Kemarau, 655 Hektare Sawah di Purbalingga Kering

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Musim kemarau yang sangat panjang tahun ini, menyebabkan area sawah seluas 655 hektare di Kabupaten Purbalingga mengalami kekeringan. Dan 17 hektare diantaranya mengalami puso.

Untuk memantik semangat para petani supaya tidak membiarkan lahan pertaniannya bero atau tanpa ditanami apapun, Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga mengadakan gerakan percepatan olah tanah (GPOT).

Dinas Pertanian mengajak para petani untuk mulai mengolah lahan dan menanaminya dengan tanaman yang tahan terhadap musim kering.

“Banyak tanaman yang bisa bertahan di musim kering, seperti kedelai, jagung dan lain-lain. Jadi kita mengajak para petani untuk tetap turun ke sawah dan mulai mengolah lahan, kemudian ditanami palawija yang tahan kering. Jangan sampai sawah dibiarkan begitu saja, karena pada akhirnya petani sendiri yang akan rugi, sebab tidak bisa menikmati hasil pertanian apa pun,” kata Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Kamis (24/10/2019).

Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Kamis (24/10/2019) mengajak para petani untuk melakukan gerakan percepatan olah tanah (GPOT). Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Mukodam menjelaskan, pihaknya merasa perlu untuk menggagas program gerakan percepatan olah tanah, sebab produktivitas petani di Purbalingga sangat menurun akibat kemarau.

Secara psikologis, lanjutnya, semangat petani untuk bercocok tanam menurun. Sehingga perlu dilakukan gebrakan, untuk mengembalikan semangat para petani.

“Mengerjakan sawah saat banyak air atau saat musim hujan, memang lebih mudah dan dari sisi pembiayaan juga lebih murah. Tetapi mengerjakan lahan pada musim kemarau juga bisa tetap menghasilkan, dengan catatan tanaman yang dipilih tepat,” terangnya.

Terlebih lagi, GPOT ini mendapatkan dukungan dan Kementrian Pertanian RI, karena setiap 100 hektar lahan yang dijadikan area GPOT dari Kementrian Pertanian memberikan bantuan sebulan Rp 20.000.000.

Dana ini dipakai untuk membantu pengairan, seperti saluran pengairan, bahan bakar (BBM) mesin penyedot air, operasional kantor maupun tenaga operator.

Sementara itu, Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan, dalam dua tahun terakhir Kabupaten Purbalingga selalu surplus beras.

Bahkan surplus beras terakhir di Kabupaten Purbalingga mencapai 69.000 ton. Diharapkan, para petani bisa tetap bertahan selama musim kemarau yang berkepanjangan ini.

“Semoga saja musim kemarau bisa segera berakhir dan tidak sampai mengganggu ketahanan pangan Purbalingga, meskipun ratusan hektare sawah terdampak kekeringan,” tuturnya.

Salah satu wilayah yang terdampak kekeringan adalah Desa Kembaran Wetan, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga.

Di desa tersebut luas area sawah mencapai 102 hektare dan 18 hektare diantaranya kering. Produksi rata-rata sebelum musim kemarau mencapai 6,3 hektar padi kering giling. Dan pada musim kemarau ini diperkirakan menurun.

Lihat juga...