KAI Divre II Sumbar Beri Ruang UMKM Pasarkan Produk
Editor: Koko Triarko
PADANG – PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Divre II Sumatra Barat, menghadirkan berbagai produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kawasan Stasiun Padang, berupa makanan khas Minangkabau, seperti rendang, keripik balado, dan lainnya.
Kepala Divre II Sumatra Barat, Insan Kesuma, mengatakan, ada lima pelaku UMKM yang berjualan produk khas Minangkabau. Mereka merupakan mitra binaan UMKM PT. KAI Divre II Sumatra Barat, dari 18 UMKM yang kini menjadi mitra binaan.
“Hadirnya UMKM mitra binaan kita ini, sebenarnya merupakan kegiatan Bazar UMKM seiring HUT ke-74 PT. KAI (Persero). Tentunya, sembari HUT PT. KAI, dengan adanya pelaku UMKM, KAI turut mempromosikan dan membantu penjualan kepada calon penumpang yang datang di Stasiun Padang ini,” katanya, Rabu (25/9/2019) petang.

Dikatakan, kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian PT. KAI terhadap UMKM lokal, khususnya di Kota Padang. Melalui CSR PT. KAI Divre II Sumatra Barat, agar keberadaan UMKM mudah dijangkau oleh para calon penumpang KA yang ada di Stasiun Padang, dengan menyediakan sebuah tempat yang berada di dalam stasiun.
“Kegiatan ini kita laksanakan selama 29 hari, dari tanggal 14 September – 12 Oktober 2019, mendatang. Pelaku UMKM adalah pelaku usaha home industry dan pedagang. Produknya itu ada rendang, keripik balado, minuman segar sup buah, dan perajin sepatu kulit,” ucapnya.
Insan berharap, para calon penumpang di Stasiun Padang bisa datang dan berbelanja di bazar yang ada tersebut, sembari menunggu kereta api berangkat. Karena pelaku UMKM itu sudah mulai berjualan sejak pagi hingga pukul 17.00 WIB.
Salah seorang pelaku UMKM yang berkesempatan memasarkan produknya di Stasiun Padang, Amida, mengatakan, suatu kesempatan yang amat berarti, bisa berdagang di dalam kawasan stasiun. Ia merupakan UMKM binaan KAI yang baru berjalan 4 bulan ini. Melalui binaan dengan cara memberikan modal usaha, usahanya bisa dikembangkan dari kondisi sebelumnya.
“Saya berjualan sepatu kulit yang saya produksi sendiri dengan merk Adel Shoes. Kini, sejak saya membuka dagangan di bazar ini, alhamdulilah rata-rata per hari bisa terjual dua pasang sepatu dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per satu pasang,” ujarnya.
Dikatakan, usaha sepatu kulit telah dijalaninya sejak 2014. Selama ini, usaha sepatunya belum mendapat kesempatan memasarkan produk di kegiatan yang dinilai memiliki pangsa pasar yang menjanjikan, seperti di Stasiun KA Padang.
Menurutnya, dengan adanya binaan dari PT. KAI tersebut, target ke depan bisa memperluas jangkauan pasar. Karena melalui pinjaman modal usaha dari CSR sebesar Rp30 juta, ia bakal menambah sejumlah peralatan memproduksi sepatu kulit, serta menambah tenaga kerjanya.
“Saya akui, penjualan sepatu itu tren sekarang lagi merosot. Maka, adanya momen seperti bazar ini, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Saya berharap, PT. KAI bisa mengajak pelaku UMKM binaannya ke berbagai kegiatan yang lebih besar lagi,” sebutnya.