21 Perguruan Tinggi Berkolaborasi Rumuskan ‘Socio-Ecopreneur’
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Para petinggi dari 21 perguruan tinggi negeri maupum swasta anggota Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) menghadiri agenda Presidential Meeting and NUNI Forum 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Berbagai rumusan terkait konsep Kompetensi Socio-Ecopreneur dan pentingnya kolaborasi antar anggota NUNI turut dibahas dalam agenda pertemuan tersebut.
Disampaikan Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd, saat ini tuntutan kolaborasi antar perguruan tinggi sudah tidak bisa lagi dihindari lagi.

“Kolaborasi dan kerjasama antar perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan mobilitas dosen, mahasiswa serta riset kolaboratif,” ucapnya saat membuka Presidential Meeting and NUNI Forum di ruang sidang senat UMM, Jumat (4/10/2019).
Menurutnya, salah satu misi dari NUNI sendiri adalah melakukan kolaborasi yang bisa memberikan kebermanfaatan bagi kemajuan bangsa.
Oleh karenanya NUNI di-branding sebagai komunitas perguruan tinggi yang memiliki komitmen kuat untuk memajukan bangsa, tentu dengan menggunakan kapasitas perguruan tingginya masing-masing.
“Oleh sebab itu dibutuhkam optimalisasi kolaborasi sehingga kedepan sudah harus mendesain kerjasama tidak hanya pada tataran institusi tapi juga pada tataran mahasiswa. Tujuannya tentu untuk membiasakan mahasiswa agar mau dan bisa berkolaborasi. Karena kita hadir di sini membawa misi kolaborasi untuk bersama-sama dalam rangka memajukan bangsa,” tandasnya.
Sementara itu berbagai pandangan dan masukan terkait konsep kompetensi Socio-Ecopreneur turut disampaikan oleh para pimpinan tinggi perguruan tinggi dalam forum tersebut.
Rektor Binus Malang, Dr Ir. Boto Situmpang MBP, mengatakan, agar tepat sasaran, penerapan Socio-ecoprenur harus melihat potensi yang ada di setiap daerah.
“Jika ingin menerapkan minor yang berbasis Socio-ecoprenur, maka harus melihat potensi yang ada dari masing-masing daerah asal perguruan tinggi. Agar strateginya bisa tepat sasaran, dan cocok pada stakeholder terkait. Seperti layaknya yang sudah diterapkan di BINUS,” akunya.
Lebih lanjut, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Universitas Atmajaya Yogyakarta, Pupung Arifin, mengusulkan terkait konsep kompetensi socio-ecopreneur agar terdapat skema kerjasama internasional perguruan tinggi. Sehingga skema ini dapat menambah penilaian dari Kemenristekdikti.
Sementara itu koordinator kolaborasi, Ardian Saputra, M.Si, menyebutkan, NUNI didirikan pada tahun 2011 yang diinisiasi oleh Binus untuk menyatukan PTN dan PTS dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat hingga saat ini ada 21 perguruan tinggi yang menjadi anggota NUNI.
“Ada tiga kegiatan dalam kolaborasi antar 21 perguruan tinggi tersebut yakni Faculty Mobility, Student Mobility dan Research Collaboration. Karena tiga kegiatan inilah yang dapat membawa Indonesia untuk bisa lebih maju ke Internasional,” pungkasnya.