BOC X 3 Diharap Mampu Kurangi Kecelakaan Penderes di Banyumas
Editor: Koko Triarko
BANYUMAS – Angka kecelakaan penderes nira di Kabupaten Banyumas, masih sangat tinggi. Setiap tahun, rata-rata terjadi 160 kecelakaan penderes, dan separuh di antaranya meninggal dunia. Sehingga rata-rata ada 80 penderes yang meninggal dunia dan 80 penderes mengalami cacat fisik dalam satu tahun di Kabupaten Banyumas.
Bupati Banyumas, Ahmad Husein, mengaku sangat prihatin akan kondisi keselamatan penderes tersebut. Mengingat jumlah penderes di Banyumas cukup banyak, yaitu mencapai 20.000 lebih. Karenanya, berbagai upaya dilakukan untuk menghindarkan penderes dari kecelakaan kerja.

“Saya sangat mengapresiasi alat yang dibuat oleh pendamping penderes ini, tadi sudah diuji coba, alat ini bisa digunakan pada pohon kelapa yang lurus maupun bengkok, dan saat penderes terpeleset hingga lepas pegangan tangan dari pohon, mereka tidak jatuh, tetapi menggantung di alat tersebut,” kata Bupati, usai menyaksikan uji coba alat keselamatan bagi penderes yang tergabung dalam Kelompok Cikal Mas, Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Senin (26/8/2019).
Alat yang diberi nama BOC X3 ini, merupakan rangkaian alat keselamatan panjat tebing yang dimodifikasi menjadi alat pengaman penderes.
Penggagas BOC X3, Agus Triyono mengatakan, alat tersebut dilengkapi dengan seat hames yang bisa menampung berat 1.200-2.000 kilogram. Sehingga, sangat aman bagi penderes.
“Kita membutuhkan waktu sampai 3 tahun untuk melakukan riset hingga tercipta alat BOC X 3 ini. Sebelumnya sudah pernah ada alat yang kita buat, tetapi belum menjawab kebutuhan penderes dan BOC X3 ini alat ketiga yang kita buat,” terangnya.
Pembuatan alat pengaman bagi para penderes ini, mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI) Purwokerto. Pada acara sosialisasi tersebut, BI Purwokerto memberikan 50 alat pengaman BOC X3 kepada Kelompok Tani Cikal Mas.
Kepala BI Purwokerto. Agus Chusaini, mengatakan, alat tersebut sudah diuji coba dan berjalan dengan aman. Hanya saja, masih perlu dilakukan beberapa perbaikan untuk pengembangan ke depannya. Selama satu bulan, alat tersebut akan dievaluasi dengan meminta masukan langsung dari para penderes yang sudah menggunakan alat pengaman tersebut.
“Kita juga sangat prihatin dengan tingginya angka kecelakaan kerja yang menimpa para penderes, sehingga dibutuhkan kepedulian semua pihak untuk penangannya. Untuk bantuan awal, dari BI kita berikan 50 alat pengaman,” kata Agus.