108.313 Warga Maluku Masih Bertahan di Pengungsian

Editor: Koko Triarko

JAKARTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku, mencatat lebih dari 6.000 rumah rusak akibat gempa M 6,5 yang terjadi beberapa waktu lalu. Data BNPB per 3 Oktober 2019, pukul 16.00 WIB, mencatat rumah rusak 6.184 unit.

“Rincian rumah rusak dengan kategori berbeda, yaitu rusak berat 1.990 unit, rusak sedang 1.101 dan rusak ringan 3.093. Selain kerusakan di sektor pemukiman, jumlah fasilitas umum yang rusak sebanyak 56 unit,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, lewat keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Sementara itu, kata Agus, untuk korban meninggal dunia berdasarkan data BPBD Provinsi Maluku tercatat ada 34 orang. Sedangkan untuk luka-luka 149 orang, dan jumlah yang masih mengungsi hingga saat ini ada 108.313 orang.

“Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian warga yang mengungsi dan bukan korban belum memahami terkait status yang ditetapkan pemerintah setempat. Anggapan mereka, bahwa selama masa tanggap darurat masyarakat sebaiknya masih di tempat pengungsian,” ujarnya.

Kondisi  tersebut, lanjut Agus, mengakibatkan banyak pengungsi yang memutuskan tetap di pengungsian hingga masa tanggap darurat berakhir pada 9 Oktober 2019.

Sementara, bantuan logistik baik yang melalui posko provinsi, kabupaten maupun yang langsung turun ke lokasi pengungsian makin merata.

“BNPB masih terus membantu pemerintah daerah selama masa tanggap darurat. BNPB kembali memberikan bantuan dana siap pakai sebesar Rp1 miliar untuk operasional penanganan darurat,” ungkapnya.

Di samping itu, tambah Agus, logistik berupa tenda gulung 5.000 lembar, matras 3.500 dan selimut 5.000 akan diberangkatkan malam ini menuju Maluku. Terkait pelayanan kesehatan, BNPB mengerahkan 3 unit rumah sakit lapangan.

“Pemerintah daerah setempat dan mitra bergerak cepat melakukan kegiatan dukungan psikososial di beberapa titik. Di antaranya Liang, Waai dan Tulehu. Selain itu, pelatihan evakuasi gedung bertingkat juga diselenggarakan di Kota Ambon,” jelasnya. (Ant)

Lihat juga...