Jambu Mete Ubah Hidup Petani Koja Doi di Sikka
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Petani desa Koja Doi yang menetap di pulau Besar di gugus pulau Teluk Maumere dulu hanya mengandalkan hasil kebun seperti jagung dan padi ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup sepanjang tahun.
Keadaan ini mulai berubah di tahun 1967 saat kepala desa dijabat La Mane Untu. Lelaki berusia 78 tahun ini pun mulai mengubah pola pertanian warga di pulau Besar yang hanya mengandalkan hasil ladang.
“Saya mulai menyuruh petani menanam tanaman umur panjang. Selain jambu mete, saya menyuruh petani menanam tanaman perkebunan seperti jati dan lainnya,” kata La Mane Untu, mantan kepala desa Koja Doi, kecamatan Alok Timur, kabupaten Sikka, NTT, Senin (7/10/2019).

La Mane katakan, dirinya datang dari Buton pulau Sulawesi hanya ingin menemui bibinya yang sebelumnya menetap di desa Koja Doi.
Saat melihat pulau Besar dari kapal, kebunnya besar-besar dan hijau. Dirinya berpikiran pasti para petaninya hidup berkecukupan dan masyarakatnya tidak kelaparan.
“Paman saya katakan, kau jangan katakan begitu. Saat musim paceklik di bulan Februari masyarakat bisa makan biji asam dan umbi-umbian karena kelaparan,” katanya.
Bahkan setelah menetap di Koja Doi La Mane menyaksikan sendiri kesulitan hidup para petani di desa ini.
Bulan Juli ungkapnya, petani sudah mulai menebang pohon dan membersihkan kebun serta bulan Desember baru mulai menanam. Bulan April panen, lalu setelah itu sampai bulan Juli tidak ada pekerjaan.
“Saat menjadi kepala desa tahun 1867, saya berjuang agar masyarakat bisa menanam tanaman umur panjang untuk meningkatkan taraf hidup para petani. Saya menyuruh petani menanam jambu mete dan kelapa,” ujarnya.
La Mene melihat kalau hanya jagung dan padi saja, kehidupan masyarakat tidak berkembang. Maka dia mengusahakan tanam kelapa tetapi saat itu banyak babi hutan sehingga gagal.
“Saya menyuruh petani menggantinya dengan mete, tanaman umur panjang lainnya dan berhasil,” ungkapnya.
Hanawi, kepala desa Koja Doi mengatakan, rata-rata petani di desa Koja Doi khususnya yang menetap di pulau Besar masih menggantungkan hidup dari bertani.
Namun warga pulau Besar kata dia, juga berprofesi sebagai nelayan. Ada juga yang memiliki kapal dan menggunakannya sebagai kapal penumpang untuk menambah penghasilan.
“Saat musim hujan masyarakat menanam di kebun hingga usai panen dan mencari hidup sebagai nelayan. Rata-rata warga desa Koja Doi hanya nelayan kecil dengan perahu ukuran 5 Gross Ton (GT),” ungkapnya.
Hanawi bersyukur dengan adanya tanaman mete sehingga bisa menambah penghasilan warganya.
Namun dirinya katakan, saat ini tanaman mete pun sering tidak berproduksi maksimal akibat cuaca yang tidak menentu dan ekstrem.
“Maka kami mengembangkan pariwisata agar masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” ujarnya.