Berbisnis Sambil Lestarikan Makanan Tradisional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BANYUMAS — Tak selamanya berbisnis hanya sekedar mengejar keuntungan semata. Seperti yang dilakoni Ibu Tarmini (50), warga Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Ia puluhan tahun berjualan wajik dan ketan, dengan tujuan agar makanan tradisional tersebut tidak dilupakan oleh anak-anak jaman sekarang.

Penjual wajik-ketan, Ibu Tarmini. (FOTO : Hermiana E.Effendi)

“Kalau keuntungan tidak seberapa, hanya kisaran puluhan ribu per hari, tetapi saya senang menjalani usaha ini. Anak-anak di sini tetap bisa menikmati jajanan tradisional setiap hari,” tutur ibu tiga anak ini, Selasa (17/9/2019).

Tarmini menuturkan, awal ia memutuskan menekuni berjualan wajik dan ketan yang dikemas dalam bakutan daun pisang ini, karena merasa prihatin melihat anak-anak di desanya setiap hari mengkonsumsi jajanan modern. Aneka jajanan cepat saji memang sudah menjamur, termasuk di Desa Sambirata yang sebenarnya cukup jauh jaraknya dari kota.

Tarmini berkeyakinan, makanan tradisional seperti wajik dan ketan tidak kalah enak dengan jajanan cepat saji. Selain itu juga lebih lama membuat perut kenyang dan yang pasti sehat tanpa bahan pengawet.

Wajik dan ketan, dikemas dalam ukuran sedang dengan dibungkus daun pisang. Satu potong dijual dengan harga Rp 2.500. Awalnya Tarmini hanya menjual dagangannya di rumahnya sendiri. Setelah melihat dagangannya cukup laku, ia kemudian menambah produksi dan mulai menitipkan ke warung-warung di desanya.

Saat ini, usaha yang dirintis sejak tiga tahun lalu ini, sudah memiliki pelanggan 10 warung di desanya. Setiap harinya, ia memproduksi 10 kilogram ketan dan 10 kilogram wajik.

Untuk mengolah makanan tradisional ini cukup memakan waktu. Pertama beras ketan direndam terlebih dahulu selama kurang lebih tiga jam. Setelah itu, dicuci bersih dan baru dikukus.

Tarmini memulai aktivitasnya sejak dini hari, sehingga pagi hari jajanan wajik dan ketan sudah selesai dikemas dan langsung diantarkan ke warung-warung langganannya. Suka-duka dalam berbisnis makanan tradisional sudah dialaminya berkali-kali.

“Makanan ini tanpa bahan pengawet, sehingga harus habis setiap hari. Kalau tidak habis, untuk jajanan ketan, biasanya saya goreng. Tetapi kalau untuk wajik, tidak bisa diolah lagi, karena itu saya tidak berani produksi dalam jumlah besar,” katanya.

Meskipun begitu, Tarmini tetap bersemangat menjalani bisnisnya, demi mengenalkan jajanan tradisional kepada anak-anak.

Lihat juga...