Pakan dan Lahan Masih Jadi Kendala Usaha Budidaya Lele di Bantul

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Tingginya harga pakan serta terbatasnya kapasitas pembudidayaan, masih menjadi persoalan utama usaha budidaya ikan air tawar di kabupaten Bantul Yogyakarta untuk berkembang.

MF Susilartati kepala UPT Balai Budidaya Ikan Barongan Jetis Bantul. Foto : Jatmika H Kusmargana

Kepala UPT Budidaya Benih Ikan Barongan Jetis Bantul Yogyakarta, MF Susilarti mengatakan, kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah penghasil ikan air tawar yang cukup besar. Khususnya jenis lele. Hal itu dikarenakan lele bisa dibudidayakan hampir di semua wilayah kecamatan yang ada.

“Di Bantul ini memang paling banyak adalah budidaya lele. Karena pemeliharaan bisa dilakukan di daerah-daerah tanpa aliran air. Beda dengan nila yang memang membutuhkan kolam dengan aliran air seperti di daerah Banguntapan, Sewon, Imogiri atau Pandak,” katanya, Selasa (10/09/2019).

Sayangnya menurut Susi, mayoritas usaha budidaya ikan lele di kabupaten Bantul masih merupakan skala kecil. Dimana banyak pembudidaya hanya memanfaatkan kolam budidaya dalam jumlah yang minim. Sehingga berdampak pada tingkat efektivitas proses pembudidayaan itu sendiri.

“Dari sisi hitung-hitungan tidak masuk. Apalagi harga pakan untuk usaha budidaya ikan lele cukup mahal. Jika kapasitas usaha yang dijalankan masih kecil, tentu tidak akan bisa menghasilkan keuntungan signifikan,” kayanya.

Kendala lain yang juga dihadapi para peternak atau pembudidaya ikan di Bantul, adalah terkait harga jual komoditas hasil panen itu sendiri. Dimana di tingkat petani selalu ditentukan oleh para pedagang yang mengikuti harga pasar sehingga tidak stabil.

“Peternak selama ini hanya bisa menjual hasil panen sesuai yang ditetapkan pedagang. Padahal jika ikan hasil panen dari luar daerah masuk ke sini, pasti nilai jualnya akan jatuh. Itu yang biasanya membuat peternak merugi, karena sudah mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Sementara itu terkait benih sendiri, banyak peternak selama ini memanfaatkan Unit-Unit Pembenihan Rakyat (UPR) untuk menyuplai kebutuhan mereka. Di kabupaten Bantul jumlah UPR ini cukup banyak dan sudah mampu memenuhi kebutuhan bibit di tingkat peternak.

“Karena banyak bibit sudah diproduksi oleh UPR-UPR yang ada maka kita dari BBI memang tidak memproduksi lele. Kita lebih fokus pada penyediaan bibit di luar lele seperti nila, karena memang untuk nila belum banyak UPR yang memproduksi,” pungkasnya.

Lihat juga...