Aktivitas Fisik di Usia Lanjut Sangat Perlu
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Menjadi tua adalah alamiah dan akan dialami oleh setiap manusia. Tapi, usia bukan halangan untuk tetap menjaga kesehatan tubuh. Bahkan, keharusan melakukan aktivitas fisik menjadi hal yang penting di saat manusia memasuki periode lansia atau lanjut usia.
Dokter Hendro Purnomo menyebutkan, bahwa aktivitas fisik bukanlah sesuatu hal yang harus dihindari saat manusia memasuki masa lansia.
“Malah, harus menjadi suatu hal rutin. Karena saat menjadi lansia, artinya memasuki masa tidak produktif. Sehingga, seringkali aktivitas rutin berkurang dan atau ada orang lain yang mengerjakan aktivitas berat di rumah. Artinya, harus ada pengaturan waktu khusus untuk para lansia ini beraktivitas,” kata Hendro, saat ditemui di sela pemeriksaan kesehatan di acara CFD di Pemuda Rawamangun, Jakarta, Minggu (26/1/2020).
Ia menjelaskan, bahwa aktivitas fisik pada masa lansia tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik. Tapi, juga bagi kesehatan mental.
“Olah raga ringan dan aktivitas fisik dapat meningkatkan kesehatan para lansia. Baik yang hanya lemah karena usia tua, maupun lansia yang memiliki gejala penyakit tertentu. Dengan menjadi sehat, para lansia akan menjadi percaya diri dan bisa tetap aktif bersosialisasi di masa tuanya. Dan, akan menghindari para lansia dari perasaan tidak berguna, atau merasa menyusahkan anak-anaknya,” urai Hendro.
Aktivitas fisik dan olah raga pada lansia dinyatakan mampu menjaga kesehatan jantung, melancarkan sirkulasi darah, menjaga sistem imun tubuh dan mengurangi tingkat stres.
Hendro juga menyebutkan, waktu untuk melakukan aktivitas fisik dan olah raga yang dipilih tentunya harus menyesuaikan dengan kemampuan lansia tersebut.
“Durasi waktu tidak boleh terlalu lama, cukup 30 menit sehari. Bisa berupa olah raga kardio, keseimbangan maupun ketahanan otot, yang waktunya bisa diatur dalam jadwal seminggu,” ucapnya.
Pemilihan jenis olah raga, menurutnya juga harus disesuaikan dengan kemampuan lansia. Atau mempertimbangkan gejala penyakit yang diidap.
“Jenis kegiatannya bisa berupa jalan kaki di pagi hari, seperti di CFD ini. Atau kalau yang masih kuat, bisa berlari-lari kecil. Ada juga beberapa yang memilih kegiatan berenang, karena berenang cenderung memiliki risiko cidera yang lebih kecil dibandingkan berlari atau bersepeda,” paparnya.
Untuk para lansia yang mengalami gejala stroke atau yang baru saja mengalami cidera, tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan olah raga di luar rumah.
“Di rumah juga bisa melakukan aktivitas fisik. Jangan berpatokan kalau aktivitas fisik itu hanya olah raga di luar rumah saja. Misalnya, jalan di dalam rumah itu juga aktivitas fisik. Menggerakkan tangan dan kaki, itu juga merupakan aktivitas fisik. Terutama bagi lansia yang harus melemaskan ototnya terkait penyakit dideritanya,” kata Hendro.
Ia menegaskan, bahwa tidak ada alasan untuk berhenti beraktivitas hanya karena tua, atau setelah mengalami stroke atau cidera.
“Malah harus tetap bergerak, supaya otot lemas dan darah mengalir. Kalau hanya diam saja, malah akan membuat badan makin terasa sakit. Anak-anak maupun cucu dari para lansia harus terus menyemangati orang tua mereka untuk sehat. Dengan cara, ajak mereka untuk terus beraktivitas,” pungkasnya.