Pasca-gempa, Ada 475 Gempa Susulan di Maluku
Editor: Mahadeva
JAKARTA – Merujuk pada aktivitas kegempaan, hingga Sabtu (28/9/2019), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, setidaknya sudah ada 475 kali gempa susulan di Maluku.
Sebanyak 64 gempa, dirasakan di Kairatu, Ambon dengan V MMI, di Masohi dengan III MMI, dan di Banda dengan II MMI. “Sehubungan dengan kondisi pascagempa, BMKG meminta masyarakat agar tidak terpancing isu atau berita bohong yang beredar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarluaskan melalui kanal informasi yang resmi,” kata Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, Sabtu (28/9/2019).
Menurut Agus, BMKG telah menyatakan isu yang menyebut akan terjadi gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah tidak benar atau berita bohong (hoaks). Hingga saat ini, belum ada teknologi yang dapat memprediksi terjadinya gempabumi dengan tepat, dan akurat kapan, dimana, dan berapa kekuatannya.
“Sehubungan dengan alat deteksi dini tsunami, BNPB tidak memiliki rencana untuk membangun alat deteksi tsunami. Di pihak lain, Badan Informasi Geospasial (BIG) telah berencana membangun tujuh stasiun pasang surut di wilayah Maluku,” ungkapnya.
Hal itu disebut Bagus, sebagai salah satu komponen Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), yang berfungsi untuk mengukur tinggi gelombang pasang surut. Sedikitnya ada 20 korban yang dinyatakan meninggal dunia pascagempa bermagnitudo 6,5 di Ambon pada 26 September 2019 lalu, berdasarkan data terbaru yang dihimpun BPBD Provinsi Maluku hingga Sabtu (28/9/2019). “Korban tersebut masing-masing terbagi di tiga wilayah kabupaten dan kota di antaranya, delapan korban di Kota Ambon, 10 korban di Kabupaten Maluku Tengah dan dua korban di Kabupaten Seram Bagian Barat,” jelasnya.
Kemudian untuk korban luka-luka, BPBD Provinsi Maluku mencatat ada 108 jiwa di Kabupaten Maluku Tengah, 13 jiwa di Kabupaten Seram Bagian Barat dan 31 jiwa di Kota Ambon. Total keseluruhannya ada 152 jiwa korban luka.
Sedangkan data sementara warga yang mengungsi hingga saat ini menjadi 25.000 jiwa. “Selain itu, gempa dengan pusat kedalaman 10 kilometer yang tidak berpotensi tsunami tersebut juga mengakibatkan 534 rumah rusak, kemudian 12 unit rumah ibadah, delapan kantor pemerintahan, enam sarana pendidikan, satu fasilitas kesehatan, satu pasar, dan satu jembatan yang juga dinyatakan rusak,” sebutnya.
Hingga saat ini kebutuhan mendesak yang dibutuhkan untuk para pengungsi maupun korban luka-luka meliputi, tenda, terpal, makanan dan minuman, makanan bayi, makanan instan, obat-obatan. Kemudian, popok bayi, pembalut wanita, selimut, matras, alat penerangan, tandon air, sarana MCK, pelayanan kesehatan dan psikologi, hingga bahan bakar minyak.
“Sementara itu BPBD Provinsi Maluku dibantu tim gabungan telah melakukan kaji cepat dan berkelanjutan serta berkoordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota di tiga wilayah paling terdampak yakni Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kabupaten Maluku Tengah,” pungkasnya.