Nenek Iin Koleksi Seribu Lebih Ular di Rumahnya
Editor: Koko Triarko
PURWOKERTO – Jangan kaget saat masuk ke rumah Nenek Iin Ayu (55), di Kelurahan Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sebab, akan disambut dengan ratusan kotak berisi ular, serta kandang ular besar berkaca transparan. Ibu tiga anak ini mengaku merasa nyaman saat bermain bersama ular-ular peliharaannya.
Terkait hobi uniknya ini, Iin mengaku sudah menyukai ular sejak remaja. Saat usia 15 tahun, ia kerap menangkap ular sawah dan membawanya dalam tas. Ke mana pun pergi, ular tersebut dibawanya.
“Ular itu kan tidak berisik, jadi awalnya keluarga saya, bapak dan ibu tidak tahu kalau saya suka membawa ular ke rumah,” kata Iin di rumahnya, Selasa (17/12/2019).
Hobinya bermain dengan ular ini, berlanjut hingga ia menjadi pecinta ular dan mengkoleksi bermacam-macam jenis ular di rumahnya. Mulai dari jenis ular yang berbahaya, seperti ular King Cobra, Kobra Jawa, ular Weling dan lain-lain, hingga ular yang tidak berbahaya seperti ular Sanca, ular Siput, ular Pelangi, ular Fiber dan banyak lagi.
Untuk ular yang berkuran besar dengan panjang lebih dari 6 meter, Iin membuat kandang khusus terbuat dari kaca dengan ukuran panjang 2 meter dan lebar 1 meter. Sementara ular yang berukuran kecil, ditempatkan pada kotak-kotak plastik secara terpisah.
“Kemarin ular Fiber baru menetas cukup banyak, sehingga banyak ular kecil sekarang,” tutur Iin, sambil mengeluarkan beberapa koleksi ularnya dan melingkarkan di tubuhnya.
Kebiasaan Iin ini ternyata menular kepada anak dan cucunya. Bahkan cucu Iin, Kirey, sewaktu masih berusia 2 tahun, paling suka masuk ke kandang ular King Cobra. Padahal, King Cobra merupakan salah satu jenis ular yang mematikan, kandungan racunnya bisa menghancurkan sel-sel tubuh manusia dan merusak sistem syaraf.
“Cucu saya itu belum mau makan, belum mau mandi kalau belum masuk kandang King Cobra, karena berbahaya, sebab masih usia 2 tahun, akhirnya ular King Cobra sempat saya ungsikan ke rumah teman. Sekarang cucu saya sudah berusia 7 tahun dan setiap hari membantu saya membersihkan kandang ular atau pun memberi makan,” terangnya.
Dalam urusan makan ular peliharaannya, Iin mengaku harus mengeluarkan uang cukup banyak, namun ia enggan memberi tahu jumlahnya.
Ia hanya merinci, untuk makan ular Sanca peliharaannya yang panjangnya 6 meter, satu kali makan 15 ekor ayam yang ukuran 1,5 -2 kilogram. Dan, ular Sanca tersebut makan dua minggu sekali. Sementara untuk ular lainnya, Iin harus menyediakan makanan mulai dari tikus putih, katak, hingga ikan. Dalam satu minggu, Iin membeli tikus putih dari peternak sebanyak 100 ekor. Harga satu ekor tikus sekitar Rp5.000.
“Satu ekor ular ada yang makan 10 ekor tikus, ada juga yang sampai 20 ekor tikus sekali makan, tikusnya yang putih. Kalau ular air, biasanya makan ikan, ada juga yang makan ular kecil-kecil,” tuturnya.
Iin juga bergabung dalam Komunitas Bawor (Banyumas Wong Reptil). Komunitas ini mempunyai visi mengedukasi masyarakat tentang ular, misalnya dengan berkeliling ke sekolah-sekolah dan menjelaskan tentang ular yang berbahaya dan tidak.
Anggota Komunitas Bawor, Ratno, mengatakan seluruh ular yang dipelihara anggota komunitas bukan merupakan ular terlarang yang termasuk jenis dilindungi. Sebagain besar ular berasal dari peternak dan ada beberapa yang merupakan hasil tangkapan.
“Kita tidak memelihara jenis ular yang dilindungi, karena kita juga memahami aturan. Ini sekadar hobi dan kita berusaha mengedukasi masyarakat supaya mengenal ular,” pungkasnya.