Madrasah Ibtidaiyah di Sikka Roboh Diterjang Angin Kencang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Angin kencang yang menerjang kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Minggu (5/1/2020), membuat sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan 4 ruang kelas yang berada di desa Darat Pantai, kecamatan Talibura, roboh.

Akibat sekolah yang rata dengan tanah, kegiatan belajar mengajar di sekolah ini tidak bisa berlangsung dan para murid diliburkan untuk sementara sambil dicari alternatif tempat sementara untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

“Saat angin kencang kemarin Subuh sekitar pukul 03.00 WITA membuat sekolah ini roboh dan tidak bisa dipergunakan sama sekali,” kata kepala desa Darat Pantai, kecamatan Talibura, kabupaten Sikka, NTT, Emanuel Nong Endi, Senin (6/1/2020).

Emanuel Nong Endi, Kepala Desa Darat Pantai, kecamatan Talibura, kabupaten Sikka, provinsi NTT saat ditemui di bekas lokasi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Senin (6/1/2020). Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Endi, pemerintah desa sudah berpikir untuk mengatasinya serta sudah berkoordinasi dengan pengelola dan koordinator sekolah agar aktivitas belajar mengajar bisa dilaksanakan di SDK 130 Tanjung Darat yang lokasinya tidak jauh dari MI Darat Pantai.

Apabila orang tua murid setuju sebutnya, maka kegiatan belajar mengajar bisa dilaksanakan siang hari setelah SDK 130 Tanjung Darat selesai melaksanakan aktivitas belajar mengajarnya.

“Kalau orang tua murid dan pengelola setuju maka mulai besok sudah bisa melaksanakan aktivitas di SDK 130 Tanjung Darat. Kepala sekolah di sekolah tersebut juga sudah setuju sekolahnya dipergunakan,” ujarnya.

Endi mengaku tidak setuju apabila aktivitas belajar mengajar MI Darat Pantai dilaksanakan di masjid atau rumah warga untuk sementara waktu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Apalagi menurut dia, bila menggunakan SDK 130 Tanjung Darat, maka semua fasilitas baik meja, kursi maupun papan tulis sudah tersedia, dan gedung sekolahnya pun sangat layak untuk ditempati karena sudah permanen.

“Ada yang usul sekolah sementara di masjid atau di rumah warga tapi saya tidak setuju. Apalagi kalau dibangun tenda darurat di lokasi yang sama karena saat ini sedang musim angin kencang. Apalagi tempat tersebut berupa hamparan tanah lapang,” tuturnya.

Bila membangun tenda tambah Endi, maka saat angin kencang ditakutkan tendanya roboh dan bisa menimpa para murid serta guru yang sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Tentu menimbulkan permasalahan lagi.

Rusli, salah seorang pengurus sekolah mengaku, sekolah MI Darat Pantai merupakan sekolah jauh dari MIN Sikka di Nangahure, kelurahan Hewuli, kecamatan Alok Barat, dan sudah dibangun selama 4 tahun lebih.

Dahulu sekolah ini sebutnya, dibangun di sebelah utara sekitar 400 meter namun karena bermasalah dengan tanah maka baru setahun dipindahkan ke lokasi yang sekarang ditempati dan terkena bencana.

“Jumlah murid 42 orang dan ada 4 kelas dimana saya menyiapkan bahan bangunannya dan masyarakat yang bergotong royong membangun sekolah. Ini dibangun di atas tanah istri saya,” ujarnya.

Rencananya kata Rusli, pengelola akan membangun kantor sekolah dan sudah menurunkan material batu di lokasi tersebut namun keburu gedung sekolah rata dengan tanah akibat tersapu angin kencang.

Gedung sekolah kata dia, hanya berupa bangunan sederhana berdinding bambu belah (halar) dan berlantai semen kasar dimana gurunya pun digaji dari iuran komite dan bantuan dari pemerintah desa.

Disaksikan Cendana News di lokasi kejadian, semua material baik seng dan kayu sudah dibersihkan oleh pihak pengelola bersama masyarakat, dan dibiarkan menumpuk sementara di samping selatan lokasi bekas gedung sekolah.

Lihat juga...