnya diberitakan Cendana News, Nurjanah, salah satu penumpang wanita harus berdiri selama 1,5 jam di atas bus. Bersama dua anak perempuannya, wanita pengusaha makanan keripik pisang itu berangkat dari terminal Rajabasa, Kamis (3/1) dan harus berdiri.
Perjalanan memakai bus eksekutif itu bahkan harus ditambah dengan penumpang yang naik dari Sukarame sehingga jumlah penumpang berdiri bertambah.
“Saya trauma karena dua anak saya harus berdiri sementara saya harus melanjutkan perjalanan ke Sukabumi,” ujar Nurhasanah.
Ia menyebut telah menyampaikan komplain kepada awak bus. Meski sempat diberi tempat duduk oleh kondektur, imbasnya penumpang lain tetap berdiri. Selain menempuh jarak puluhan kilometer dari terminal Rajabasa perjalanan selama 1,5 jam dengan berdiri disebutnya cukup menyiksa.
Salah satu anak perempuannya bahkan berdiri saat naik bus PT Putra Karo Mandiri bernomor polisi BE 7870 BU itu.