Kerajinan Sabut Kelapa Jadi Tumpuan Warga Sendangsari

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Terletak di kawasan perbukitan, desa Sendangsari, Pengasih, sepintas terlihat tak ubahnya seperti desa-desa lain di Kulonprogo. Salah satu yang membedakan adalah pekerjaan yang dilakukan warganya sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Selain bertani, mayoritas warga di desa Sendangsari bermata pencaharian sebagai pengrajin rumahan. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, sebagian besar warga telah memulai usaha pembuatan kerajinan dari bahan sabut kelapa. Hingga hari ini, usaha itu masih tetap eksis.

Salah satu penerus usaha kerajinan sabut kelapa itu adalah Iriani (60), warga dusun Klegan. Ia mulai meneruskan usaha milik ayahnya sejak 1995 silam. Siapa sangka usaha ini mampu bertahan dan bisa menghidupi ratusan warga desa lainnya.

Membuat berbagai jenis kerajinan mulai dari sapu, keset, matras hingga sulak, Iriani setidaknya mampu memproduksi 1.000 buah setiap harinya. Berbagai kerajinan itu ia kirim hingga ke luar daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

“Semua kerajinan sabut kelapa disini dibuat secara manual oleh warga sekitar. Saat ada waktu luang, masyarakat biasanya akan membuat sabut kelapa di rumah masing-masing untuk kemudian disetor ke sini. Ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Sejak zaman ayah saya,” katanya.

Proses pembuatan kerajinan sabut kelapa sendiri ternyata memerlukan waktu yang sangat panjang. Sabut kelapa harus dikumpulkan dan direndam di dalam kolam-kolam berisi air terlebih dahulu selama hampir 3 bulan lamanya. Hal ini dimaksudkan agar sabut kelapa memiliki kekuatan dan kelenturan.

Iriani (kanan) warga dusun Klegan Sendangsari Pengasih Kulonprogo tengah membuat sapu dari bahan sabut kelapa, Selasa (10/9/2019). Foto: Jatmika H Kusmargana

Setelah direndam selama tiga bulan, sabut kelapa kemudian harus ‘digembut’ atau dilemaskan dengan cara dipukul-pukul menggunakan kayu agar hilang bubuknya dan menyisakan serabutnya saja. Proses selanjutnya adalah pencucian dan penjemuran. Setelah melewati semua itu, baru bisa digunakan sebagai bahan baku kerajinan seperti sapu, keset hingg matras.

“Proses belum selesai sampai disitu. Setelah dianyam, sabut kelapa masih harus direbus dan diwarna terlebih dahulu. Sehingga benar-benar kuat, awet dan terlihat menarik untuk dijual,” katanya.

Salah seorang warga, Parjiyah (54) mengaku sudah belasan tahun menjadi pengrajin sabut kelapa. Ibu rumah tangga ini biasa menganyam menjadi berbagai produk rumah tangga seperti sapu atau keset saat memiliki waktu luang. Dari menganyam sapu, ia mendapatkan upah sebesar Rp1000 per bijinya.

“Kalau sedang senggang saya bisa membuat 50-60 buah sapu dalam sehari. Sehingga rata-rata saya sehari bisa mendapatkan hasil Rp50-60 ribu. Sangat lumayan buat mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.

Lihat juga...