Kembangkan Jasa Fasilitasi, Tingkatkan Kualitas SDM Guru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

ENDE – Guru-guru yang bertugas di daerah terpencil termasuk di kabupaten Ende, Flores, NTT tentunya harus mendapatkan perhatian agar mereka juga bisa memperbaiki kualitas sumber daya yang dimiliki demi meningkatkan mutu pendidikan.

Untuk itu, Oswaldus A. Rhada yang sudah bergerak di bisnis layanan Fasilitasi dan Pembawa Acara atau Master of Ceremony (MC) selalu menyisihkan 50 persen pendapatannya untuk perbaikan kualitas guru.

“Saya membuka layanan fasilitasi dan MC dimana pendapatan yang saya dapatkan 50 persen dialokasikan untuk melakukan pelatihan dan uji kompetensi guru-guru di daerah terpencil,” kata Oswaldus, anak muda asal kabupaten Ende, Flores, NTT, Selasa (5/11/2019).

Oswaldus melihat sekarang sedang gencar-gencarnya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Berbicara mengenai SDM maka berbicara peningkatan kualitas guru karena guru yang berhubungan langsung dengan siswa.

Tamatan pendidikan guru dan sekarang bekerja sebagai kepala bagian Kredit Kopdit Kembang Puskopdit Flores Mandiri ini mengaku, termotivasi sejak SMP ikut seleksi fasilitator nasional dan lolos.

“Saya memfasilitasi karena itu bidang saya dan program ke depan yang dikembangkan terkait perencanaan keuangan keluarga dan orang muda,” jelasnya.

Akses informasi terkait pengetahuan dan infrastruktur di daerah terpencil, kata Oswaldus, masih sangat minim.

Selama ini Oster, lembaga yang dibentuknya masih fokus pada pemberdayaan orang muda dan sering melakukan diskusi dalam wadah  Orang Muda Bersama Masyarakat (Obama).

Pihaknya mengundang semua pemangku kepentingan untuk membahas sebuah permasalahan dan melakukan bedah kasus.

“Saya sudah bekerjasama dengan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat untuk melakukan fasilitasi. Kami mendorong orang muda untuk lebih berpikir kreatif dan menghadirkan pemateri hebat disesuaikan dengan kondisi terkini,” jelasnya.

Anak-anak muda di Flores kata Oswaldus, mempunyai kesempatan, pengetahuan dan keterampilan cuma jarang diberi stimulus atau sesuatu untuk mendorong mereka keluar dari zona nyaman.

Anak-anak muda menurutnya, lebih senang hal-hal yang instan serta tidak berjuang dan tinggal berharap mendapatkan warisan orang tua saja.

Dirinya mengakui, saat acara pernikahan dan hiburan serta kegiatan orang muda, biasanya dia selalu diundang.

“Saya melihat orang banyak yang menjadi guru meskipun dasar pendidikannya bukan pendidikan guru,” ungkap lulusan Universitas Flores tahun 2015 dari jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi ini.

Hal inilah menurut Oswaldus yang menjadi salah satu sebab guru-guru kurang kreatif dan inovatif sehingga minat-minat belajar anak murid masih rendah.

Lulusan Cum Laude ini menambahkan, Oster melakukan bedah kasus dan ketika bedah kasus ditemukan permasalahannya, maka di pelatihan dicari metode yang baru yang menyenangkan bagi guru dan siswa.

Semua guru sebutnya, dituntut untuk bisa menciptakan metode pembelajaran sesuai dengan kelas atau sekolahnya.

“Oster juga akan melakukan uji kompetensi dimana guru-guru yang sudah mendapatkan pelatihan akan dites kemampuannya apakah bisa melakukan aplikasi pengetahuan dan keterampilannya,”  tegasnya.

Oswaldus mengaku, sering melakukan tes kompetensi dan itu juga membantunya untuk terus belajar.

Paket yang ditawarkan bagi pelanggan berdasarkan validasi pasar LSM internasional membayar Rp.1 juta sampai Rp.1,25 juta per hari untuk setiap pelatihan yang dilakukan.

Dia mengakui memiliki fasilitator yang bekerjasama dengan oster dan berasal dari luar daerah. Ia juga percaya ketika mengemas metode pelatihan dengan bagus maka ada peningkatan kualitas guru.

“Guru rata-rata tidak mau berkembang sehingga kualitas dan kemampuan tidak terus diperbaiki. Mungkin juga pihak sekolah tidak memberikan kesempatan guru untuk belajar,” ujarnya.

Nando Watu, salah seorang anak muda yang selalu menjadi pembawa acara di Ende mengaku, banyak potensi anak muda di Ende yang perlu digali dan dikembangkan.

Menurut Nando, usaha fasilitasi dan pembawa acara juga merupakan bisnis yang menjanjikan untuk digeluti dan dikembangkan.

“Saya berharap semakin banyak anak muda yang terjun ke dunia bisnis dan apa yang dilakukan Oswaldus dengan menyisihkan pendapatan bagi pelatihan guru di daerah terpencil patut diacungi jempol,” pungkasnya.

Lihat juga...