Sarana dan Prasarana Pendidikan di NTT Masih Belum Memadai
Editor: Mahadeva
MAUMERE – Lembaga pendidikan di NTT, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT), masih terkendala sarana dan prasarana yang belum memadai.
Hal itu menjadi tugas pemerintah, demi peningkatan kualitas lulusannya. Pemerintah pusat diminta membantu keberadaan lembaga pendidikan di NTT, dalam hal peningkatan kualitas saran dan prasarana.
“Saat masih di Komisi V DPR RI, yang membidangi infrastruktur, kita sudah memperjuangkan agar lembaga-lembaga pendidikan di NTT minimal bisa dibantu pemerintah,” kata Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Senin (2/9/2019).
Josef menyebut, perjuangan tersebut dilakukan, hingga akhirnya Seminari Tinggi Ritapiret dan Ledalero bisa mendapatkan bantuan rumah susun. Untuk di Ritapiret, saat sarana tersebut sudah selesai dibangun dan sidah dipergunakan.
Sementara yang di Ledalero masih dalam proses pembangunan. “Makanya saya datang untuk melihat secara langsung proses pembangunannya saat ada kegiatan di Maumere. Kita berharap pekerjaan bisa selesai sehingga di Desember bisa diresmikan,” tandasnya.
Tercatat, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Seminari Tinggi St.Paulus Ledalero, dan Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, sudah menghasilkan banyak awam dan pastor. Alumnusnya tersebar di seluruh dunia. Dan Josef termasuk produk dari Ledalero.
Disebutnya, wajib hukumnya bagi pemerintah melakukan intervensi terhadap kualitas sarana dan prasarana sekolah termasuk PT di NTT. “Dalam kepemimpinan kami, tidak ada lagi dikotomi sekolah negeri dan swasta, semua sama. Sebelum ada sekolah negeri, di Flores pihak gereja yang pertama membangun sekolah dan rumah sakit,” ungkapnya.
Sistim pendidikan di sekolah yang ada di bawah naungan agama, termasuk agama Katolik. Terutama produk kongregasi SVD, sangat berjasa. Mereka telah satu abad lebih mendirikan dan mengelola sekolah di NTT. “Salah satu hal yang ingin diadopsi pemerintah NTT adalah adanya asrama di perguruan tinggi. Tingkat sains anak NTT menurut penelitian World Bank paling tinggi di Indonesia, dengan sebesar 1,8 sementara di tingkat nasional baru 1,1,” terangnya.

Pater Dr.Otto Gusti Madung, SVD Ketua STFK Ledalero, mengaku senang mendapat bantuan rumah susun dari pemerintah. Ini pertama kalinya, pemerintah membantu rumah susun bagi lembaga pendidikan tertua di NTT tersebut. “Sudah banyak alumni yang bekerja sebagai imam dan tersebar di seluruh dunia. Di luar negeri saja, ada sekitar 500 orang imam, sementara kaum awam banyak juga yang memegang jabatan penting di berbagai lembaga pemerintah,” terangnya.
Rumah susun yang dibangun merupakan bangunan 3 tiga lantai, dengan daya tampung 130 kamar. Rumah susun akan dimanfaatkan untuk asrama para frater. Saat ini ada sekira 300 frater, yang bersekolah di seminari tinggi St.Paulus Ledalero. Diharapkan di awal 2020, fasilitas tersebut sudah bisa dipergunakan.
“Asrama ini untuk seminari tinggi St.Paulus Ledalero. Sekalipun lembaga ini merupakan lembaga agama Katolik, tetapi nilai dasar yang diperjuangkan dan dibina sejak awal nilai-nilai yang mempersatukan, universal,” pungkasnya.