Wagub: Ada Dua Opsi Memulangkan Perantau Sumbar di Wamena
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyatakan bakal mempersiapkan kepulangan perantau Minang yang ada di posko pengungsian di Wamena, Papua. Setidaknya ada dua opsi yang disediakan sejauh ini untuk membawa perantau pulang ke Sumatera Barat.
Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, saat ini Ikatan Keluarga Minang (IKM) di Wamena, tengah mendata perantau yang ingin kembali ke Sumatera Barat.
Namun apabila nanti IKM melaporkan jumlah perantau yang ingin pulang itu kurang dari 200 orang, maka transportasi yang digunakan pesawat terbang dari Wamena – Padang. Tapi, apabila jumlahnya melebihi dari 200 orang, maka akan menggunakan transportasi laut.
Ia menjelaskan, alasan hanya bisa memfasilitasi jumlah di bawah 200 orang untuk pesawat, karena secara biaya untuk pembelian tiket pesawat 200 masih bisa diupayakan oleh Pemprov Sumatera Barat.
Sementara untuk alternatif menggunakan jalur laut, Pemprov Sumatera Barat akan melakukan koordinasi dengan pihak Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia), untuk bisa membantu mengangkut perantau Minang hingga sampai ke Padang.
“Untuk kapal ini, jika bisa diantarkan sampai ke Padang yakni ke Pelabuhan Teluk Bayur. Tapi apabila tidak bisa begitu, cukup diantarkan di Pelabuhan Tanjung Peruik Jakarta, setelah di sana akan dijemput dengan bus. Intinya, kami siap membantu kepulangan perantau ini,” tegasnya, usai jumpa pers sore ini, yang baru pulang dari Mawena, Senin (30/9/2019).
Wagub menjelaskan, apabila nanti perantau jadi pulang menggunakan kapal maka estimasi waktu yang dibutuhkan dari Wamena-Padang bisa memakan waktu kurang lebih satu minggu. Memang terbilang waktu yang lama berada di laut, tapi setidaknya pikiran mereka sudah mulai tenang karena telah keluar dari zona kerusuhan di Wamena.
Dikatakannya, saat ini Pemprov Sumatera Barat juga tengah mengumpulkan dana untuk kepulangan perantau tersebut. Melalui Rekening Bank Nagari atas nama Sumbar Peduli Sesama, masyarakat atau pun pegawai lainnya dapat mendonasikan ataupun mensedekahkan rezekinya untuk kepulangan perantau. Laporan sementara hingga sore ini, dana yang terkumpul di rekening sudah melebih Rp433 juta lebih.
“Kita lakukan cara donasi ini, bahkan besok malam bapak gubernur di Hotel Balairung Jakarta juga bakal melakukan kegiatan badoncek untuk mendapatkan tambahanan dana,” sebutnya.
Nasrul juga menyampaikan setelah berada dua hari bersama pengungsi di Wamena, warga Sumatera Barat telihat masih baik-baik saja, karena untuk logistik dan pengamanan diberikan langsung oleh TNI di Wamena.
Hanya saja, rasa trauma masih terlihat di wajah-wajah mereka. Tapi untuk hal ini, ada dokter psikiater yang bertugas di posko pengungsian, agar secara psikologi mereka itu bisa membaik dari waktu ke waktu.
“Dari yang saya lihat kondisi Wamena mulai membaik. Untuk fasilitas dan toko-toko milik perantau yang dirusaki oleh oknum itu, kini tengah didata juga oleh Kementerian PUPR, karena ada kemungkinan kementerian yang membantu membangunnya kembali,” ucapnya.
Untuk itu, mengingat kondisi di Wamena yang berangsur membaik, Wagub Sumatera Barat mengimbau kepada masyarakat khususnya di Sumatera Barat, jangan mudah terprovokasi dengan informaso-informasi yang tidak benar, terkait peristiwa yang terjadi di Wamena tersebut.
Menurutnya, apabila dihadapi kondisi yang demikian oleh masyarakat Sumatera Barat, maka bisa sewaktu-waktu dapat mengancam kondisi warga Sumatera Barat lainnya yang kini masih berada di Wamena.
Namun Nasrul lebih menekankan kepada masyarakat, agar kini fokus mempersiapkan dana untuk membawa pulang perantau ke kampung halamannya.
“Keinginan untuk pulang dari perantau itu, tentu kita wujudkan. Tapi bagi yang merasa masih bisa untuk bertahan, maka ada yang memilih tetap bertahan. Karena memang masyarakat dan pemerintah setempat menginginkan masyarakat pendatang di Wamena tetap ada,” jelasnya.
Jaga Hubungan Baik dengan Papua
Menurut Wagub, hal yang sepatutnya dilakukan dalam kondisi seperti saat ini, perlu untuk menjaga hubungan yang baik antara Sumatera Barat dengan Papua. Karena, oknum yang berbuat kerusuhan di Wamena Jayawijaya itu, bukanlah seluruhnya orang Papua, tapi adalah segelintir orang saja.
“Saya minta mari kita saling berdamai, mari jaga hubungan yang baik. Karena saat ini oknum yang melakukan kericuhan itu telah ditangani oleh aparat setempat. Semoga, ke depan Wamena kembali damai, dan perantau kita yang mencari nafkah di sana bisa hidup tenang,” ujarnya.
Wagub menceritakan dari hasil kunjungannya ke Wamena dua hari lamanya itu, di posko pengungsian tidak seluruhnya orang perantauan, tapi juga cukup banyak warga Wamena Papua yang ikut mengungsi, dan merasakan dampak trauma dari kerusuhan yang terjadi tersebut.
Bahkan, selama ini warga Wamena berbaur dengan pengungsi asal Sumatera barat, mereka saling berkomunikasi dengan baik, dan bahkan saling membantu.
“Sekarang, kita lakukan upaya pemulangan dulu, karena ada yang mengaku untuk menghilangkan trauma. Setelah itu dan apabila Wamena dinilai kondusif, terpulang kepada yang bersangkutan, ingin tetap di kampung halaman, atau kembali ke Wamena,” sebutnya.