Ketakutan karena Virus Corona Mendorong Harga Emas Rebound

Emas batangan. ANTARA

CHICAGO – Harga emas berbalik naik, atau rebound pada akhir perdagangan Kamis (23/1/2020) waktu GMT atau Jumat (24/1/2020) pagi WIB.

Hal itu dikarenakan meningkatnya kekhawatiran atas wabah Virus Corona di Cina. Rasa khawatir tersebut berdampak terhadap ekonomi global. Membebani sentimen untuk aset-aset berisiko, menopang permintaan terhadap aset-aset safe-haven seperti emas.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik 8,7 dolar AS atau 0,56 persen. Posisinya ditutup pada 1.565,40 dolar AS per ounce. Emas berjangka turun 1,2 dolar AS atau 0,1 persen, menjadi 1.556,7 dolar AS per ounce pada akhir perdagangan Rabu (22/1/2020). Sementara itu harga spot emas menguat 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 1.564,13 dolar AS per-ounce. “Virus Corona telah membawa orang ke emas, karena ada antisipasi dari banyak potensi gejolak dalam ekonomi yang terpengaruh,” kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments.

Menurutnya, wabah tersebut meningkatkan rasa tingkat ketidakpastian, pada pasar keseluruhan. Hal itu memaksa orang untuk mempertimbangkan lebih banyak tempat berlindung yang aman, jika ancaman virus tersebut menjadi epidemi yang lebih besar. Pemerintah China menempatkan jutaan orang di dua kota dalam isolasi, ketika jumlah kematian mencapai 18 orang, dan 634 orang dilaporkan telah terinfeksi.

Ketakutan virus korona menyebabkan kejatuhan terbesar di saham Cina dalam lebih dari delapan bulan. Hal itu pada gilirannya membebani pasar ekuitas global. Lebih lanjut memetik manfaat dari daya tarik emas batangan, imbal hasil surat utang AS jatuh ke posisi terendah dalam beberapa minggu. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah, mengurangi potensi kerugian memegang emas, yang tanpa memberikan suku bunga.

“Ekuitas sedikit lebih lemah sehingga memicu minat pada logam. Tapi tidak adanya risiko geopolitik dalam jangka pendek membuat harga emas terkendali. Pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) tidak terlalu banyak menggerakkan pasar,” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Bank Sentral Eropa terlihat lebih mempertahankan suku bunga. Posisinya tidak berubah, pada pertemuan kebijakan terbaru dan meluncurkan tinjauan strategis target inflasi dan alat-alatnya. Emas, dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman, di saat ketidakpastian politik dan ekonomi. Posisinya, naik ke tertinggi dalam tujuh tahun, mendekati 1.610,90 dolar AS pada 8 Januari, setelah meningkatnya ketegangan AS-Iran. Emas telah bertahan di atas 1.550 dolar AS sejak saat itu.

Fokus sekarang akan beralih ke pertemuan pertama Federal Reserve (Fed) AS tahun ini, yang dijadwalkan berlangsung 28 hingga 29 Januari. “Harga spot emas bisa kembali ke terendah 21 Januari di 1.545,96 dolar AS, tampak goyah di sekitar resistensi pada 1.564 dolar AS,” kata analis teknis Reuters Wang Tao. (Ant)

Lihat juga...