Budi Daya Burung Murai Batu, Menguntungkan

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Seorang pensiunan pegawai rumah sakit, Suharto, akrab disapa Pak Harto, warga Dusun Sangunan, Banyuraden, Gamping, Sleman, sukses membudidayakan burung Murai Batu di pekarangan rumahnya. Dari memelihara burung kicauan itu, ia pun rutin memperoleh penghasilan tambahan hingga jutaan rupiah setiap bulannya. 

Suharto mengaku mulai tertarik membudidayakan burung Murai Batu sejak 2016. Sebelumnya, ia pernah mencoba membudidayakan sejumlah burung lain, seperti Lovebird dan Kenari. Namun, akhirnya ia memilih Murai Batu, karena dinilai paling menguntungkan.

“Saya sempat membudidayakan burung Lovebird, namun gagal. Lalu, saya beralih ke Kenari. Tapi baru setahun, ternyata harganya jatuh. Dari situ, saya mencoba cari burung yang harganya stabil. Hingga akhirnya saya memilih membudidayakan burung kicauan, Murai Batu,” katanya saat ditemui Cendananews Rabu (21/08/2019).

Pak Harto nekat membudidayakan burung Murai Batu, meski tak pernah memiliki pengalaman memelihara burung kicauan jenis itu sebelumnya. Ia mengaku melakukan penangkaran sendiri di rumahnya, berdasarkan coba-coba dan mencari ilmu dengan cara bertanya-tanya kepada peternak lain.

“Awalnya saya beli murai di pasar burung seharga Rp800 ribu dan Rp1,25 ribu. Lalu, saya masukkan ke kandang polier dan coba jodohkan. Meski tanpa memiliki ilmu soal penangkaran sama sekali, ternyata bisa jodoh dan setelah 1,5 tahun bisa bertelur, bahkan menetas. Meskipun, akhirnya anakan mati,” ceritanya.

Dari situ, Suharto tertantang membuat anakan yang sudah bisa ditetaskan itu hidup hingga besar. Dengan cara bertanya-tanya pada para pedagang burung di pasar, ia pun memperoleh ilmu yang ia butuhkan. Misalnya, tanda-tanda jika burung bertelur, menetas, atau pun bagaimana meloloh (menyuapi )anakan yang baru berumur beberapa hari.

“Sebagai peternak, kita harus tahu kapan burung bertelur. Lalu, kapan menetas. Sehingga saat anakan burung sudah berumur sekitar 1 minggu, bisa kita ambil untuk kita loloh sendiri,” katanya.

Kini, Suharto memiliki sedikitnya 3 jenis burung murai, yakni murai Borneo, Lampung, Medan dan Nias. Dari 6 pasang indukan yang ia miliki, 3 di antaranya sudah rutin produksi.

Dalam sebulan, sepasang burung murai miliknya bisa menghasilkan 2-3 anakan, dengan harga jual Rp1,2-1,5 juta per ekor, tergantung kualitas dan jenis.

“Siklus burung murai dari bertelur sampai bertelur sekitar 30 hari. Yakni, 14 hari mengeram. Setelah menetas dan usia anakan umur 7 hari, bisa kita ambil. Selang 7 hari, indukan sudah bisa bertelur lagi,” katanya.

Meski telah sukses membudidayakan burung murai, Suharto mengaku bukan tanpa kendala. Beberapa kali, ia bahkan harus mengalami kegagalan karena sang indukan mati saat hendak dijodohkan. Hal itu karena sifat alami burung murai yang suka bertarung saat sedang birahi.

“Paling sulit itu saat menjodohkan. Sehingga harus sabar. Karena jika tidak diawasi, induk betina bisa diserang si jantan hingga mati. Bahkan, jika sudah jodoh pun, saat birahi kadang si jantan juga suka menyerang si betina. Jadi, memang sebagai peternak kita harus jeli,” katanya.

Lihat juga...