HY-Fat, Mengoptimalkan Hasil Tangkapan Nelayan
Editor: Mahadeva
MALANG – Berawal dari curahan hati para nelayan yang semakin sulit mendapatkan ikan, lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menciptakan Hybrid Fish Attractor (Hy-Fat).
Sebuah alat, untuk menggantikan fungsi rumpon tradisional dalam menangkap ikan. Ke-lima mahasiswa tersebut adalah, Afis Balqis Syaifudin, Ahsan Thoriq, Mastika Marisa Hani Ulfa, Ridhoatul Adha dan Ardi Lestari.
Ketua tim, Afis Balqis Syaifudi, menjelaskan, Hy-fat merupakan modifikasi dari alat-alat yang sudah digunakan nelayan. Modifikasi dilakukan, karena rumpon tradisional membutuhkan biaya sangat besar untuk membuatnya. Sedangkan hasil tangkapannya tidak maksimal.
“Misalkan dalam pembuatan satu rumpon tradisional biayanya bisa sampai Rp2 juta, itupun cuma sekali pakai. Karena memang mereka masih menggunakan alat tradisional seperti bambu dan daun kelapa,” jelasnya.
Pada umumnya, untuk membuat rumpon nelayan tradisonal menggunakan bambu sebagai pelampung. Sedangkan untuk attractor ikan, terbuat dari daun kelapa. Sifat dari bahan tersebut adalah sekali pakai, sehingga setelah dipakai langsung dibuang ke laut.
Sampah dari tersebut juga dapat merusak ekosistem laut. “Untuk itu, kami berlima berinisiatif membuat sebuah inovasi untuk mengubah pelampung tersebut dengan pipa yang telah dimodifikasi dengan diberi foam, agar ketika ditabarak oleh kapal tidak pecah,” jelasnya.
Kemudian untuk daun kelapa, diganti menggunakan ijuk. Keberadaanya, sebagai ekosistem buatan untuk media ikan bertelur dan tempat mencari makan. Sedangkan attractor berupa cahaya lampu led, sebagai penarik ikan mendekat.
Menurut Afis, Hy-Fat memiliki banyak keunggulan daripada rumpon tradisional, diantaranya tangkapan ikan lebih banyak. Dampaknya, waktu yang dibutuhkan untuk menangkap ikan jauh lebih singkat.
“Jika memakai alat rumpon tradisonal, butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapat ikan. Namun dengan Hy-Fat, berdasarkan hasil uji coba yang sudah dilakukan, cukup dalam hitungan jam, ikan-ikan sudah berkumpul dan tinggal ditangkap sehingga hasil tangkapannya bisa dioptimalkan,” terangnya.
Dengan rumpon tradisional, nelayan hanya mendapatkan 300 sak ikan. Dengan Hy-Fat, mereka bisa membawa pulang 500 sak ikan, untuk sekali melaut. Hal itu dikarenakan, Hy-fat dilengkapi dengan lampu LED berwarna hijau, yang akan menarik ikan untuk berdatangan.
Selain itu Hy-fat juga lebih mudah dalam perawatannya karena bahan yang digunakan lebih tahan dalam kondisi apapun. “Jika rumpon tradisional sifatnya sekali pakai buang, Hy-Fat lebih tahan lama, dan bisa digunakan maksimal sampai dengan lima kali pemakaian,” jelasnya.
Untuk pengaplikasiannya, sama dengan rumpon tradisional. Hy-Fat diletakkan di tengah-tengah perairan laut, kemudian ditunggu ikannya berkumpul sehingga bisa ditangkap.