Aptrindo Meminta, Subsidi untuk Solar Dihilangkan

Editor: Mahadeva

Gumilang Tarigan, Ketua Umum DPP Aptrindo, saat ditemui Cendana News, Rabu (30/10/2019) – Foto M Amin

BEKASI – Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), meminta pemerintah mencabut subsidi solar untuk diesel. Pencabutan dimaksudkan, untuk memangkas peyimpangan yang dimanfaatkan oknum tertentu atau mafia BBM.

“Subsidi yang diberikan pemerintah dalam bentuk solar mecapai Rp2.000. Kita minta subsidi tersebut dicabut saja,”kata Gumilang Tarigan, Ketua Umum DPP Aptrindo, saat menghadiri Rapat Pimpinan Daerah dan Seminar Odol, Rabu (30/10/2019).

Menurutnya, karena disaparitas harga yang begitu besar, mengakibatkan saluran distribusi solar menjadi terganggu. Dampaknya, banyak mafia bermain. Diilustrasikannya, harga subsidi dengan harga pasar jauh berbeda. Otomatis hal itu memicu terjadi penyimpangan di tengah rantai distribusi. Dispasritas harga mempermudah orang mencari keuntungan.

Pengusaha truk disebutnya, tidak mempersoalkan harga, asal kebutuhan terpenuhi. Tapi kondisi yang ada di lapangan, BBM subsidi sangat susah di jumpai. Banyak daerah seperti di Jawa dan Sumatera atau Kalimantan selalu kekurangan pasokan solar.

Tarigan menegaskan, pengusaha truk selama ini tidak bisa menikmati program subsidi BBM solar. Artinya, subsidi tersebut belum tepat sasaran. Untuk itu, disarankan dicabut saja dan pengusaha truk masih mampu membeli harga BBM dengan harga normal, asal bisa tersedia maksimal. “Subsidi BBM jenis solar dicabut dan bisa dialihkan ke program stimulus untuk peremajaan truk. Karena selama ini seperti biaya PPN atau biaya balik nama yang masih tinggi, harusnya bisa dibebaskan,” ujarnya.

Dia optimistis, jika subsidi solar dicabut, maka akan berdampak baik bagi usaha truk angkutan. Tapi tentu harus dialihkan pada hal positif lain, melalui program stumulus. Sehingga mampu menuntaskan masalah ODOL, seperti peremajaan kendaraan sesuai dengan program pemerintah.

Ketua DPD Aprindo DKI Jakarta, Mustadjab Soesilo Basuki, mengakui kesulitan mendapatkan BBM jenis solar. Terkadang, tersedia tetapi dibatasi pembeliannya, sehingga tidak bisa keluar dengan jarak tempuh yang jauh. “Jika tujuannya jauh, terkadang supir harus mengakali dengan belanja ke beberapa SPBU. Dan itu pun terkadang diberi syarat tertentu, seperti beli dexlite. Hal tersebut tentu memakan waktu,” tandasnya.

Untuk itu, diharapkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas BBM Bio Solar. “Subsidi dihilangkan, pengusaha masih sanggup untuk membelinya, asalkan  bahan bakar tersedia dengan baik,” paparnya.

Diakuinya dengan menghilangkan subsidi tidak akan mempengaruhi harga bahan baku. Menurutnya implementasi dari penarikan subsidi tidak berdampak besar bagi harga bahan baku. “Truk tidak menjadi penyumbang kenaikan bahan baku yang besar, hanya sebagian kecil saja,” pungkas Mustadjab.

Lihat juga...